Bupati Ogan Komering Ilir Muchendi melempar kritik pedas terhadap aparatur yang sekadar mengejar formalitas absensi tanpa dampak kinerja nyata. Di tengah tingkat kehadiran pascalibur Lebaran yang mencapai 90 persen, mentalitas pelayanan publik di Bumi Bende Seguguk ditantang untuk lebih profesional dan berwibawa.
KAYUAGUNG, NUSALY – Wajah birokrasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sedang dipaksa menanggalkan jubah kemalasan yang sudah menahun. Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, tidak lagi menggunakan bahasa halus saat menyoroti perilaku oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ia labeli dengan istilah sarkas: “CEO menyamar”.
Peringatan keras ini meledak di tengah momen Apel Bulanan di Halaman Kantor Bupati OKI, Senin (30/3/2026), sebuah forum yang biasanya bersifat rutin namun kali ini berubah menjadi ajang evaluasi mentalitas.
Istilah “CEO menyamar” yang dilemparkan Muchendi adalah potret satir bagi pegawai yang hadir di kantor hanya untuk menggugurkan kewajiban absensi. Mereka ada secara fisik, namun pikiran dan tenaganya justru dialokasikan untuk mengurus kepentingan pribadi di jam kerja.
Bagi Muchendi, praktik manipulatif ini adalah racun yang merusak kepercayaan publik sekaligus menghambat akselerasi pembangunan di daerah.
Urusan Performa
Secara administratif, Muchendi sebenarnya melihat sinyal positif dari tingkat kehadiran ASN yang menembus angka 90 persen pada hari pertama kerja pascalibur Lebaran. Namun, ia tidak ingin terjebak dalam euforia angka.
Baginya, disiplin kehadiran hanyalah pintu masuk paling dasar. Persentase tinggi itu tidak akan memberikan nilai apa pun jika para pegawai tetap mempertahankan pola kerja yang hanya sekadar “numpang lewat”.
“Saya mengapresiasi ASN yang tetap semangat bekerja setelah libur panjang. Kedisiplinan ini harga mati, tapi harus dibarengi komitmen memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai kehadiran ini hanya formalitas tanpa hasil nyata bagi warga,” ujar Muchendi di hadapan jajaran peserta apel yang tampak tegang mendengar ultimatum tersebut.
Sinergi Kolektif
Muchendi menuntut perubahan total. Ia menginginkan sosok aparatur yang bisa diandalkan, bukan yang pandai menghilang saat dibutuhkan masyarakat. Kritik terhadap “CEO menyamar” ini menjadi pengingat bahwa beban pembangunan di OKI terlalu berat jika hanya dipanggul oleh kepala daerah sendirian. Diperlukan gerak serempak dari ribuan ASN sebagai mesin penggerak birokrasi.
“Saya minta, buang jauh-jauh mentalitas ‘CEO menyamar’ itu. Jadilah pegawai yang mampu menyelesaikan tugas dengan tuntas dan berkontribusi langsung. Keberhasilan pembangunan di OKI ini hasil kerja kolektif, bukan panggung individu. Tanpa kebersamaan, cita-cita daerah ini hanya akan berhenti di atas kertas,” tegas Muchendi.
Ia menyadari bahwa ego sektoral dan sikap apatis di tingkat bawah sering kali menjadi batu sandungan bagi kebijakan-kebijakan strategis pemerintah kabupaten.
Wibawa Pelayan
Satu hal yang juga menjadi perhatian serius Bupati adalah soal citra visual para abdi negara. Muchendi menyoroti aspek penampilan dan kerapian sebagai bagian tak terpisahkan dari kewibawaan pemerintah.
Di matanya, cara seorang ASN membawa diri dan berpakaian adalah bentuk penghormatan pertama kepada masyarakat yang datang untuk dilayani. Profesionalisme, menurut Muchendi, bermula dari bagaimana seseorang menghargai profesinya sendiri sebelum menghargai orang lain.
“Penampilan itu bukan sekadar gaya, tapi soal wibawa. Sebagai pelayan publik, kita harus rapi agar masyarakat merasa dihormati dan menaruh kepercayaan tinggi pada pemerintah,” tutupnya.
Melalui peringatan keras ini, Pemkab OKI mencoba mengembalikan marwah birokrasi yang sesungguhnya; di mana setiap ASN hadir untuk bekerja, berinovasi, dan melayani, bukan sekadar menjadi bayangan yang mengejar catatan absen harian. (puputzch)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
