Scroll untuk baca artikel
Pelayanan Publik

Ratu Tenny Leriva Dorong Perpustakaan Sumsel Jadi Ruang Inklusif Bahasa Isyarat

×

Ratu Tenny Leriva Dorong Perpustakaan Sumsel Jadi Ruang Inklusif Bahasa Isyarat

Sebarkan artikel ini

Duta Literasi Sumatera Selatan mendesak transformasi perpustakaan agar tidak lagi sekadar ramah masyarakat umum, tetapi juga aksesibel bagi penyandang disabilitas tuli. Penguasaan bahasa isyarat oleh pustakawan menjadi kunci utama dalam mewujudkan kesetaraan akses informasi.

Ratu Tenny Leriva Dorong Perpustakaan Sumsel Jadi Ruang Inklusif Bahasa Isyarat
Anggota DPD RI sekaligus Duta Literasi Sumsel, dr. Hj. Ratu Tenny Lariva menghadiri pembukaan Pekan Literasi Bahasa Isyarat di Aula Dinas Perpustakaan Sumsel, Kamis (15/1/2026). (Dok. SumateraEkspres.id)

PALEMBANG, NUSALY — Aksesibilitas layanan publik bagi kelompok rentan kembali menjadi sorotan utama dalam agenda transformasi sosial di Sumatera Selatan. Anggota DPD RI sekaligus Duta Literasi Sumsel, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, menegaskan bahwa perpustakaan harus segera meruntuhkan sekat komunikasi dengan menghadirkan layanan bahasa isyarat yang kompeten.

Dalam pembukaan Pekan Literasi Bahasa Isyarat di Aula Dinas Perpustakaan Sumsel, Kamis (15/1/2026), Ratu Tenny menekankan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi teknis, melainkan instrumen pemenuhan hak asasi manusia.

“Penyandang disabilitas tuli memiliki hak yang sama untuk mengakses informasi dan pendidikan. Bahasa isyarat adalah jembatan empati sekaligus bentuk penghormatan kita terhadap keberagaman,” ujar perempuan yang akrab disapa Iva tersebut.

Urgensi Literasi di Tengah Kesenjangan Fasilitas

Iva menyoroti data organisasi kesehatan dunia (WHO) yang mencatat sekitar 430 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran. Di Indonesia, angka penyandang tuli mencapai 22,97 juta orang. Namun, angka fantastis ini tidak sebanding dengan ketersediaan juru bahasa isyarat (JBI) dan relawan yang mampu berkomunikasi secara inklusif.

Oleh karena itu, ia mendorong para pustakawan untuk memiliki kemampuan dasar bahasa isyarat. Tujuannya jelas: agar setiap pemustaka tuli yang datang ke perpustakaan dapat dilayani secara setara dan manusiawi, tanpa merasa terisolasi oleh kendala bahasa.

Transformasi Makna Literasi Modern

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, Fitriana, menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen memperluas cakrawala makna literasi di Sumsel. Menurutnya, literasi di era digital dan inklusi saat ini harus melampaui kemampuan membaca dan menulis.

“Literasi adalah soal akses dan kesetaraan. Kami ingin perpustakaan menjadi ruang di mana semua orang, tanpa terkecuali, bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dengan nyaman,” jelas Fitriana.

Baca juga  Pernikahan Putri Gubernur Sumsel, Ratu Tenny Leriva, Sarat Adat dan Bertabur Tokoh Nasional

Pekan Literasi Bahasa Isyarat ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan dengan melibatkan 550 peserta, mulai dari ASN, pelajar, hingga organisasi perempuan. Yang menarik, narasumber utama kegiatan ini dihadirkan langsung dari komunitas tuli (GERKATIN Sumsel) untuk memastikan materi yang disampaikan benar-benar relevan dengan kebutuhan praktis di lapangan.

Melalui langkah ini, Sumatera Selatan berupaya memelopori standar baru layanan publik yang inklusif, di mana keterbatasan fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi warga negara untuk mencerdaskan diri di ruang-ruang literasi pemerintah.

(desta)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.