Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan

Banner Ramdan Pemkab MUBA
Pertanian & Perkebunan

Strategi Ekonomi Sirkular Desa Lewat Pemanfaatan Keong Sawah untuk Pakan Alternatif di Kudus

×

Strategi Ekonomi Sirkular Desa Lewat Pemanfaatan Keong Sawah untuk Pakan Alternatif di Kudus

Sebarkan artikel ini
Strategi Ekonomi Sirkular Desa Lewat Pemanfaatan Keong Sawah untuk Pakan Alternatif di Kudus
Keong sawah yang selama ini dianggap sebagai musuh petani kini bertransformasi menjadi sumber protein tinggi. Dok. Rochmad Taufiq

Di hamparan sawah Desa Gulang dan Payaman, keong sawah yang selama ini dianggap sebagai musuh petani kini bertransformasi menjadi sumber protein tinggi. Inovasi pakan alternatif ini menjadi kunci kemandirian ekonomi bagi peternak lele dan unggas lokal.

KUDUS, NUSALY – Hamparan sawah seluas 3,6 juta meter persegi di Desa Gulang dan Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, menyimpan potensi ekonomi yang selama ini tersembunyi di balik lumpur. Di balik keluhan petani tentang bibit padi yang rusak, terdapat populasi keong sawah yang jumlahnya diperkirakan mencapai 72 juta hingga 145 juta ekor.

Bagi petani padi, keong adalah hama perusak yang harus dibasmi karena kerakusannya melahap tunas muda. Namun, bagi mereka yang mampu membaca peluang, angka tersebut bukan sekadar statistik gangguan lahan, melainkan ladang protein gratis yang siap dioptimalkan untuk menggerakkan ekonomi desa.

Kandungan protein hewani yang tinggi pada daging keong menjadi solusi atas mahalnya pakan pabrikan yang selama ini mencekik margin keuntungan peternak. Fenomena ini memicu lahirnya praktik ekonomi sirkular, di mana limbah atau hama di satu sektor berubah menjadi input produktif di sektor lain.

Transformasi pakan mandiri

Wandi, salah satu warga Desa Gulang, telah membuktikan bagaimana hama ini bisa mempercepat putaran modal di kolam lelenya. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pelet pabrikan yang harganya terus merangkak naik di pasaran.

Prosesnya dilakukan secara manual namun memberikan dampak yang nyata pada pertumbuhan ternaknya. “Keong saya rebus dulu, ambil dagingnya, lalu dicacah pakai chopper kecil-kecil sebelum diberikan ke lele. Hasilnya bagus, lele cepat gemuk,” ungkap Wandi saat ditemui di lokasi budidaya.

Baca juga  GSMP Goes to School, Pj Gubernur Sumsel Panen Raya Cabai di SMKN 2 Gelumbang, Tekan Inflasi dan Wujudkan Kemandirian Pangan

Protein hewani alami dari keong sawah ini memberikan nutrisi esensial yang mempercepat masa panen ikan air tawar tersebut. Penggunaan pakan alami ini terbukti mampu mengimbangi kualitas pakan standar pabrikan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Tak hanya di kolam ikan, uji coba serupa juga mulai merambah ke sektor peternakan ayam kampung di kawasan Mlati Kidul. Para peternak mulai mencampurkan daging keong ke dalam komposisi pakan harian untuk meningkatkan kualitas produksi telur.

Taufiq, salah satu peternak ayam kampung, menyebutkan bahwa langkah ini diambil untuk menyiasati ketergantungan pada pakan kimia. “Masih tahap uji coba, nanti kita lihat perkembangannya,” terang Taufiq mengenai inovasi pakan berbasis kearifan lokal tersebut.

Secara matematis, potensi jutaan ekor keong di Mejobo mampu menopang populasi unggas dalam skala besar jika dikelola dengan sistematis. Strategi ini secara langsung menurunkan ketergantungan peternak terhadap pakan buatan pabrik yang harganya sering kali fluktuatif.

Penghematan biaya pakan ini otomatis meningkatkan margin keuntungan peternak kecil yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan modal. Di saat yang sama, beban petani sawah berkurang karena populasi hama yang merusak tanaman padi mereka terkendali secara alami.

Kedaulatan pangan desa

Praktik di Gulang dan Payaman ini sejatinya selaras dengan gagasan membangun kemandirian ekonomi di halaman rumah sendiri. Alam telah menyediakan sistem hayati yang bekerja secara berkesinambungan tanpa memerlukan energi listrik maupun mesin yang mahal.

Keong berkembang biak secara alami di lahan basah, lele tumbuh cepat dengan asupan protein segar, dan ayam pun berproduksi dengan optimal. Tugas manusia adalah mengelola sistem tersebut dengan kreativitas agar memberikan dampak ekonomi riil bagi komunitas lokal.

Baca juga  Hilirisasi Riset dalam Ekosistem Kebun Kampus

Kedaulatan pangan di tingkat desa mulai tumbuh ketika sawah tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber beras semata. Sawah kini menjadi ekosistem penyedia protein yang mampu menguatkan ketahanan ekonomi keluarga, terutama bagi keluarga prasejahtera dan yayasan sosial.

Sering kali hambatan terbesar dalam kemandirian ekonomi bukanlah modal uang, melainkan pola pikir yang masih terjebak pada gengsi produk pabrikan. Banyak peternak lebih bangga membeli pakan mahal daripada mengolah sumber daya yang tersedia melimpah di sekitar mereka.

Inovasi sederhana seperti ini justru menjadi pondasi kuat bagi ekonomi warga untuk menghadapi ketidakpastian harga pangan global. Jika setiap desa mampu membangun sistem kolaborasi antara petani dan peternak, maka kemandirian kolektif bukan lagi sekadar impian di atas kertas.

Hikmah dari sawah-sawah di Kudus ini memberikan wajah baru bagi dakwah ekonomi yang nyata di lapangan. Mengubah masalah menjadi maslahat dan mengubah keluhan menjadi peluang adalah kunci untuk memanen keberkahan di masa depan.

Siapa pun yang mampu membaca potensi kecil di sekelilingnya, dialah yang akan bertahan dalam dinamika ekonomi digital dan global yang kian keras. Keong sawah di Mejobo telah membuktikan bahwa solusi besar sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga. (Rochmad Taufiq)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.