Scroll untuk baca artikel
Banner Sumsel Maju untuk Semua

Banner Bijak Digital Pemkab MUBA

Laporan Utama

Tertinggi di Sumatera Selatan, Puluhan Ribu Anak Tidak Sekolah di OKI Jadi Target Relawan Pendidikan

×

Tertinggi di Sumatera Selatan, Puluhan Ribu Anak Tidak Sekolah di OKI Jadi Target Relawan Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Tertinggi di Sumatera Selatan, Puluhan Ribu Anak Tidak Sekolah di OKI Jadi Target Relawan Pendidikan
Foto Ilustrasi dibuat dengan AI. Dok. Nusaly.com

Anomali pemenuhan hak dasar anak mencuat di tengah laju modernisasi daerah pedesaan. Penerjunan gugus tugas relawan di tingkat tapak menjadi pertaruhan dalam memvalidasi sengkarut data guna menyelamatkan generasi yang hilang.

KAYUAGUNG, NUSALY – Potret buram dunia pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan kini menghadapkan otoritas daerah pada tantangan krusial. Di tengah komitmen global mengenai pemerataan akses belajar, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dilaporkan melonjak tajam hingga menempatkan wilayah ini di peringkat teratas dalam rapor merah krisis pemenuhan hak dasar anak.

Berdasarkan data pokok pendidikan regional terbaru, grafik angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten OKI telah menembus angka fantastis, yakni sebanyak 22.082 anak. Fenomena hilangnya ribuan generasi muda dari bangku sekolah formal maupun nonformal ini memicu alarm darurat bagi masa depan pembangunan manusia di Bumi Bende Seguguk.

Merespons kenyataan pahit tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten OKI mengambil langkah taktis di luar jalur birokrasi biasa. Otoritas pendidikan setempat resmi membentuk dan menerjunkan “pasukan khusus” berupa relawan pendidikan lintas elemen yang ditugaskan khusus melakukan intervensi, pendekatan psikologis, serta mitigasi langsung di lapangan.

Sebagai proyek percontohan awal di Sumatera Selatan, pergerakan para relawan bentukan ini akan difokuskan untuk menyisir dan membongkar kantong-kantong sebaran ATS di tiga wilayah kecamatan utama yang mencatatkan indeks kerentanan tertinggi. Ketiga wilayah itu meliputi Kecamatan Kayuagung, Kecamatan Pedamaran, dan Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang.

“Angka puluhan ribu ini menjadi fokus mutlak kami ke depan agar tidak ada lagi anak-anak di OKI yang kehilangan hak belajarnya. Para relawan yang diterjunkan bertugas memberikan motivasi sekaligus meruntuhkan dinding hambatan sosial-ekonomi masyarakat yang memicu terjadinya ATS,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI M Refly di Kayuagung, Sabtu (23/5/2026).

Melawan sengkarut perbedaan data

Urgensi pembentukan gugus tugas relawan khusus ini menjadi hal yang mendesak mengingat kompleksnya faktor pemicu di tingkat bawah. Selain persoalan himpitan ekonomi keluarga dan minimnya akses geografis, tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah daerah selama ini adalah terjadinya bias data administratif.

Sering kali, angka statistik yang tercatat di atas meja birokrasi pusat berbeda jauh dengan realitas riil di lapangan. Banyak anak yang terdata putus sekolah ternyata telah berpindah domisili mengikuti orang tua menyadap karet, atau justru terjebak dalam lingkaran pekerja anak di bawah umur pada sektor marjinal.

Oleh karena itu, sebelum diterjunkan ke wilayah tapak, para relawan telah dibekali metodologi pendataan mendalam dan teknik wawancara persuasif. Output dari penyisiran berlapis ini ditargetkan mampu menghasilkan basis data tunggal yang akurat sebagai fondasi penentuan kebijakan pengentasan instruksional berikutnya.

“Di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, hanya Kabupaten OKI yang mendapatkan mandat program relawan pendidikan ini karena urgensi angkanya yang tinggi. Kita memerlukan pendataan yang sangat jeli agar intervensi pengembalian anak ke sekolah tepat sasaran dan tidak salah kelola,” kata Kabid PAUD dan Dikmas Disdik OKI Desi Puspita menjelaskan.

Kolaborasi penyelamatan generasi

Langkah darurat yang ditempuh Dinas Pendidikan OKI ini memicu perhatian dari berbagai kalangan pengamat kebijakan publik. Keberadaan relawan dinilai tidak akan mampu menyelesaikan akar masalah secara permanen jika tidak dibarengi dengan jaminan pembiayaan sekolah gratis yang konsisten serta pembenahan fasilitas ruang kelas di wilayah perairan dan pelosok daratan OKI.

Pihak dinas menegaskan akan membuka ruang koordinasi dan evaluasi selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi hambatan non-teknis maupun resistensi sosial yang mungkin ditemui relawan saat berhadapan dengan orang tua murid di lapangan.

Keberanian Kabupaten OKI dalam mengakui status darurat pendidikan ini menuntut konsistensi komitmen anggaran jangka panjang.

Keberhasilan pasukan relawan dalam memvalidasi dan mengembalikan hak belajar bagi 22.082 anak ini akan menjadi tolok ukur utama, apakah gerakan ini mampu memutus mata rantai kemiskinan struktural daerah atau sekadar menjadi pemadam kebakaran sementara di awal tahun ajaran. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang