Scroll untuk baca artikel
Humaniora

Langkah Sunyi Abdiyanto Meninggalkan Rumah Banteng

×

Langkah Sunyi Abdiyanto Meninggalkan Rumah Banteng

Sebarkan artikel ini

Setelah lebih dari dua dekade membela panji PDI Perjuangan, politisi senior Abdiyanto Fikri resmi menanggalkan seragam merahnya. Pilihan berlabuh ke PSI menjadi anomali politik yang mengungkap keretakan pola regenerasi di akar rumput.

Langkah Sunyi Abdiyanto Meninggalkan Rumah Banteng
Abdiyanto Fikri, sosok yang wajahnya identik dengan pergerakan "Banteng" selama 22 tahun terakhir, menyerahkan surat pengunduran diri di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Ogan Komering Ilir (OKI), Senin (26/1/2026). (Dok. Istimewa)

KAYUAGUNG, NUSALY — Senin (26/1/2026) siang di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Ogan Komering Ilir (OKI), sebuah lembaran kertas berpindah tangan secara dingin. Abdiyanto Fikri, sosok yang wajahnya identik dengan pergerakan “Banteng” di wilayah tersebut selama 22 tahun terakhir, menyerahkan surat pengunduran diri. Langkah ini tidak hanya mengakhiri masa pengabdiannya sejak 2004, tetapi juga menandai babak baru yang kontras dalam karier politiknya: ia memilih berlabuh ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Keputusan Abdiyanto bukanlah sekadar gerak impulsif seorang politisi kalah. Ini adalah akumulasi dari rasa tidak nyaman yang dibungkus dengan bahasa diplomatis “sikap politik pribadi”. Di balik senyum tenang dan pernyataan “tidak ada pengkhianatan”, tersirat sebuah pesan tentang batasan loyalitas ketika instruksi partai memintanya untuk “beristirahat” dari aktivitas struktural.

Anatomi Patahnya Loyalitas Dua Dekade

Dalam tradisi PDI-P, loyalitas adalah harga mati. Namun, pengakuan Abdiyanto mengenai “dinamika internal partai” dan penetapan kepengurusan baru menunjukkan bahwa mesin regenerasi partai sedang bekerja dengan cara yang melukai kadernya sendiri. Sebagai anggota DPRD yang terpilih secara beruntun sejak 2004, Abdiyanto adalah pemegang “kunci” basis massa di akar rumput.

Keputusannya pindah ke PSI adalah sebuah anomali. PSI, yang selama ini dikenal sebagai partai anak muda dengan narasi media sosial yang kental, kini mendapatkan asupan DNA politisi tradisional yang kenyang dengan cara-cara kampanye konvensional. Analisis kontekstual menunjukkan bahwa kepindahan ini adalah upaya Abdiyanto untuk membuktikan bahwa kekuatannya terletak pada personal branding, bukan sekadar “efek ekor jas” (coattail effect) dari lambang banteng moncong putih.

Baca juga  Pengamat Politik Prediksi "Prabowo Effect" akan Menguntungkan Calon Kepala Daerah Gerindra di Pilkada Sumsel 2024

Ia secara terbuka mengakui kekhawatirannya jika tetap berada di PDI-P tanpa peran struktural. “Saya khawatir jika tetap berinteraksi aktif di masyarakat, akan muncul hal-hal yang tidak saya inginkan dan bisa merugikan partai,” ujarnya. Kalimat ini adalah eufemisme dari potensi gesekan horizontal antara pendukung setianya dengan struktur baru PDI-P yang sedang menatanya ulang.

Pertaruhan Strategis bagi PSI dan PDI-P

Bagi PDI Perjuangan, hilangnya Abdiyanto adalah alarm bagi manajemen konflik internal. Ketika kader senior yang memiliki jaringan akar rumput kuat merasa tidak lagi memiliki ruang untuk bermanuver secara struktural, pilihannya hanya dua: tunduk dan menghilang, atau menyeberang. PDI-P di bawah kepemimpinan baru di tingkat cabang kini dihadapkan pada tantangan besar: apakah mereka mampu mempertahankan ribuan pemilih setia Abdiyanto tanpa sosok sang politisi di garis depan?

Di sisi lain, bagi PSI, masuknya Abdiyanto adalah “durian runtuh” dalam upaya memperkuat struktur partai di daerah. PSI sedang mencoba melepaskan citra sebagai “partai Jakarta” dengan merangkul tokoh-tokoh lokal berpengalaman. Pertemuan antara figur senior yang haus panggung dengan partai baru yang butuh basis massa ini bisa menjadi ancaman serius bagi dominasi partai-partai mapan di pemilu mendatang.

Menakar Resiliensi Akar Rumput

Sekretaris DPC PDI Perjuangan OKI, Septi Darmawan, menanggapi dingin langkah ini dengan menyebutnya sebagai mekanisme organisasi biasa. Namun, di tingkat sosiologi politik, ini adalah ujian bagi resiliensi konstituen. Apakah pemilih di OKI selama ini mencoblos PDI-P karena ideologi partainya, atau karena figur Abdiyanto yang rutin menyapa mereka selama dua dekade?

Jika Abdiyanto mampu membawa basis massanya ke PSI, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi PDI-P di Sumatera Selatan yang menganggap loyalitas kader sebagai hal yang terberi (given). Pengunduran diri ini adalah pengingat bahwa dalam politik modern, keterikatan emosional pemilih terhadap sosok individu sering kali lebih tebal daripada keterikatan mereka terhadap ideologi partai yang mulai terasa kaku.

Baca juga  Bagindo Togar: Debat Perdana Pilgub Sumsel Hanya Ajang Pamer Ego Penyelenggara

Kini, Abdiyanto telah resmi menukar jaket merahnya dengan mawar merah PSI. Sebuah “langkah sunyi” yang sebenarnya berteriak kencang tentang bagaimana peta kekuatan di daerah sedang mengalami pergeseran tektonik. Pertarungan sesungguhnya baru akan terlihat saat surat suara kembali dibentangkan, menguji apakah sang mantan ketua cabang masih memiliki taji tanpa bayang-bayang Megawati Soekarnoputri di belakangnya.

(dhi)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.