Kehadiran sosok pengayom di tengah badai nestapa bukan sekadar urusan menegakkan hukum, melainkan tentang bagaimana membasuh luka batin sebuah keluarga yang runtuh dalam semalam.
BATURAJA, NUSALY – Sembilu seketika menyergap Desa Bumi Kawa ketika takdir menjemput Rahan Randi dengan cara yang teramat bising di kesunyian subuh.
Namun, di balik ketegangan garis polisi dan teka-teki motif yang masih menanti jawaban, ada secercah keteduhan yang hadir menembus sekat-sekat formalitas seragam cokelat, mengubah ketakutan kolektif menjadi sebuah sinergi moral untuk mencari keadilan.
Aroma duka yang pekat di rumah duka perlahan terurai saat jajaran personel kepolisian datang bukan dengan wajah kaku menyelidik, melainkan dengan tatapan mata yang penuh empati.
Kapolsek Lengkiti Iptu Jauhari Effendy, S.I.Kom, melangkah melintasi ambang pintu rumah kayu tersebut, membawa detak ketenangan di tengah tangis yang belum juga mereda dari bibir istri dan ibu kandung almarhum Rahan Randi.
Langkah taktis kepolisian kali ini melebur bersama denyut duka masyarakat bawah. Tidak ingin sekadar menjadi penonton dari balik meja birokrasi, Iptu Jauhari memilih meleburkan dirinya ke dalam barisan takdir, mengawal sang petani muda menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Saf terakhir dan pundak yang kokoh
Ritual pelepasan jenazah berjalan dengan penuh khidmat di bawah langit Lengkiti yang seolah ikut merunduk pilu. Di dalam masjid desa, keheningan pecah saat takbir salat jenazah dikumandangkan.
Iptu Jauhari Effendy berdiri tegap di saf terdepan, menyatu dalam doa-doa tulus yang dilambungkan warga. Ia berdiri khusyuk tepat di samping keranda hijau almarhum yang terbujur kaku di hadapan jemaah.
Usai doa bersama dilantunkan, sang perwira pertama tidak ragu untuk meminjamkan pundaknya. Bersama para pemuda desa, Iptu Jauhari ikut menggotong keranda besi berbalut kain hijau tersebut, menyusuri jalanan tanah Dusun IV yang menjadi saksi bisu peristiwa kelam beberapa jam sebelumnya.
Pundak berseragam dinas itu bergerak seirama dengan langkah-langkah pelayat yang berjalan beriringan. Langkah mantap Kapolsek dalam menopang beban keranda memperlihatkan ketulusan tanpa jarak di tengah pelataran pemakaman pedesaan yang masih basah. Kehadirannya menegaskan bahwa kepolisian berdiri kokoh bersama masyarakat di masa-masa tersulit.
Penyejuk di pusaran badai
Sebelum jenazah diberangkatkan, sebuah momen mengharukan terjadi di ruang tengah rumah duka yang beralaskan tikar anyaman sederhana.
Iptu Jauhari duduk bersila di hadapan istri almarhum yang tengah mendekap bayinya dengan tatapan kosong, berdampingan pula dengan ibu kandung korban yang matanya sembap kehabisan air mata.
Dalam dekapan ruang beralas tikar yang penuh sesak oleh kesedihan tersebut, Kapolsek memberikan ketegasan yang menyejukkan. Kehadirannya seolah menjadi jangkar di tengah badai emosi keluarga, membisikkan janji dan komitmen kuat bahwa hukum tidak akan menutup mata atas darah yang tumpah di Bumi Kawa.
Sentuhan humanis ini tidak hanya meredam kepanikan psikologis keluarga inti, tetapi juga memicu rasa aman bagi anak-anak kecil dan kerabat wanita yang berkumpul di sudut ruangan. Kehadiran fisik aparat di lantai rumah warga ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir langsung untuk mengusap air mata mereka.

Merajut serpihan petunjuk
Usai tanah kuburan diratakan dan taburan bunga selesai dilakukan, agenda beralih ke aspek krusial investigasi. Namun, proses ini tetap dikemas dalam pendekatan persuasif dari hati ke hati, jauh dari kesan interogasi yang kaku dan intimidatif.
Iptu Jauhari bersama anggotanya segera melakukan teknik penggalangan wilayah (community gathering) dengan mengetuk pintu-pintu dialog.
Di ruang tamu beralas kursi kayu sederhana, Kapolsek duduk bersama Kepala Desa dan seluruh perangkat desa untuk merajut kembali mozaik informasi kronologis yang sempat tercecer dari penuturan para pamong desa.
Tidak berhenti di sana, komunikasi dua arah yang cair juga berlanjut hingga ke pekarangan rumah warga pedesaan. Di bawah rindangnya pepohonan, Kapolsek berdiri melingkar bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pemuda setempat untuk memetakan riwayat sosial korban.
Melalui metode pendekatan persuasif yang berbalut silaturahmi ini, warga menyambut terbuka dan tidak ragu memberikan kesaksian.
Rasa percaya masyarakat yang telah dipupuk sejak prosesi pemakaman kini menjadi modal sosial terbesar bagi Polsek Lengkiti untuk memecahkan misteri fajar berdarah di Bumi Kawa demi tegaknya sebuah keadilan yang paripurna. (radit)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





