MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --
Kilas Daerah

Membasuh Sisa Semen di Tiga Hari Terakhir Bakti TMMD OKI

Membasuh Sisa Semen di Tiga Hari Terakhir Bakti TMMD OKI
Tiga hari jelang penutupan TMMD Ke-128 di OKI, Satgas Kodim 0402 dan warga kebut fase akhir rehab mushala. Dok. Pendim 0402

Rehabilitasi ruang spiritual di kawasan agraris Mesuji Makmur memasuki fase penyelesaian akhir. Di bawah terang lampu ruangan dan teras, hamparan keramik serta plafon yang telah tegak mulai dibersihkan secara swadaya oleh prajurit bersama warga, gambaran nyata gerak komunitas lokal dalam menyiasati keterbatasan pembangunan daerah.

OGAN KOMERING ILIR, NUSALY – Keheningan malam di Desa Pematang Sukatani, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, berganti menjadi ruang gotong royong yang senyap namun intens, Senin (18/5/2026).

Di bawah terang lampu yang telah terpasang di langit-langit teras dan ruangan dalam, belasan prajurit Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa Ke-128 Kodim 0402/OKI bersama warga setempat mengosongkan jam istirahat malam mereka.

Langkah lembur ini diambil untuk mengejar tenggat waktu program fisik yang kini menyisakan tiga hari lagi sebelum penutupan resmi.

Konstruksi fisik mushala desa tersebut kini tidak lagi menyisakan tumpukan material kasar seperti pasir atau batu kali di bagian dalam. Lantai keramik putih bersih telah terhampar sepenuhnya, senada dengan plafon PVC bergaris minimalis yang telah menutup rapi struktur atap bangunan.

Aktivitas malam itu sepenuhnya berfokus pada detail penyelesaian akhir (finishing), mulai dari menyapu debu semen, mengikis sisa-sisa adukan cat yang menempel pada sudut ruangan menggunakan bilah kape, hingga memoles cat cokelat tua pada lis kusen jendela.

Pengerjaan maraton hingga larut malam ini menjadi pilihan taktis yang rasional di wilayah tapak perdesaan Sumatera Selatan.

Mengingat kalender kerja yang kian menyempit, penyelesaian detail estetika dan kebersihan ruang dalam menjadi penentu utama apakah fasilitas peribadahan ini siap diserahterimakan kepada publik dalam kondisi prima.

Di sisi luar, dinding bangunan yang telah dilapisi cat kombinasi putih dan hijau toska juga mulai dirapikan dari sisa-sisa cipratan tanah.

Menyerbu detail

Koordinator Lapangan Rehabilitasi Mushala TMMD Ke-128, Kapten Arh Mursalin, menjelaskan bahwa pembagian kerja sengaja diperpanjang hingga malam hari khusus untuk menangani bagian-bagian bangunan yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Instalasi jaringan kabel listrik interior, fiksasi lampu utama, serta pengecatan lisplang kayu di bagian atap luar membutuhkan konsentrasi yang sulit dicapai jika hanya mengandalkan jam kerja reguler.

Terik matahari siang kawasan perkebunan Sumatera Selatan yang menyengat sering kali menurunkan efektivitas kerja fisik prajurit di lapangan.

Di dalam ruangan yang mulai terasa lapang dan bersih tersebut, beberapa warga lokal yang bertelanjang dada tampak bahu-membahu dengan prajurit berkaos loreng khas TNI. Sebagian dari mereka merayap di atas lantai keramik untuk mendeteksi ketidakrataan semen nat yang baru terpasang.

Sementara warga yang lain memastikan struktur tangga kayu di bagian luar aman bagi keselamatan pekerja yang sedang merapikan struktur atap luar. Kebersamaan organik ini berjalan alami tanpa batas sekat birokrasi, didorong oleh satu kebutuhan bersama akan tempat ibadah yang layak.

“Waktu yang tersisa tinggal tiga hari sebelum penutupan resmi program TMMD Ke-128 ini. Oleh karena itu, akselerasi pengerjaan dari pagi, siang, hingga lembur malam kami lakukan bersama warga desa,” ujar Mursalin saat ditemui di lokasi kegiatan.

Pola lembur malam ini diklaim sangat efektif untuk menyelesaikan bagian detail secara presisi. Targetnya, saat program ditutup nanti, masyarakat Pematang Sukatani langsung bisa memanfaatkan tempat ibadah ini dalam kondisi yang bersih, khusyuk, dan representatif.

Siasat anggaran

Jika ditinjau dari kacamata kebijakan publik, akselerasi pembangunan infrastruktur keagamaan dan fasilitas sosial berskala kecil melalui skema kemanunggalan sektoral ini merefleksikan model intervensi taktis di wilayah rural.

Kabupaten OKI dengan karakteristik geografisnya yang luas dan didominasi lahan basah serta perkebunan, sering kali dihadapkan pada tantangan distribusi anggaran yang timpang.

Jarak geografis yang jauh antara pusat pemerintahan kabupaten dengan desa-desa tapak kerap memicu keterlambatan pembangunan fisik.

Fasilitas publik di tingkat desa tak jarang harus masuk dalam daftar tunggu penganggaran daerah yang panjang dan berbelit.

Kondisi fiskal daerah yang terbatas akhirnya menuntut adanya inovasi model pembangunan yang tidak melulu bergantung pada mekanisme tender kontraktual konvensional.

Skema padat karya berbasis kemitraan bersama unsur TNI terbukti mampu memotong kompas biaya operasional di lapangan. Pola kerja swadaya ini menekan biaya upah pekerja secara signifikan, dan mengalihkan efisiensi anggaran tersebut langsung pada peningkatan kualitas material bangunan.

Hal ini memungkinkannya penyelesaian bangunan publik secara cepat tanpa harus mengorbankan spesifikasi teknis yang direncanakan sejak awal.

Berdasarkan data perencanaan daerah, pemenuhan kebutuhan dasar infrastruktur perdesaan di Sumatera Selatan memang masih menghadapi tantangan disparitas yang nyata.

Ketika sirkulasi Dana Desa sebagian besar terserap untuk program ketahanan pangan dan bantuan langsung, ruang fiskal desa untuk meremajakan fasilitas sosial menjadi sangat sempit.

Kehadiran Satgas Kodim 0402/OKI di Desa Pematang Sukatani bertindak sebagai stimulan fisik yang mengisi kekosongan ruang anggaran tersebut secara instan.

Merawat tradisi

Namun, dimensi yang jauh lebih mendasar dari sekadar berdirinya dinding bata dan lantai keramik yang mengilat adalah uji ketahanan nilai gotong royong masyarakat agraris itu sendiri.

Fenomena warga yang rela meluangkan waktu istirahat malamnya untuk menyapu lantai memperlihatkan bahwa sisa-sisa sistem nilai kemitraan komunal masih bekerja dengan baik.

Di era modernisasi digital yang mulai merambah desa, keterikatan komunitas untuk menyelesaikan sebuah ruang publik secara sukarela menjadi benteng pertahanan sosial yang berharga.

Tantangan berikutnya yang harus dijawab pascapenutupan program fisik ini adalah aspek keberlanjutan pengelolaan fasilitas ibadah. Banyak proyek fisik di tingkat perdesaan yang dibangun dengan skema maraton justru terbengkalai beberapa tahun setelah diserahterimakan.

Hal itu biasanya terjadi akibat lemahnya pelembagaan manajemen pemeliharaan di tingkat komunitas lokal. Revitalisasi fisik bangunan mushala ini idealnya harus segera diimbangi dengan kesiapan warga untuk membentuk kepengurusan yang mandiri, aktif, dan akuntabel.

Estetika mushala baru di Kecamatan Mesuji Makmur ini jangan sampai berhenti sebagai monumen kosmetik penutupan program semata. Bangunan ringkas bercat hijau-putih yang bersih ini harus mampu dioptimalkan fungsinya sebagai ruang interaksi sosial positif dan pusat edukasi nilai komunitas.

Energi swadaya yang menyala di bawah terang lampu kerja malam itu harus terus dirawat dengan konsistensi yang sama oleh warga desa. Tanggung jawab perawatan kini berpindah ke tangan komunitas lokal, bahkan setelah langkah sepatu laras prajurit TNI meninggalkan desa mereka. (puputzch)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang

Exit mobile version