Penyerahan sertifikat lahan sanggar seni dan bantuan sosial oleh Bupati Muba Toha Tohet di Sungai Lilin menjadi langkah strategis memperkuat identitas daerah. Di tengah suasana Ramadhan, kebijakan HM Toha Tohet SH ini hadir sebagai respons atas pentingnya proteksi hukum bagi aset kebudayaan sekaligus menjaga kohesi sosial masyarakat melalui aksi berbagi.
SUNGAI LILIN, NUSALY – Upaya merawat jati diri daerah di tengah arus modernitas yang kian menderas menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan di tingkat lokal. Di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), langkah tersebut mewujud dalam tindakan nyata saat Bupati Muba Toha Tohet menyambangi Masjid Al-Muttaqien, Desa Mekar Jadi, Kecamatan Sungai Lilin, Rabu (4/3/2026).
Kehadiran Toha dalam agenda Tarhib Ramadhan bersama Badan Musyawarah Keluarga Ogan Ilir (Bamukoi) Muba tersebut menegaskan kembali visi besarnya: bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus berjalan seiring dengan penguatan akar budaya dan spiritualitas. Momentum bulan suci ini dimanfaatkan Bupati Toha untuk menyerahkan sertifikat lahan Sanggar Seni Bamukoi serta menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat luas.
Bagi masyarakat Muba, kehadiran pimpinan daerah di tengah menjalankan ibadah puasa membawa makna tersendiri. Namun, bagi birokrat dan pengamat kebijakan, langkah ini merupakan bentuk konsolidasi modal sosial. Bupati Toha tidak hanya hadir untuk menyapa, tetapi membawa solusi atas masalah klasik yang sering dihadapi organisasi kemasyarakatan, yakni ketidakpastian legalitas aset.
Kedaulatan Hukum sebagai Benteng Budaya
Agenda penyerahan sertifikat lahan sanggar seni oleh Bupati Toha dipandang sebagai kebijakan yang melampaui sekadar urusan administrasi pertanahan. Secara sosiologis, sanggar seni di wilayah pedesaan sering kali berdiri di atas lahan dengan status hukum yang lemah atau bersifat pinjam pakai, yang dalam jangka panjang rentan terhadap alih fungsi lahan.
Bupati Toha menyadari bahwa tanpa kepastian hukum, transmisi nilai-nilai budaya kepada generasi muda akan selalu dibayangi ketidakpastian. Dengan menyerahkan sertifikat secara langsung, ia memastikan bahwa Sanggar Seni Bamukoi memiliki “rumah” yang sah dan mapan secara hukum. Ini adalah bentuk proteksi negara terhadap simbol-simbol kebudayaan agar tidak lekang oleh waktu atau kalah oleh kepentingan sektoral lainnya.
“Legalitas lahan ini adalah dasar agar Sanggar Seni Bamukoi memiliki fondasi yang kokoh untuk berkembang. Kita ingin akar budaya Muba tetap kuat, dan itu dimulai dari kedaulatan tempat para penggerak seni ini bernaung. Kebudayaan adalah investasi karakter, dan pemerintah harus hadir menjamin keberlangsungannya,” tegas Toha dalam sambutannya yang disambut antusias oleh para tokoh adat.
Keberhasilan melegalkan lahan ini juga merupakan buah dari kolaborasi warga yang luar biasa. Nama Yessi Herlianti sebagai pewakaf lahan dan tokoh Bamukoi Muslim (Mang Lim) disebut Bupati sebagai contoh sinergi civil society yang harmonis dengan visi pemerintah daerah. Di bawah kepemimpinan Toha, partisipasi aktif warga dalam menghibahkan aset untuk kepentingan publik mendapatkan apresiasi tertinggi melalui fasilitasi sertifikasi yang cepat dan transparan.
Solidaritas di Jantung Ramadhan
Di sisi lain, dimensi humanis kepemimpinan Bupati Toha terpancar jelas saat ia menyerahkan langsung paket bantuan berupa sembako, sarung, dan sajadah kepada warga. Bantuan ini bukan sekadar pemberian rutin, melainkan instrumen “bantalan sosial” guna menjaga stabilitas dan kerukunan warga selama menjalankan ibadah.
Secara ekonomi, distribusi bantuan di pertengahan bulan puasa ini berfungsi untuk menjaga daya beli masyarakat di tingkat desa. Bupati menekankan bahwa bulan Ramadhan harus menjadi laboratorium solidaritas sosial. Ia mendorong agar organisasi kemasyarakatan seperti Bamukoi tidak hanya fokus pada penguatan internal, tetapi juga menjadi motor penggerak kepedulian di lingkungannya.
“Bulan suci harus menjadi penguat iman sekaligus penguat kepekaan kita terhadap sesama. Saya mengapresiasi tinggi inisiatif keluarga besar Bamukoi yang telah menggelar kegiatan berbagi ini. Semoga menjadi stimulus bagi komunitas lain di Kabupaten Muba untuk ikut menumbuhkan semangat kebersamaan,” tutur Toha.

Sinergi Kepemimpinan Kolektif
Langkah strategis Bupati Toha ini didukung sepenuhnya oleh jajaran pimpinan daerah lainnya, menunjukkan koordinasi yang solid dalam struktur pemerintahan Muba. Tampak hadir mendampingi Bupati, Wakil Bupati Muba Abdur Rohman Husen, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat Sungai Lilin Drs. Yuliarto, M.Si, serta unsur Forkopimcam.
Kehadiran paket lengkap pimpinan daerah ini memberikan pesan kuat bahwa isu sosial-budaya merupakan agenda prioritas. Sekretaris DPD Bamukoi Muba, Fahmi SH MH, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian nyata pemerintah daerah. Menurutnya, dukungan terhadap aspek legalitas sanggar seni memberikan energi baru bagi para pegiat budaya untuk terlibat lebih dalam mewujudkan program Muba Maju.
Acara yang juga diisi ceramah agama oleh H. Ufik Reza, SHI ini menjadi bukti bahwa di bawah nakhoda Bupati Toha Tohet, Muba dikelola dengan pendekatan yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan lahiriah dan batiniah masyarakatnya. Penyerahan sertifikat lahan dan bantuan sosial di Sungai Lilin ini adalah salah satu kepingan penting dari mozaik besar pembangunan Muba yang berakar pada budaya dan berlandaskan pada solidaritas sosial.
Melalui kebijakan yang responsif dan menyentuh akar rumput, Bupati Toha Tohet tidak hanya sedang menjalankan peran administratifnya, tetapi tengah menanamkan investasi sosial bagi masa depan Muba. Ramadhan di Bumi Serasan Sekate pun terasa lebih bermakna dengan hadirnya kepastian hukum bagi tradisi dan kehangatan berbagi bagi sesama. (***)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





