Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Idul Fitri 1447 H

Banner Lebaran Pemkab MUBA

Banner Idul Ftri DPRD OKI

Banner Idul Fitri Perumda Tirta Ogan
Muba Maju Lebih Cepat

Bupati Toha Pasang Badan untuk Masa Depan Siswa Bayung Lencir

×

Bupati Toha Pasang Badan untuk Masa Depan Siswa Bayung Lencir

Sebarkan artikel ini
Bupati Toha Pasang Badan untuk Masa Depan Siswa Bayung Lencir
Bupati Muba Toha Tohet instruksikan mediasi darurat konflik siswa di Bayung Lencir demi masa depan sekolah anak di Simpang Kurun. Dok. Diskominfo Muba

Perseteruan orang tua di Desa Simpang Kurun jangan sampai merampas hak anak untuk masuk kelas. Bupati Musi Banyuasin bereaksi keras dengan memerintahkan mediasi kilat guna menjamin anak-anak di pelosok Bumi Serasan Sekate tidak kehilangan bangku sekolah akibat konflik orang dewasa.

SEKAYU, NUSALY – Riuh rendah apel gabungan di halaman Kantor Bupati Muba, Selasa (31/3/2026), mendadak punya agenda darurat. Bupati Toha Tohet tidak ingin terjebak hanya pada urusan administrasi di atas meja. Sebuah laporan dari pelosok Kecamatan Bayung Lencir mengusik nuraninya. Kabar tentang dua siswa di Desa Simpang Kurun (SP3) yang terancam putus sekolah gara-gara perselisihan orang tua mereka sendiri. Bagi Toha, ini adalah alarm bahaya bagi masa depan daerah.

Ia tidak ingin melihat ada anak yang takut melangkah ke sekolah hanya karena intimidasi atau ego orang dewasa yang meledak di luar pagar institusi pendidikan. Pemerintah Kabupaten Muba harus hadir. Langkah taktis diperintahkan saat itu juga. Toha sadar betul, setiap menit yang terbuang dalam konflik seperti ini adalah kerugian besar bagi perkembangan psikologis sang anak.

Mandat tegas langsung meluncur ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Camat Bayung Lencir. Instruksinya pendek saja. Turun ke lokasi dan selesaikan dengan kepala dingin. Toha mengharamkan cara-cara kaku dalam menangani masalah pendidikan. Pendekatan dialogis harus dikedepankan. Orang tua yang bertikai perlu diingatkan kembali bahwa masa depan anak mereka jauh lebih berharga daripada memelihara dendam pribadi yang tidak berujung.

Masalah antar-murid seharusnya selesai di ruang bimbingan konseling sekolah. Bukan justru diperlebar menjadi sengketa antar-keluarga yang melibatkan emosi liar. Toha meminta setiap pihak menjamin proses belajar mengajar tetap berlangsung tanpa gangguan. Anak-anak yang terjepit di tengah konflik ini harus merasa aman kembali untuk menuntut ilmu. Hak belajar adalah mandat suci yang tidak boleh dikompromikan oleh siapa pun di Bumi Serasan Sekate.

“Jangan sampai persoalan ini membuat anak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” tegas Toha. Nada bicaranya tidak menyisakan ruang debat. Ia memandang kualitas generasi penerus daerah sedang dipertaruhkan. Jika satu siswa saja sampai berhenti sekolah karena urusan sepele yang dibesar-besarkan orang tua, maka itu adalah noktah merah bagi sistem pendidikan di Kabupaten Muba.

Pendidikan adalah Benteng Terakhir

Bagi Toha, gangguan pada akses sekolah adalah ancaman nyata bagi masa depan daerah. Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas ijazah. Ini soal investasi manusia. Oleh sebab itu, sinergi antara dinas, camat, hingga perangkat desa menjadi kunci utama. Mereka harus bergerak sebagai satu tim pemadam kebakaran sosial di lingkungan sekolah.

Langkah cepat di Simpang Kurun menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah tidak sedang tidur. Toha ingin setiap anak, dari mana pun asalnya, tetap punya peluang yang sama untuk sukses. Tidak ada tempat untuk diskriminasi. Perselisihan keluarga tidak boleh menjadi alasan pembenar bagi seorang siswa untuk kehilangan haknya mendapatkan pengajaran yang layak dan aman di bawah atap sekolah.

Komitmen ini nyata. Dengan mengirimkan tim langsung ke Bayung Lencir, Bupati Muba menunjukkan bahwa laporan warga di pelosok tetap didengar secara serius. Sisi humanis kepemimpinan Toha terlihat jelas di sini. Ia memposisikan dirinya sebagai perisai bagi anak-anak yang mungkin tidak mengerti mengapa orang tua mereka saling bersitegang.

Menjamin Sterilisasi Sekolah dari Konflik

Mediasi di Bayung Lencir ini punya misi besar lainnya: menjaga kondusivitas sosial. Sekolah wajib menjadi zona netral yang bersih dari segala polusi perselisihan eksternal. Dengan penyelesaian secara kekeluargaan, hubungan antar-warga diharapkan pulih total. Guru dan tenaga kependidikan di lapangan juga bisa kembali fokus pada tugas utama mereka mengajar tanpa harus ikut terbebani oleh drama wali murid yang memanas.

Toha menandaskan bahwa penyelamatan masa depan siswa adalah bagian integral dari visi pembangunannya. Setiap anak di Bumi Serasan Sekate harus merasa dipayungi oleh pemerintahnya sendiri. Pendidikan adalah eskalator utama untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, pintu sekolah harus tetap terbuka lebar tanpa hambatan apa pun.

Pekerjaan rumah di Muba memang menumpuk, mulai dari urusan jalan rusak hingga penguatan ekonomi rakyat. Namun, perhatian khusus terhadap nasib personal satu-dua siswa membuktikan bahwa setiap masa depan warga Muba punya nilai yang sangat tinggi. Pendidikan tetap menjadi prioritas utama yang tidak akan pernah ditawar oleh dinamika sosial apa pun. Di tangan anak-anak inilah, wajah masa depan Musi Banyuasin sedang dipertaruhkan dengan penuh pertaruhan. (*/dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.