Scroll untuk baca artikel
Korporasi

BRI Memulihkan Harapan Pendidikan di Perbatasan Aceh

×

BRI Memulihkan Harapan Pendidikan di Perbatasan Aceh

Sebarkan artikel ini

Aksi bersih-bersih relawan di SD Negeri Tugu Upah menjadi titik awal pemulihan infrastruktur pendidikan yang luruh diterjang bencana. Melalui program “Ini Sekolahku”, BRI melakukan perbaikan prasarana secara menyeluruh guna memastikan kegiatan belajar mengajar di wilayah Aceh Tamiang kembali pulih.

BRI Memulihkan Harapan Pendidikan di Perbatasan Aceh
Sebanyak 70 relawan dari BRI Peduli turun langsung ke lapangan untuk menyingkirkan puing-puing prasarana yang rusak dan menata kembali ruang kelas yang terdampak banjir. (Dok. Istimewa)

ACEH TAMIANG, NUSALY — Di tengah sisa-sisa lumpur yang masih menggenang di halaman sekolah, suara tawa siswa SD Negeri Tugu Upah, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, perlahan mulai kembali terdengar. Bangunan sekolah yang sempat lumpuh akibat hantaman bencana di wilayah Sumatra ini menjadi saksi bisu betapa getasnya infrastruktur pendidikan di wilayah perbatasan saat berhadapan dengan alam.

Namun, pada pengujung Januari 2026 ini, harapan baru mulai disemai. Sebanyak 70 relawan dari BRI Peduli turun langsung ke lapangan untuk menyingkirkan puing-puing prasarana yang rusak dan menata kembali ruang kelas yang terdampak banjir. Aksi ini bukan sekadar bersih-bersih fisik, melainkan sebuah langkah darurat agar hak anak-anak untuk belajar tidak terhenti lebih lama lagi.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk solidaritas nyata untuk membantu komunitas sekolah agar kembali beraktivitas dengan aman. “Tujuannya adalah menghadirkan manfaat nyata melalui program sosial dan recovery pascabencana, agar guru dan siswa dapat kembali mengajar dan belajar dengan nyaman,” ungkapnya.

Prioritas Infrastruktur di Wilayah Pedalaman

Bencana di Sumatra telah meninggalkan lubang besar dalam pelayanan publik. SD Negeri Tugu Upah kini menjadi bagian dari inisiatif program “Ini Sekolahku”, sebuah skema bantuan yang dikhususkan oleh BRI bagi sekolah-sekolah di wilayah pedalaman dan perbatasan yang memiliki keterbatasan akses.

Program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan bantuan sesaat, tetapi menyasar perbaikan sarana dan prasarana fisik secara menyeluruh dan berkelanjutan. Di wilayah Aceh Tamiang yang kerap menjadi langganan banjir tahunan, ketahanan bangunan sekolah menjadi aspek krusial. Perbaikan infrastruktur yang dilakukan diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak, sekaligus menjadi benteng yang lebih kuat terhadap potensi bencana di masa depan.

Baca juga  SDN 2 Pangarayan Nyaris Roboh, Siswa Belajar Dalam Ketakutan

“Semoga ini menjadi pemantik semangat bagi siswa untuk terus belajar di lingkungan yang nyaman. Sekolah harus tetap menjadi tempat penciptaan SDM unggul bagi kemajuan bangsa, apa pun kondisinya,” tegas Dhanny.

Spektrum Bantuan Pangan hingga Sanitasi

Sebagai bagian dari Danantara, BRI Group telah memperluas cakupan aksi tanggap daruratnya di seluruh wilayah Sumatra. Hingga Januari 2026, tercatat telah dilaksanakan 40 aksi tanggap darurat yang didukung oleh 10 unit posko bencana.

Skala bantuan yang dikerahkan mencakup berbagai aspek fundamental kehidupan pascabencana. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar dengan penyaluran 6.500 paket makanan siap santap dan 85.000 paket sembako, hingga dukungan logistik berupa tenda, kasur, dan selimut untuk hunian sementara.

Namun, aspek yang paling krusial dalam masa pemulihan adalah kesehatan dan sanitasi. Distribusi 33 truk air bersih dan 7.000 unit peralatan kebersihan menjadi kunci untuk mencegah berjangkitnya penyakit pascabanjir. Secara total, rangkaian program kemanusiaan ini diklaim telah menjangkau lebih dari 100.250 jiwa penerima manfaat di berbagai titik terdampak.

Menjaga Martabat di Wilayah Terdampak

Pesan yang ingin disampaikan dari aksi di Aceh Tamiang ini adalah konsistensi pendampingan. Bantuan pascabencana sering kali berakhir saat air surut, namun proses pemulihan sosial dan pendidikan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.

Bagi masyarakat di perbatasan Aceh, kehadiran dukungan yang bersifat berkelanjutan dari BRI seperti perbaikan sekolah adalah investasi pada martabat manusia.

Melalui pendampingan di posko-posko bencana yang menyediakan layanan kesehatan dan kebutuhan dasar, proses transisi dari masa darurat menuju kehidupan normal diharapkan dapat berjalan lebih cepat.

Pendidikan tidak boleh menjadi korban permanen dari bencana, dan langkah di SD Negeri Tugu Upah adalah salah satu upaya untuk memastikan gerbang sekolah tetap terbuka bagi masa depan anak-anak di sana.

Baca juga  Nasib SDN 137 Palembang di Ujung Tanduk: Hanya Empat Siswa, Disdik Kaji Opsi Penggabungan atau Penutupan

***

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.