Di bawah temaram lampu masjid Desa Pematang Sukatani, sekat-sekat antara seragam loreng dan kain sarung perlahan tanggal. Satgas TMMD ke-128 tidak datang membawa senapan, melainkan membawa doa dan keinginan untuk mendengarkan denyut nadi masyarakat di pelosok Mesuji Makmur.
OGAN KOMERING ILIR, NUSALY – Malam di Desa Pematang Sukatani, Kamis (23/4/2026), terasa lebih hangat dari biasanya. Di dalam sebuah bangunan masjid dengan cat kuning yang mulai mengelupas di beberapa sudut, puluhan laki-laki duduk bersila dalam barisan yang rapat. Di sana, tidak ada protokol kaku atau batas jabatan. Bahu seorang prajurit Satgas TMMD ke-128 bersentuhan langsung dengan bahu petani karet yang baru saja pulang dari ladang.
Kegiatan doa bersama ini menjadi penanda bahwa kehadiran TNI di Kecamatan Mesuji Makmur bukan sekadar urusan teknis alat berat atau pengerasan jalan. Ada misi yang lebih sunyi namun mendasar: merajut kembali kedekatan emosional yang seringkali luntur oleh hiruk-pikuk kedinasan.
Letda Arh Daniel Surya, yang memimpin para prajurit malam itu, menatap dalam ke arah warga. Baginya, TMMD adalah tentang membangun harapan sebelum membangun semen dan batu.
“Kita memohon kelancaran, tapi lebih dari itu, kita menyatukan hati. Tanpa restu dari warga dan Tuhan, bangunan fisik sehebat apa pun akan terasa hambar,” ungkapnya dengan nada rendah yang khidmat.

Mengaji dan Tertawa Bersama
Kekuatan dari kemanunggalan ini justru terlihat di luar naskah pidato. Di satu sudut ruangan, beberapa prajurit terlihat membimbing anak-anak desa membentangkan kitab suci. Jari-jari yang biasanya akrab dengan pelatuk senjata, kini dengan sabar menunjuk baris-baris ayat, menuntun lidah-lidah kecil itu mengeja kebaikan. Tak ada ketegangan; yang ada hanyalah suasana belajar yang cair antara paman dan keponakan.
Suasana semakin “cair” saat acara beralih ke sesi makan bersama di atas lantai porselen putih yang sederhana. Berbekal piring-piring plastik berisi penganan pasar dan gelas-gelas teh, tawa mulai pecah. Seorang prajurit tertawa lebar mendengar guyonan warga, sementara di sisi lain, Bapak Sumarno, salah satu sesepuh desa, tak henti-hentinya melempar senyum.
Bagi Sumarno dan warga Pematang Sukatani, kehadiran Satgas TMMD adalah angin segar di tengah tantangan hidup perdesaan. “Mereka tidak hanya memperbaiki jalan kami, tapi mau duduk di lantai yang sama dengan kami. Itu jauh lebih berharga,” tutur Sumarno dengan mata berbinar.
Melawan Isolasi dengan Nurani
Jika merujuk pada data BPS OKI, wilayah ini memang membutuhkan sentuhan lebih dari sekadar infrastruktur. Tantangan geografis seringkali menciptakan isolasi yang tidak hanya memutus akses ekonomi, tapi juga akses sosial. TMMD hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kembali nurani kolektif antara negara dan rakyatnya.
Pematang Sukatani bukan hanya titik koordinat dalam peta operasi militer. Malam itu, ia menjadi ruang pembuktian bahwa sinergi adalah tentang kesediaan untuk saling mendoakan. Saat doa penutup dilantunkan, kepala-kepala tertunduk dalam kepasrahan yang sama.
Di sana, hanya ada satu harapan yang membubung ke langit Mesuji Makmur: agar pembangunan ini tidak hanya memuluskan jalan bagi kendaraan, tapi juga memuluskan jalan bagi kesejahteraan lahir dan batin warga desa.
Malam semakin larut, namun tawa di masjid itu belum juga reda. Sinergi itu nyata, bukan di atas baliho, tapi di antara suapan nasi dan lantunan doa di pelosok Ogan Komering Ilir. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





