Luasnya wilayah Kabupaten OKI menuntut model pembangunan yang melampaui keterbatasan anggaran pemerintah daerah. Sinergi investasi korporasi dan bantuan keuangan khusus menjadi kunci dalam memutus isolasi geografis di kawasan pesisir Sumatera.
KAYUAGUNG, NUSALY – Membayangkan pembangunan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) adalah membayangkan sebuah upaya menaklukkan bentang alam yang tidak ramah. Sebagai kabupaten terluas di Sumatera, OKI memikul beban geografis yang luar biasa besar. Di wilayah ini, setiap kilometer jalan bukan sekadar urusan aspal dan beton, melainkan pertaruhan terhadap konektivitas ribuan warga yang kerap terisolasi oleh rawa dan sungai.
Pada Jumat (13/2/2026), sebuah langkah penting diambil di Kecamatan Air Sugihan. Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, meresmikan jalan rabat beton sepanjang 1,4 kilometer yang dibangun melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT OKI Pulp & Paper Mills. Peresmian ini sejatinya menjadi penanda penting bahwa di tengah keterbatasan ruang fiskal daerah, kolaborasi dengan sektor swasta bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menjaga denyut nadi pembangunan.
Herman Deru menegaskan bahwa luas wilayah OKI yang mencapai belasan ribu kilometer persegi sering kali membuat distribusi anggaran menjadi tidak merata jika hanya bersandar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kabupaten OKI ini wilayahnya sangat luas. Pemerataan pembangunan tidak mungkin hanya mengandalkan APBD yang terbatas. Karena itu, sinergi dengan dunia usaha menjadi kebutuhan yang harus dibangun secara terkoordinasi,” ungkap Deru saat memberikan sambutan di tengah masyarakat Air Sugihan.
Resiliensi Konektivitas
Air Sugihan bukanlah wilayah yang mudah ditaklukkan secara teknis. Karakteristik lahan yang lunak dan rawa menuntut spesifikasi konstruksi yang mumpuni agar jalan tidak cepat hancur oleh beban kendaraan industri maupun cuaca ekstrem.
Jalan rabat beton yang baru saja diresmikan ini memiliki ketebalan hingga 21 sentimeter dengan lebar mencapai 8 meter. Penggunaan wire mesh dalam struktur pengecoran menunjukkan bahwa jalan ini dirancang untuk durabilitas tinggi, mengantisipasi arus logistik yang berat menuju kawasan industri dan pemukiman.
Bupati OKI, Muchendi, melihat bahwa kontribusi sektor swasta di wilayah ini telah membentuk pola pembangunan yang berkelanjutan. Sebelum akses 1,4 kilometer ini rampung, PT OKI Pulp & Paper Mills juga telah menyelesaikan pembangunan jalan sepanjang 4,3 kilometer melalui mekanisme kolaboratif.
Bagi Muchendi, kehadiran korporasi harus mampu menjadi akselerator bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
“Kontribusi perusahaan sangat membantu percepatan pembangunan infrastruktur di Air Sugihan. Kolaborasi seperti ini sangat krusial agar manfaat dari keberadaan industri benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk kemudahan aksesibilitas,” tutur Muchendi.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak berpangku tangan; alokasi dana Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga dikucurkan untuk membangun jalan cor sepanjang 1,2 kilometer di pusat Kecamatan Desa Kerta Mukti.
Intervensi Dasar
Namun, kebutuhan masyarakat Air Sugihan tidak berhenti pada akses darat. Sebagai wilayah pesisir yang dikelilingi perairan asin dan payau, pemenuhan air bersih menjadi tantangan menahun yang berat bagi warga. Paradoks “berlimpah air namun sulit minum” ini mulai diurai melalui komitmen normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur air bersih.
Dalam peninjauan lokasi yang terdampak banjir beberapa waktu lalu, pihak perusahaan telah menyatakan komitmennya untuk mendukung penyediaan layanan dasar tersebut. Pembangunan Sarana Pengolahan Air Minum (SPAM) Air Sugihan direncanakan akan dilanjutkan tahun ini.
Melalui pembangunan Instalasi Pengelolaan Air (IPA) oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sumber air baku atau intake akan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki PT OKI Pulp.
Targetnya tidak main-main: 7.200 sambungan rumah sedang diupayakan melalui integrasi kebijakan pemerintah provinsi dan kabupaten.
“Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan menjadi model kemitraan pembangunan di wilayah lain di OKI. Keamanan akses jalan dan ketersediaan air bersih adalah dua pilar utama peningkatan kualitas hidup warga di sini,” tambah Muchendi.

Kedaulatan Ekonomi
Dari kacamata ekonomi makro, pembangunan jalan di kawasan Bukit Batu hingga Air Sugihan ini memiliki dampak berantai (multiplier effect). Vice Director PT OKI Pulp & Paper Mills, Gadang Harto Hartawan, menjelaskan bahwa penataan ruang milik jalan (RMJ) menjadi perhatian khusus guna mencegah penyempitan badan jalan akibat pertumbuhan pemukiman dan aktivitas usaha mikro di sekitar Pasar Jeti Sungai Baung.
“Pembangunan jalan ini adalah komitmen kami untuk mendukung konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa jalur distribusi penting ini tetap lancar, sehingga arus transportasi perdagangan dan aktivitas sosial warga tidak terhambat,” jelas Gadang.
Proyek yang pengerjaannya memakan waktu sekitar dua bulan sejak Oktober 2025 ini kini menjadi jalur vital yang menghubungkan kawasan industri dengan pusat-pusat perdagangan lokal.
Potret pembangunan di Air Sugihan ini memberikan pelajaran berharga mengenai pengelolaan wilayah terluas. Ketika pemerintah mampu mendudukkan korporasi sebagai mitra pembangunan yang setara, maka keterbatasan APBD bukan lagi menjadi tembok penghalang bagi terciptanya pemerataan infrastruktur.
Di Air Sugihan, aspal dan beton bukan sekadar benda mati, melainkan jembatan menuju kedaulatan ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini terpinggirkan oleh jarak.
(puputzch)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




