Scroll untuk baca artikel
Banner HUT Pemprov Sumsel

Laporan Utama

76 SMA Ikut Tantangan Aksi Iklim Nasional, SMA Al Umanaa Sukabumi Jadi Juara

×

76 SMA Ikut Tantangan Aksi Iklim Nasional, SMA Al Umanaa Sukabumi Jadi Juara

Sebarkan artikel ini
76 SMA Ikut Tantangan Aksi Iklim Nasional, SMA Al Umanaa Sukabumi Jadi Juara
Sesi Talkshow: Green Investing for Cooler Earth oleh Andrea Angela dari Green Rising, Luckmi Purwandari, Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Kementerian Kehutanan, dan Michelle Ghozali, Direktur Harmoni Usaha Indonesia. Dok. Istimewa/nusaly.com

PBB di Indonesia mendorong keterlibatan generasi muda untuk memulai aksi nyata penyelamatan bumi dari lingkungan sekolah dan komunitas.

JAKARTA, NUSALY – Sebanyak 76 Sekolah Menengah Atas (SMA) dari berbagai wilayah di Indonesia berpartisipasi dalam kompetisi inisiatif lingkungan nasional Cool School Challenges. Tantangan ini digelar untuk menjaring ide dan aksi nyata generasi muda dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.

Pengumuman pemenang Cool School Challenges menjadi salah satu agenda utama dalam The Green Community Festival yang digelar PBB Indonesia bersama sejumlah mitra di Taman Martha Christina Tiahahu, Taman Literasi Blok M, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Agenda publik ini mempertemukan ratusan peserta untuk berdiskusi dan beraksi menyelamatkan bumi.

Dalam kompetisi tersebut, SMA Al Umanaa Boarding School dari Sukabumi, Jawa Barat, berhasil keluar sebagai pemenang pertama. Posisi kedua diraih oleh Sekolah Santa Ursula Jakarta, sedangkan SMAN 1 Bekasi dari Jawa Barat menempati peringkat ketiga.

Ragam solusi dari 15 finalis

Cool School Challenges mengajak siswa SMA membagikan gagasan praktis untuk menciptakan lingkungan sekolah dan komunitas yang lebih berkelanjutan. Dari total 76 karya yang masuk dari seluruh Indonesia, panitia menyaring 15 finalis terbaik yang merepresentasikan keragaman geografis yang luas, mulai dari wilayah Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Kalimantan Timur.

Gagasan yang diajukan para siswa berfokus pada tindakan yang dapat langsung diterapkan di sekolah maupun lingkungan sekitar. Inovasi tersebut berkisar pada program penghijauan di lingkungan sekolah, gerakan manajemen pengurangan sampah, praktik pertanian perkotaan (urban farming), tindakan efisiensi dan hemat energi, hingga kampanye edukasi lingkungan hidup.

Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) di Indonesia, Miklos Gaspar, mengapresiasi tinggi antusiasme para peserta. Menurutnya, puluhan karya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak menunggu orang lain untuk bertindak.

“Mereka sudah memulainya dari sekolah dan komunitas mereka sendiri. Itu memberi kita harapan,” ujar Miklos.

Pilihan harian respons krisis global

Penyelenggaraan festival dan tantangan iklim bagi anak muda ini hadir di tengah situasi krisis iklim yang kian nyata. Dunia baru saja melewati tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat. Pada saat yang sama, bencana terkait iklim terjadi lebih sering, lebih merusak, dan menimbulkan biaya pemulihan yang semakin besar.

PBB menegaskan bahwa setiap kenaikan suhu sekecil apa pun sangat berdampak bagi kehidupan, terutama bagi masyarakat yang sudah menghadapi dampak perubahan iklim secara langsung. Oleh karena itu, aksi mitigasi kini perlu diturunkan ke level tindakan sehari-hari.

“Aksi iklim bukan hanya tentang kebijakan berskala besar. Ini juga tentang pilihan yang kita buat setiap hari, di rumah, di sekolah, di komunitas kita, dan dalam cara kita saling peduli,” kata Miklos Gaspar. Ia menambahkan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momen untuk merespons sinyal dari bumi dengan tindakan nyata karena waktu untuk bertindak semakin sempit.

Kolaborasi lintas isu
Urban Farming Workshop bersama Saputri Indah, Alumni Program Petani Keren FAO Indonesia dan Moch. Rizky Faisal, Anggota Trubus Bina Swadaya dan Anggota Aliansi Organis Indonesia. Dok. Istimewa/nusaly.com

Kolaborasi lintas isu

Selain mengumumkan pemenang kompetisi sekolah, festival ini juga menampilkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari lokakarya pertanian perkotaan, gelar wicara tentang investasi hijau, permainan bertema keberlanjutan, hingga stan pameran dari badan-badan PBB, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lingkungan.

PBB menilai dampak perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga memengaruhi ketahanan pangan, mata pencaharian, perpindahan penduduk, hingga kehidupan perempuan yang bergantung pada sektor pertanian.

Kampanye ini juga mengaitkan isu perubahan iklim dengan peringatan Hari Pengungsi Sedunia dan Tahun Perempuan Tani Internasional. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pengingat pentingnya membentuk keselamatan, ketahanan, dan masa depan generasi berikutnya melalui langkah nyata saat ini. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang