PALEMBANG, NUSALY — Wajah ikonik Kota Palembang, pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), masih tertutup bagi publik hingga pekan kedua Januari 2026. Revitalisasi kawasan yang menjadi titik temu sejarah dan pariwisata ini masih menyisakan pagar seng dan material konstruksi, meleset dari target penyelesaian yang semula dicanangkan pada akhir tahun lalu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aktivitas pengerjaan masih terkonsentrasi pada penataan lantai pelataran serta pemasangan pagar pembatas di sepanjang aliran Sungai Musi. Kondisi ini membuat warga maupun wisatawan belum dapat mengakses area plaza utama yang biasanya menjadi pusat keramaian di tepian sungai tertua di Sumatera Selatan tersebut.
Konstruksi Dasar dan Penguatan Struktur
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengonfirmasi bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh fokus pengerjaan yang saat ini masih berada pada tahap konstruksi utama. Menurutnya, revitalisasi BKB bukan sekadar perbaikan kosmetik, melainkan transformasi infrastruktur yang masif.
“Tahap pertama ini difokuskan pada pekerjaan konstruksi dasar agar kawasan memiliki struktur yang kuat dan aman. Ini meliputi pembongkaran conblock lama, pagar, hingga kolam yang sudah tidak fungsional,” ujar Ratu Dewa, Jumat (16/1/2026).
Selain pengecoran area plaza, pemerintah juga tengah merampungkan jaringan utilitas bawah tanah dan pemasangan railing tangga di dermaga penumpang kapal. Langkah ini diambil untuk memastikan aspek fungsionalitas dan keamanan bagi warga yang bermobilitas menggunakan transportasi sungai.
Estetika dan Integrasi Budaya
Setelah fase konstruksi dasar tuntas, proyek akan beralih ke tahap kedua yang menitikberatkan pada estetika kawasan. Pemerintah Kota Palembang berencana menyuntikkan sentuhan modern tanpa menanggalkan marwah BKB sebagai situs cagar budaya.
Rencana pengembangan tahap kedua mencakup:
- Pemasangan finishing lantai berkualitas tinggi dan street furniture.
- Penataan sistem pencahayaan artistik di sepanjang kawasan.
- Pembangunan air mancur atraktif dan panggung pertunjukan permanen.
- Revitalisasi taman dan ruang hijau guna menyeimbangkan iklim mikro di tepian sungai.
“Kami ingin BKB menjadi titik kumpul baru yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan sentuhan modern. Targetnya, BKB benar-benar menjadi kebanggaan masyarakat Palembang,” tambah Ratu Dewa.
Kerinduan Ruang Publik
Keterlambatan ini tak pelak memicu harapan dari masyarakat. Boby, salah seorang warga Palembang, mengungkapkan bahwa BKB adalah ruang terbuka hijau paling representatif bagi warga kota. Tertutupnya akses BKB membuat masyarakat kehilangan tempat bersantai sekaligus destinasi utama untuk menjamu tamu dari luar daerah.
“Banyak masyarakat yang rindu bersantai di BKB. Kami tentu berharap revitalisasi ini bisa cepat selesai agar wajah baru BKB segera dinikmati,” kata Boby.
Penataan ulang BKB menjadi ujian bagi Pemerintah Kota Palembang dalam mengelola ruang publik yang sensitif terhadap nilai historis. Publik kini menanti, apakah perpanjangan waktu pengerjaan ini akan berbanding lurus dengan kualitas hasil akhir yang mampu membawa BKB menjadi ikon wisata kelas dunia di masa depan.
(dhi)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.






