Ribuan rumah di Kabupaten Musi Rawas Utara terendam banjir akibat luapan Sungai Rupit yang dipicu curah hujan ekstrem. Selain merusak permukiman, derasnya arus juga memutus jembatan gantung yang menjadi tumpuan mobilitas antar-desa.
MURATARA, NUSALY – Alam kembali menguji ketangguhan warga di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir memicu meluapnya Sungai Rupit secara drastis pada Kamis (7/5/2026).
Banjir mulai merangkak naik dan mengepung permukiman warga sejak dini hari, memaksa ribuan jiwa terjaga di tengah kepungan air.
Dua kecamatan, yakni Rupit dan Karang Jaya, menjadi wilayah yang paling terdampak dalam gelombang pertama luapan ini.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara, ketinggian air di titik terdalam dilaporkan mencapai 1 meter, merendam ribuan rumah yang sebagian besar berada di bantaran sungai.
Infrastruktur Lumpuh
Dampak bencana kali ini tidak hanya menyasar hunian warga, tetapi juga melumpuhkan akses transportasi lokal. Derasnya arus Sungai Rupit mengakibatkan dua jembatan gantung di Desa Tanjung Beringin dan Desa Terusan, Kecamatan Karang Jaya, putus total.
Hilangnya dua infrastruktur ini menjadi pukulan berat bagi warga karena perannya yang sangat vital dalam menghubungkan antar-desa.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Muratara H Mugono menjelaskan bahwa pendataan kerugian materiil akibat rusaknya fasilitas umum tersebut masih terus berjalan.
“Ada dua jembatan gantung putus akibat derasnya arus. Kondisi ini menyulitkan akses logistik dan mobilitas warga di lapangan,” jelas Mugono, Kamis siang.
Dampak Meluas
Hingga laporan terakhir diterima, debit air Sungai Rupit terpantau masih dalam kondisi pasang. Berdasarkan pola topografi wilayah, BPBD memprediksi genangan air akan terus bergerak mengikuti aliran sungai menuju daerah hilir.
Tiga kecamatan lain, yakni Karang Dapo, Rawas Ilir, dan sebagian wilayah Rupit lainnya, kini berada dalam status waspada tinggi terhadap potensi perluasan banjir.
Tercatat sebanyak 2.867 rumah atau setara dengan jumlah kepala keluarga yang sama kini terdampak secara langsung. Meskipun lantai rumah mereka telah tergenang, sebagian besar warga memilih untuk bertahan di bagian rumah yang lebih tinggi sembari menjaga harta benda.
Kesiagaan Warga
Otoritas bencana setempat terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama jika hujan kembali turun di wilayah hulu. Potensi kenaikan debit air susulan masih sangat terbuka mengingat cuaca yang belum menentu. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama di tengah kondisi alam yang sulit diprediksi ini.
Warga diminta segera melapor ke posko darurat apabila memerlukan bantuan evakuasi atau logistik. Penanganan pascabanjir, terutama perbaikan jembatan yang putus, diharapkan menjadi prioritas pemerintah daerah agar isolasi antar-wilayah tidak berlangsung berlarut-larut.
Tantangan di depan kini bukan hanya soal surutnya air, melainkan pemulihan urat nadi ekonomi warga yang terputus diterjang arus. (nvr)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





