MARTAPURA, NUSALY — Tidur lelap warga di bantaran Sungai Muara Balak, Kabupaten OKU Timur, berubah menjadi kepanikan pada Kamis (8/1/2026) dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, debit sungai yang meningkat tajam akibat hujan tanpa henti tak lagi mampu ditampung tanggul alami, hingga meluap dan mengepung permukiman.
Sebanyak 73 rumah di lima desa terendam dalam hitungan jam. Desa Nusa Jaya menjadi titik terparah dengan 50 rumah yang hampir tenggelam oleh luapan air setinggi 1,5 meter. Fenomena ini bukan sekadar bencana musiman, melainkan alarm keras bagi kesiapan mitigasi bencana di tingkat lokal.
Evakuasi di Tengah Kepungan Air
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD OKU Timur, Ir. Bambang Irawan, menggambarkan situasi dini hari itu sebagai fase krusial penyelamatan nyawa. “Fokus utama kami adalah evakuasi cepat sebelum debit air semakin tinggi. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun dampak materiil dan psikologis warga, terutama di Desa Nusa Jaya, sangat besar,” ungkapnya.
Kendaraan taktis (rantis) dan perahu karet dari tim gabungan TNI, Polri, serta Basarnas dikerahkan untuk menembus desa-desa yang terisolasi. Posko kesehatan dan dapur umum didirikan dengan cepat untuk melayani warga yang terpaksa mengungsi hanya dengan pakaian di badan. Langkah ini krusial untuk menjaga kondisi fisik para lansia dan anak-anak yang paling rentan terserang penyakit pascabanjir.
Solidaritas dan Kehadiran Negara di Garis Depan
Bencana ini memicu gelombang solidaritas lintas sektor. Gubernur Sumatera Selatan mengirimkan 300 paket sembako, disusul bantuan dari kepolisian dan pihak swasta. Kehadiran logistik seperti 500 porsi makanan siap saji (MBG) menjadi penyambung hidup bagi warga yang dapurnya lumpuh total akibat rendaman air.
Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, yang baru saja mendarat dari agenda tugas bersama Presiden RI, langsung menuju lokasi terdampak tanpa menunda waktu. Ia menegaskan bahwa birokrasi tidak boleh lambat dalam merespons bencana. “Instruksi saya jelas: data dampak secara akurat, pastikan bantuan sampai ke tangan yang berhak, dan prioritaskan keselamatan kelompok rentan. Pemerintah harus ada di tengah rakyat saat kondisi sesulit ini,” tegas Lanosin.
Mengantisipasi Cuaca Ekstrem yang Belum Berakhir
Meski hingga Kamis sore genangan dilaporkan mulai surut dan akses jalan mulai terbuka, ancaman belum sepenuhnya berlalu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memberi sinyal waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di wilayah Sumatera Selatan.
Normalisasi aktivitas warga kini bergantung pada kecepatan rehabilitasi pascabencana. Penguatan tanggul dan normalisasi alur Sungai Muara Balak harus segera menjadi agenda prioritas agar “amuk dini hari” serupa tidak kembali terulang dan menghantui warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
(dhi)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.







