Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menitipkan keberlanjutan predikat “Zero Konflik” kepada para alumni pesantren. Konsolidasi lintas organisasi Islam menjadi modal sosial untuk menangkal polarisasi di tengah masyarakat.
PALEMBANG, NUSALY – Suasana di Griya Agung Palembang, Minggu (8/3/2026) petang, tidak terasa seperti pertemuan birokrasi yang kaku. Di sana, ratusan alumni Pondok Modern Gontor yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Palembang duduk bersila, berbaur dengan para santri dan wali murid.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, yang duduk di tengah mereka, tampak tidak sedang menjalankan protokoler kepemimpinan, melainkan sedang merajut kembali simpul-simpul kekuatan moral yang sempat lama tak berkumpul di “Rumah Rakyat” tersebut.
Bagi Herman Deru, alumni pesantren adalah jangkar. Di tengah dunia yang kian bising oleh disinformasi dan potensi gesekan horizontal, para santri memiliki disiplin berpikir yang jernih.
Pertemuan ini menjadi krusial karena Sumatera Selatan sedang mempertaruhkan satu hal yang paling berharga: predikat sebagai wilayah Zero Konflik. Dan di mata sang Gubernur, para alumni pesantren adalah garda terdepan yang menjaga agar api konflik tidak pernah menyala di Bumi Sriwijaya.
Bukan Sekadar Reuni
Pertemuan besar ini adalah yang pertama sejak tahun 2014 di Griya Agung. Ketua IKPM Palembang, Syamsudari, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Baginya, undangan berbuka puasa dari Herman Deru adalah pengakuan nyata atas peran strategis kaum santri dalam pembangunan daerah.
Namun, bagi Herman Deru, ini lebih dari sekadar reuni atau acara seremonial tahunan. Ini adalah upaya “menjahit” kembali harmoni lintas organisasi Islam.
Gubernur secara terbuka memuji bagaimana alumni Gontor mampu mewarnai berbagai organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, hingga LDII tanpa kehilangan identitas kesantriannya.
“Meskipun bendera organisasinya berbeda, saya titip satu hal: tetaplah saling menghargai. Jangan biarkan perbedaan menjadi celah untuk memecah belah kita,” ungkap Deru. Pesan ini bukan tanpa alasan. Di tengah keberagaman Sumsel, sikap saling menghargai (tasamuh) adalah oksigen bagi perdamaian daerah.
Pendidikan Tanpa Jarak
Satu hal yang menarik dari sorotan Herman Deru adalah soal distribusi kualitas pendidikan. Ia menyadari bahwa tidak semua anak Sumsel bisa berangkat ke Ponorogo untuk mencicipi langsung pendidikan di pusat Gontor.
Namun, ia tidak khawatir. Mengapa? Karena para alumni yang kini tersebar di berbagai pelosok Sumatera Selatan telah membawa “ruh” Gontor itu ke pesantren-pesantren lokal.
“Pendidiknya adalah alumni langsung dari sana, maka kualitasnya saya yakin setara. Ini yang membuat saya tenang,” ujar Deru.
Pengakuan ini memberikan suntikan moral bagi para pendidik di daerah. Herman Deru ingin memastikan bahwa Sumatera Selatan tidak hanya menjadi lumbung pangan, tapi juga lumbung intelektual Muslim yang moderat.
Dengan kualitas pendidikan yang merata, anak-anak di desa-desa Sumsel memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia.
Aspirasi Rumah Bersama
Di sela-sela kehangatan acara, muncul sebuah aspirasi yang telah dipendam selama 75 tahun perjalanan IKPM: kebutuhan akan kantor sekretariat permanen.
Syamsudari menyampaikan bahwa sebagai organisasi yang kian berkembang dengan ribuan anggota, IKPM membutuhkan pusat koordinasi untuk menjalankan aktivitas dakwah dan sosial mereka secara lebih terstruktur.
Herman Deru merespons aspirasi ini dengan nada yang akomodatif. Baginya, sebuah kantor sekretariat bagi alumni pesantren bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keberadaan pusat pemikiran Islam yang konstruktif di Sumatera Selatan.
Memudahkan koordinasi para alumni berarti memudahkan pemerintah dalam menyosialisasikan program-program pembangunan manusia di tingkat akar rumput.
Ketahanan Moral
Secara sosiologis, hubungan erat antara Gubernur dan komunitas pesantren ini menciptakan ketahanan moral bagi provinsi. Herman Deru tahu betul bahwa kebijakan pemerintah tidak akan efektif tanpa dukungan tokoh agama dan intelektual Muslim di lapangan.
Alumni pesantren yang dihormati di lingkungannya adalah mitra paling efektif untuk membicarakan isu-isu sensitif, mulai dari toleransi hingga penanggulangan kemiskinan.
Acara buka puasa ini ditutup dengan komitmen yang tak tertulis namun terasa kuat: Sumatera Selatan harus tetap menjadi rumah yang aman bagi siapa pun.
Herman Deru telah membuktikan bahwa dengan merangkul para santri, ia sedang menjaga nafas damai di Bumi Sriwijaya tetap panjang. Stabilitas inilah yang menjadi modal dasar bagi kemajuan Sumatera Selatan ke depan. (desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





