Pendidikan

Sekolah di Sumsel Tiadakan Olahraga Fisik demi Menjaga Stamina Siswa Selama Ramadan

Sekolah di Sumsel Tiadakan Olahraga Fisik demi Menjaga Stamina Siswa Selama Ramadan
Foto Ilustrasi dibuat dengan AI. Dok. Nusaly.com

Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mengeluarkan panduan khusus pembelajaran selama Ramadan 1447 H. Selain membatasi aktivitas fisik, durasi belajar di kelas disusutkan menjadi 30 menit per jam pelajaran untuk memberi ruang bagi penguatan karakter.

PALEMBANG, NUSALY — Ada pemandangan yang tak biasa di lapangan-lapangan sekolah menengah di Sumatera Selatan mulai pekan depan. Tidak akan ada lagi deru napas siswa yang berlari mengejar bola atau latihan fisik ekstrakurikuler yang menguras peluh. Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan secara resmi memutuskan untuk “mengandangkan” seluruh aktivitas fisik berat dan mengonversi mata pelajaran olahraga menjadi materi teori di dalam kelas. Langkah ini diambil melalui Surat Edaran (SE) Nomor 420/4212/Set.3/Disdik SS/2026 sebagai upaya menjaga stabilitas stamina siswa selama menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah.

Kebijakan ini adalah bentuk kompromi pemerintah terhadap realitas biologis anak didik di tengah tuntutan kurikulum. Dengan ditiadakannya kegiatan luar ruangan yang menguras energi, sekolah diharapkan bertransformasi menjadi ruang penguatan spiritual yang lebih intens. Pihak otoritas pendidikan di Bumi Sriwijaya tampaknya sadar betul bahwa memaksakan aktivitas fisik di bawah terik matahari Palembang saat perut kosong adalah resep bencana bagi kesehatan siswa.

Pengawas SMA Disdik Sumsel, Syamsul, mengungkapkan bahwa edaran ini merupakan komando tunggal bagi seluruh SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta. Targetnya jelas: memastikan proses transfer ilmu pengetahuan tidak terhenti, namun tetap dalam koridor yang manusiawi bagi mereka yang berpuasa. “Kita ingin KBM tetap berjalan efektif tanpa harus mengorbankan kondisi fisik anak didik kita. Ini soal manajemen energi dan penguatan karakter,” ujar Syamsul saat dikonfirmasi di Palembang, Senin (16/2/2026).

Jeda Mandiri di Lingkungan Keluarga

Skenario Ramadan kali ini dimulai dengan masa transisi yang cukup panjang. Berdasarkan edaran tersebut, para siswa akan menjalani libur awal Ramadan pada 18 hingga 21 Februari 2026. Namun, Disdik Sumsel memberikan catatan tebal bahwa libur ini bukan berarti masa “bebas belajar”. Sebaliknya, siswa dibebani tanggung jawab untuk melakukan pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga dan tempat ibadah masing-masing. Ini adalah upaya strategis untuk mengembalikan marwah pendidikan ke akar paling dasar, yaitu rumah.

Setelah jeda tersebut, mulai 23 Februari hingga 15 Maret, aktivitas di sekolah akan kembali berdenyut namun dengan wajah yang berbeda. Kurikulum “darurat” ini akan lebih banyak diisi dengan program-program yang berorientasi pada peningkatan iman, takwa, hingga pembentukan karakter kepemimpinan. Sekolah tidak lagi sekadar menjadi menara gading akademik, melainkan kawah candradimuka bagi peningkatan akhlak mulia melalui pesantren kilat, tadarus, dan kajian keagamaan yang intensif.

Prinsip inklusivitas tetap dijaga ketat dalam edaran ini. Bagi siswa yang tidak beragama Islam, sekolah diwajibkan menyediakan ruang bagi bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tidak ada siswa yang ditinggalkan; semua diajak untuk masuk ke dalam frekuensi yang sama, yaitu penguatan mentalitas dan spiritualitas sebagai bagian dari pendidikan manusia seutuhnya.

Diet Jam Pelajaran dan Efisiensi Kelas

Perubahan paling radikal terasa pada durasi tatap muka. Setiap satu jam pelajaran (JP) kini hanya dijatah 30 menit saja. Dengan waktu yang sangat mepet ini, para guru dituntut untuk membuang segala basa-basi di depan kelas. Guru dipaksa untuk langsung menukik ke inti materi pelajaran ( straight to the point). Jika biasanya materi bisa disampaikan dengan santai dalam 45 menit, kini efisiensi menjadi harga mati agar target kurikulum tahunan tidak berantakan.

Bel sekolah pun akan berdentang lebih awal pada pukul 07.30 WIB. Keputusan ini bertujuan agar seluruh aktivitas belajar-mengajar tuntas sebelum matahari mencapai puncak tertingginya, sehingga siswa bisa pulang ke rumah dalam kondisi yang tidak terlalu kelelahan. Pemangkasan jam pelajaran ini merupakan “diet kurikulum” yang menantang kreativitas tenaga pendidik di Sumatera Selatan dalam mengelola waktu yang kian terbatas.

Dalam kebijakan ini, peran orang tua atau wali murid diletakkan sebagai pilar utama. Disdik Sumsel menegaskan bahwa tanpa pendampingan orang tua di rumah, program belajar mandiri dan pembinaan ibadah selama Ramadan hanya akan berakhir sebagai dokumen administratif belaka. Kolaborasi ini menjadi krusial karena beban pendidikan karakter kini digeser lebih banyak ke ruang keluarga, di mana orang tua menjadi guru garis depan dalam memantau perilaku dan ibadah harian anak-anak mereka.

Masa Pulih Idul Fitri

Menjelang akhir Ramadan, pemerintah juga sudah mematok masa jeda yang panjang untuk merayakan Idul Fitri. Libur ditetapkan mulai 16 Maret hingga 29 Maret 2026. Jeda dua pekan ini diberikan agar siswa dan tenaga pendidik memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pemulihan fisik dan merayakan kemenangan spiritual bersama keluarga besar, sebelum akhirnya kembali ke rutinitas normal pada 30 Maret mendatang.

Secara filosofis, kebijakan Disdik Sumsel ini mencoba membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi institusi yang adaptif. Di tengah kepungan tuntutan akademik global, keberanian untuk mengerem sementara aktivitas fisik dan memberikan porsi lebih besar pada “pendidikan jiwa” adalah langkah yang berani sekaligus diperlukan. Sumsel sedang mencoba membangun sebuah ekosistem pendidikan di mana kecerdasan intelektual tidak pernah dipisahkan dari keteguhan iman.

Tantangan nyata kini berada di tangan setiap kepala sekolah dan guru. Apakah durasi 30 menit itu akan menjadi waktu yang berkualitas atau justru menjadi sekadar rutinitas “yang penting masuk”? Rakyat Sumatera Selatan, terutama para orang tua, tentu akan memantau dengan cermat. Jangan sampai pemangkasan jam sekolah ini berbanding lurus dengan pemangkasan kualitas pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Ramadan di sekolah tahun ini harus menjadi bukti bahwa dalam keterbatasan waktu, kualitas karakter justru bisa mekar lebih hebat.

(desta)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version