Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H
Pertanian & Perkebunan

Petani Muria Raya Siapkan Strategi Smart Farming dan Kemitraan Ekspor dalam Diskusi di Kudus

×

Petani Muria Raya Siapkan Strategi Smart Farming dan Kemitraan Ekspor dalam Diskusi di Kudus

Sebarkan artikel ini
Petani Muria Raya Siapkan Strategi Smart Farming dan Kemitraan Ekspor dalam Diskusi di Kudus
Komunitas Fakultas Organik Muria Raya menggelar diskusi strategis di Hotel @HOM Kudus untuk membahas peluang ekspor melon ke Australia dan pasokan jagung industri pakan melalui sistem smart farming. Dok. Istimewa

Komunitas Fakultas Organik Muria Raya menggelar diskusi strategis di Hotel @HOM Kudus untuk membahas peluang ekspor melon ke Australia dan pasokan jagung industri pakan melalui sistem smart farming.

KUDUS, NUSALY – Citra petani yang identik dengan lumpur dan gubuk bambu perlahan mulai bergeser di kaki Gunung Muria. Seusai momentum buka puasa bersama, Ahad (23/2/2026), puluhan pegiat pertanian yang tergabung dalam Fakultas Organik Muria Raya memilih ruang sejuk di Hotel @HOM Kudus sebagai arena “ngolah pikir”. Di sana, sembari menyesap kopi, mereka tidak sedang membicarakan keluh kesah, melainkan membedah data dan strategi “Cuan Berkah” berbasis teknologi pertanian pintar atau smart farming.

Pertemuan ini bukan sekadar ajang kumpul santai. Di balik suasana yang akrab, para petani lintas generasi ini tengah merumuskan jawaban atas daya serap pasar yang kian raksasa. Mereka sepakat bahwa era pertanian konvensional yang hanya mengandalkan insting “tanam-panen” sudah usang. Masa depan pertanian Muria Raya kini diletakkan di atas fondasi data, kekuatan jejaring, dan kolaborasi antara kearifan lokal dengan teknologi tepat guna.

Dalam diskusi tersebut, hadir sosok Mbah Jo, aktivis senior HMI angkatan 1987 yang kini “turun gunung” mengelola dua hektar lahan jagung. Kehadirannya bersanding dengan Mas Unggul, praktisi muda alumnus Universitas Muria Kudus yang sukses mengembangkan greenhouse melon di Karangmalang. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi simbol bahwa kebangkitan ekonomi desa membutuhkan perpaduan pengalaman senior dengan inovasi praktisi muda.

Peluang Ekspor dan Kemitraan

Salah satu isu sentral yang memicu gairah diskusi adalah terbukanya keran ekspor melon ke Australia. Mas Unggul, yang juga menjabat sebagai Direktur Agreejaya, mengungkapkan bahwa pasar ekspor saat ini membutuhkan sedikitnya 40 ton melon kualitas premium. Jumlah tersebut belum mampu dipenuhi hanya dari kebun internal perusahaan.

Baca juga  8 Ton Jagung Dipanen dari Areal Tumpang Sari Korporasi, Perkuat Ketahanan Pangan Daerah

“Kita punya peluang besar di depan mata, tapi produksi kita masih belum mencukupi permintaan global. Itulah mengapa kami membuka kemitraan budidaya melon dengan pendampingan teknis penuh. Kami ingin petani lokal tidak hanya jadi penonton, tapi pemain utama di pasar internasional,” jelas Mas Unggul.

Selain melon, komoditas unik yang mulai dilirik adalah daun singkong mentega. Berbeda dengan pola tanam biasa, fokusnya bukan pada umbi, melainkan pada produksi daun secara rutin. Dengan permintaan mencapai 5 ton yang belum terpenuhi, budidaya ini menjadi solusi cerdas bagi petani yang memiliki lahan kosong atau lahan “tidur”. Hanya dalam waktu dua bulan, daun singkong sudah bisa dipanen berulang kali, memberikan arus kas cepat bagi rumah tangga petani.

Jagung untuk Industri Pakan

Peluang yang tak kalah menggiurkan datang dari sektor tanaman pangan, khususnya jagung pipil. Agreejaya diketahui telah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan pakan ternak nasional yang membutuhkan pasokan ratusan ton jagung setiap bulannya. Kebutuhan yang bersifat rutin dan berkelanjutan ini memerlukan dukungan lahan hingga puluhan ribu hektar.

Harga yang ditawarkan pun cukup kompetitif dan transparan. Jagung baru panen dengan kadar air sekitar 35 persen siap diserap dengan harga Rp3.500 per kilogram. Sementara untuk jagung kering dengan kadar air 15 persen, harganya bisa menembus di atas Rp5.000 per kilogram. Kepastian harga dan serapan pasar ini menjadi oase bagi petani yang selama ini sering dipermainkan oleh tengkulak saat panen raya tiba.

Bagi komunitas Fakultas Organik Muria Raya, model kemitraan ini adalah langkah nyata “naik kelas”. Petani tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dalam manajemen modern yang memastikan setiap jengkal lahan menghasilkan produksi yang terukur dan sesuai kebutuhan industri.

Baca juga  Menko Pangan Zulhas Tinjau Kesiapan Koperasi Merah Putih di Banyuasin, Plafon Pinjaman Rp 3 Miliar Per Koperasi

Budaya Diskusi Intelektual

Budaya “ngopi bareng” di hotel bagi para petani ini adalah cara mereka untuk mendinginkan pikiran agar lahir ide-ide strategis yang jernih. Bagi mereka, diskusi bisa dilakukan di mana saja—mulai dari saung di tengah sawah hingga ruang ber-AC di hotel berbintang—selama tujuannya adalah untuk memperkuat silaturahmi intelektual.

Diskusi di Kudus ini menegaskan satu hal penting: peluang ekonomi di sektor pertanian sangatlah luas, namun hanya bisa ditaklukkan dengan inovasi dan kerja sama. Momentum kebangkitan petani Muria Raya kini telah dimulai melalui gerakan pertanian yang cerdas, terhubung secara digital, dan berorientasi pasar. Mereka pulang dari hotel bukan hanya membawa perut kenyang, tapi membawa peta jalan menuju pertanian yang tidak hanya menghasilkan cuan, tetapi juga keberkahan bagi masyarakat luas.

(awn)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.