Scroll untuk baca artikel
Korporasi

Budidaya Kepiting Bakau PT BAP Mengubah Perambah Hutan Menjadi Pelestari Gambut di OKI

×

Budidaya Kepiting Bakau PT BAP Mengubah Perambah Hutan Menjadi Pelestari Gambut di OKI

Sebarkan artikel ini

PT Bumi Andalas Permai mendorong transisi mata pencaharian warga Desa Sungai Batang, Ogan Komering Ilir, dari perambah hutan gelam menjadi pembudidaya kepiting bakau melalui Program Desa Makmur Peduli Api. Intervensi ekonomi ini menjadi strategi ganda untuk mengerek kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat benteng pertahanan ekosistem gambut dari ancaman kebakaran.

Budidaya Kepiting Bakau PT BAP Mengubah Perambah Hutan Menjadi Pelestari Gambut di OKI
PT Bumi Andalas Permai (BAP) selaku mitra pemasok APP Group melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) memperkenalkan budidaya pembesaran kepiting bakau kepada kelompok petani tambak di Desa Sungai Batang, Kecamatan Air Sugihan, Ogan Komering Ilir. (Dok. APP Group)

OGAN KOMERING ILIR, NUSALY – Nasib bentangan lahan gambut di pesisir Ogan Komering Ilir (OKI) sering kali ditentukan oleh apa yang terjadi di dapur warga. Selama ini, bagi sebagian besar warga di Kecamatan Air Sugihan, masuk ke dalam hutan untuk merambah kayu gelam adalah satu-satunya jalan untuk menyambung hidup. Namun, aktivitas ini menyimpan bom waktu, puntung rokok atau api kecil dari perambah bisa menghanguskan ribuan hektare lahan dalam sekejap.

Melihat kerentanan yang berulang setiap musim kemarau, PT Bumi Andalas Permai (BAP) selaku mitra pemasok APP Group mencoba menawarkan jalan tengah. Melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), perusahaan tidak lagi hanya bicara soal patroli pemadaman, tetapi mulai memperkenalkan budidaya kepiting bakau sebagai “muara” ekonomi baru bagi warga yang ingin keluar dari hutan.

Di Distrik Bagan Tengah, fokus ini mulai mewujud. Kelompok 1 petani tambak di Desa Sungai Batang didorong menjadi pionir. Mereka tidak hanya diberi janji, tapi dibekali perangkat produksi yang nyata. Perusahaan mengucurkan 100 kilogram bibit kepiting lokal yang punya daya tahan tinggi terhadap payau, lengkap dengan infrastruktur crab box untuk memastikan tiap ekor kepiting bisa tumbuh maksimal dan bernilai jual tinggi.

Keluar dari Bayang-bayang Gelam

Transisi profesi ini bukan perkara mudah, tapi Surya Pratama, Social Relation Distrik Bagan Tengah PT BAP, melihatnya sebagai keharusan. Baginya, mustahil melarang warga masuk hutan jika perut mereka lapar. Maka, budidaya kepiting bakau disodorkan sebagai pengganti kayu gelam yang lebih menjanjikan secara finansial sekaligus jauh lebih aman dari jeratan risiko hukum maupun bahaya karhutla.

Baca juga  DPRD OKI 'Hilang', Aspirasi Rakyat Terbengkalai di Balik Dalih Dinas Luar

Dukungan PT BAP di lapangan mencakup persiapan kolam, penyediaan pangan, hingga pendampingan teknis selama masa perawatan. Perusahaan ingin memastikan kelompok pertama ini sukses, sehingga menjadi bukti hidup bagi warga lain bahwa menjadi petani tambak jauh lebih terhormat dan menguntungkan daripada menjadi perambah hutan liar. Kepiting bukan sekadar komoditas, tapi instrumen untuk menarik warga pulang dari dalam hutan.

“Kami berharap petani tambak kelompok 1 di desa ini bisa menarik minat warga desa lainnya untuk beralih dari pencari gelam menjadi petani tambak,” ujar Surya Pratama. Menurutnya, kepiting adalah komoditas mewah dengan harga pasar yang stabil. Jika warga sudah merasakan gurihnya hasil tambak, maka potensi mereka kembali ke hutan untuk membakar lahan demi kayu gelam akan mengecil secara alami.

Kedaulatan Ekonomi Pesisir

Sekretaris Desa Sungai Batang, Tio Apriansyah, melihat bantuan ini sebagai napas baru bagi warganya. Di wilayah pesisir yang terisolasi seperti Air Sugihan, akses terhadap modal dan teknologi budidaya adalah barang langka. Kehadiran PT BAP dengan program DMPA-nya dianggap sebagai katalisator yang mengubah cara pandang warga terhadap potensi alam di sekitar mereka yang selama ini terabaikan.

Pemerintah desa kini punya modal cerita untuk meyakinkan warga bahwa kesejahteraan bisa diraih tanpa merusak ekosistem. Tio menyatakan kesiapan desa untuk mengembangkan budidaya ini menjadi skala yang lebih masif. Harapannya, Desa Sungai Batang tidak lagi dikenal sebagai wilayah rawan konflik lahan atau karhutla, melainkan sebagai sentra produksi kepiting bakau yang mandiri.

“Dukungan ini sangat berarti untuk membuka peluang ekonomi baru. Kami di desa siap terus bekerja sama mengembangkan budidaya kepiting bakau demi kesejahteraan masyarakat,” kata Tio. Baginya, kemitraan ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang benar-benar mendarat di kebutuhan riil warga, bukan sekadar seremonial belaka.

Baca juga  Jaminan Kesehatan Ogan Komering Ilir: Penyambung Harapan Pasien Kronis

Investasi Jangka Panjang bagi Bumi

Bagi PT BAP, 100 kilogram bibit dan tumpukan crab box di Sungai Batang adalah bentuk investasi pertahanan lingkungan. Perusahaan menyadari bahwa kolaborasi antara korporasi, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci utama untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Ketika warga sudah menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang sehat, mereka secara otomatis akan menjadi penjaga hutan yang paling setia.

Langkah ini juga menegaskan posisi PT BAP sebagai mitra pembangunan yang memikirkan keberlanjutan hidup masyarakat di sekitar wilayah HTI. Dengan memitigasi karhutla lewat pemberdayaan ekonomi, perusahaan sedang membangun model perlindungan alam yang humanis. Ke depan, keberhasilan di Sungai Batang diharapkan bisa menular ke desa-desa binaan lainnya di wilayah OKI.

Filosofi di balik budidaya ini sederhana: jika rakyat makmur, api akan padam dengan sendirinya. Diplomasi ekonomi lewat kepiting ini membuktikan bahwa menjaga hutan tidak harus selalu dengan senjata atau larangan, tapi bisa dilakukan dengan memberikan sendok dan piring yang lebih berisi bagi masyarakat. Dari kolam-kolam tambak di Sungai Batang, masa depan hijau itu mulai dirajut satu demi satu.

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.