OGAN KOMERING ILIR, NUSALY — Langit di atas wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) belum menunjukkan tanda-tanda akan bersahabat. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak akhir pekan lalu kini berujung pada bencana hidrometeorologi. Kecamatan Lempuing dan Kecamatan Mesuji menjadi dua wilayah terdampak paling parah setelah debit air sungai meluap dan masuk ke kawasan pemukiman warga serta memutus sejumlah akses transportasi.
Kondisi kritis terjadi di Desa Sukapulih, Kecamatan Lempuing. Di desa ini, air tidak hanya sekadar menggenang, tetapi sudah merendam rumah-rumah warga dengan ketinggian yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut memaksa aparat kewilayahan untuk bergerak cepat sebelum kegelapan malam menambah risiko bahaya bagi warga yang masih terjebak di dalam hunian mereka.
Merespons situasi darurat tersebut, Koramil 402-10/Kayuagung segera menerjunkan personelnya ke lapangan. Salah satu aksi yang menjadi perhatian adalah upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Sertu Sriyono, Babinsa Koramil 402-10/Kayuagung. Dengan kewaspadaan tinggi, ia menembus genangan air yang terus meninggi untuk menjemput warga yang terisolasi.
“Prioritas utama kami adalah memastikan tidak ada warga, terutama lansia dan anak-anak, yang tertahan di dalam rumah saat debit air meningkat mendadak,” ujar Sertu Sriyono di sela-sela proses evakuasi di Desa Sukapulih, Minggu (11/1/2026).
Sinergi di Garis Depan Bencana
Proses evakuasi tidak dilakukan secara tunggal. Di lapangan, personel Kodim 0402/OKI bersinergi secara taktis dengan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten OKI serta masyarakat sekitar. Kerja sama yang solid ini menjadi kunci dalam mengamankan warga ke zona yang lebih aman atau tenda pengungsian yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Berdasarkan pemetaan di lokasi, sejumlah kawasan kini telah ditetapkan sebagai zona rawan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di wilayah tersebut guna menghindari risiko arus bawah yang kuat. Petugas di lapangan juga terus memberikan edukasi agar warga mematuhi arahan evakuasi, mengingat potensi banjir susulan masih membayangi wilayah Bumi Bende Seguguk.
Dandim 0402/OKI Letkol Inf Gunawan Wibisono, SH, menegaskan bahwa seluruh jajarannya telah disiagakan untuk membantu penuh proses penanganan bencana. TNI tidak hanya hadir pada saat evakuasi, tetapi juga berkomitmen dalam menjaga keamanan wilayah yang ditinggalkan pengungsi serta memastikan pendistribusian bantuan logistik berjalan lancar.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kehadiran personel di lapangan merupakan wujud nyata sinergi kami dengan pemerintah daerah untuk memastikan setiap masyarakat terdampak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan,” tegas Letkol Inf Gunawan Wibisono.
Ketangguhan Infrastruktur dan Mitigasi
Bencana banjir yang melanda Lempuing dan Mesuji ini kembali membuka ruang diskusi mengenai ketahanan infrastruktur wilayah terhadap cuaca ekstrem. Sebagai daerah dengan banyak aliran sungai, OKI rentan terhadap luapan air jika sistem drainase tidak berjalan optimal di tengah anomali cuaca yang kian sulit diprediksi.
Bagi masyarakat agraris di Lempuing, banjir bukan sekadar masalah tempat tinggal, tetapi juga ancaman bagi lahan pertanian. Data awal menunjukkan ratusan hektar lahan terancam terendam, yang jika tidak segera surut, dapat memicu kerugian bagi petani di awal tahun. Hal ini menuntut adanya perencanaan mitigasi yang lebih integratif antara pembangunan fisik dan kesiapan sosial.
Dalam perspektif penanggulangan bencana, kecepatan respons di lapangan memang krusial, namun yang lebih mendasar adalah penguatan kapasitas masyarakat di tingkat desa. Kodim 0402/OKI menyatakan kesiapannya untuk terus bersinergi dengan instansi terkait dalam membantu pemulihan pasca-bencana nantinya.
Mitigasi Sebelum Krisis
Aksi sigap personel TNI dan BPBD di lapangan menjadi bukti bahwa koordinasi yang cepat mampu meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa. Namun, penanganan bencana yang berulang ini menuntut pergeseran paradigma dari sekadar respons darurat menuju penguatan mitigasi jangka panjang.
Masyarakat yang bermukim di zona rawan membutuhkan kepastian sistem kendali air yang lebih masif. Di sisi lain, kepatuhan warga terhadap peringatan dini yang dikeluarkan otoritas adalah kunci keselamatan yang paling utama. Kemitraan yang terjalin erat antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap penanganan krisis, tetapi terus berlanjut hingga tercipta ketangguhan wilayah yang mandiri.
(dhi)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.







