Scroll untuk baca artikel
Banner Sumsel Maju untuk Semua

Banner Bijak Digital Pemkab MUBA

SAYANGI OKU

Tanpa Beban APBD, Kabupaten OKU Siap Adopsi Teknologi Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar

×

Tanpa Beban APBD, Kabupaten OKU Siap Adopsi Teknologi Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar

Sebarkan artikel ini
Tanpa Beban APBD, Kabupaten OKU Siap Adopsi Teknologi Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar
Bupati OKU Teddy Meilwansyah melakukan peninjauan langsung terhadap sistem kerja fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant di Jakarta, Jumat (22/5/2026). Dok. Diskominfo OKU

Transisi manajemen pengelolaan limbah domestik menuju kemandirian energi mulai dijajaki secara serius oleh pemerintah daerah. Skema kerja sama murni bisnis tanpa biaya pengolahan diharapkan mampu menyelamatkan kas daerah sekaligus memulihkan kualitas lingkungan hidup.

JAKARTA, NUSALY – Pola penanganan masalah lingkungan perkotaan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, bersiap melakukan lompatan besar.

Menghadapi ancaman kelebihan kapasitas lahan tempat pembuangan akhir dan tingginya biaya operasional pemeliharaan konvensional, pemerintah daerah mulai mengalihkan pandangan pada pemanfaatan teknologi pengelolaan mekanis bernilai ekonomi tinggi.

Langkah taktis tersebut dipastikan setelah Bupati OKU Teddy Meilwansyah melakukan peninjauan langsung terhadap sistem kerja fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Kunjungan lapangan di Saringan Sampah TB Simatupang ini merupakan bagian dari finalisasi cetak biru penjajakan kemitraan teknologi bersama pihak swasta.

Dalam skema konvensional yang berjalan selama ini, manajemen kebersihan kota hampir selalu menjadi pos pengeluaran yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik untuk biaya angkut maupun ongkos pengolahan sampah (tipping fee).

Namun, melalui terobosan teknologi RDF yang ditawarkan oleh PT Asiana Technologies Lestary, pola hubungan tersebut akan diubah secara total menjadi skema investasi mandiri.

Pemerintah daerah tidak perlu mengucurkan dana sepeser pun untuk pembangunan pabrik maupun biaya pemrosesan harian. Sebaliknya, korporasi pengembang akan menyewa lahan di dalam kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) milik pemerintah kabupaten, sehingga momentum ini sekaligus memicu lahirnya kantong Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru.

“Selama ini sistem pengelolaan kita masih sangat tradisional dan terus menyedot anggaran daerah. Teknologi RDF ini hadir sebagai solusi tepat karena volume sampah bisa dikikis habis, lingkungan menjadi bersih, dan daerah justru mendapatkan pemasukan dari sewa lahan tanpa keluar biaya operasional,” ujar Teddy Meilwansyah di Jakarta.

Menjawab pasokan bahan bakar industri

Secara teknis, fasilitas RDF ini bekerja dengan cara memilah, mencacah, dan mengeringkan tumpukan limbah domestik hingga memiliki nilai kalor yang stabil.

Output akhir yang dihasilkan berupa bongkahan bahan bakar padat alternatif yang siap diserap oleh industri skala besar, seperti pabrik semen, sebagai substitusi utama batu bara yang merupakan bahan bakar fosil murni.

Keberadaan industri manufaktur semen di wilayah Sumatera Selatan menjadi potensi pasar yang sangat menjanjikan untuk menyerap hasil produksi dari pabrik RDF OKU ke depan.

Dengan demikian, proyek lingkungan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan hulu di tingkat pemukiman warga, melainkan ikut membantu sektor hilir industri dalam memenuhi target penurunan emisi karbon global.

Melalui penerapan sistem pengolahan terpadu ini, volume sampah yang masuk dan menumpuk di TPA lokal diproyeksikan dapat ditekan hingga ke level minimum. Hal ini secara otomatis akan memperpanjang usia pakai lahan pembuangan sekaligus meminimalkan potensi pencemaran air tanah akibat air lindi di sekitar kawasan hunian masyarakat.

Menuju daerah percontohan hijau

Rencana kerja sama investasi hijau ini dinilai berbagai pengamat kebijakan publik sebagai langkah berani yang patut ditiru oleh kabupaten lain di Sumatera Selatan. Keberanian melepas ketergantungan dari APBD dan mempercayakan tata kelola teknis kepada profesional swasta menjadi indikator kematangan kepemimpinan dalam merespons keterbatasan fiskal daerah.

Pihak pengembang menyatakan komitmen penuhnya untuk mempercepat realisasi pembangunan fisik di lapangan begitu seluruh dokumen administrasi diselesaikan.

Kepala Penjualan Domestik & Internasional PT Asiana Technologies Lestary Boris Evan menegaskan bahwa Kabupaten OKU memiliki posisi geografis dan volume pasokan harian yang sangat ideal untuk dijadikan model percontohan nasional.

Sebagai langkah lanjutan, jajaran Dinas Lingkungan Hidup bersama instansi teknis terkait di lingkungan Pemkab OKU diinstruksikan segera menggelar rapat maraton untuk mematangkan draf perjanjian kerja sama hukum dan tata ruang lokasi.

Publik kini menanti konsistensi eksekusi dari rencana besar ini, apakah pabrik RDF tanpa APBD ini benar-benar mampu mengubah wajah tata kota OKU menjadi lebih asri atau sekadar menjadi wacana investasi di atas meja birokrasi. (Jum Radit)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang