Scroll untuk baca artikel
Industri & Investasi

Realitas Ekonomi di Balik Kandang Ayam Petelur

×

Realitas Ekonomi di Balik Kandang Ayam Petelur

Sebarkan artikel ini

Beternak ayam petelur skala kecil kini menjadi pilihan realistis untuk memperkuat pendapatan rumah tangga. Namun, di tengah fluktuasi harga pakan, ketelitian memilih bibit berkualitas menjadi penentu utama antara keuntungan rutin atau kerugian modal.

Realitas Ekonomi di Balik Kandang Ayam Petelur
Foto Ilustrasi. (Dok. sintafeed.com)

PALEMBANG, NUSALY — Budidaya ayam petelur skala rumahan kian diminati sebagai instrumen ekonomi mandiri. Dengan populasi 100 ekor, seorang peternak diproyeksikan mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 900.000 per bulan. Angka ini menempatkan sektor peternakan mikro sebagai penyokong arus kas harian yang stabil di tengah ketidakpastian lapangan kerja formal.

Daya tarik utama bisnis ini adalah sifat produknya yang merupakan kebutuhan pokok. Telur memiliki serapan pasar yang tinggi dan konsisten. Namun, bagi masyarakat yang ingin terjun ke sektor ini, modal finansial saja tidak cukup. Dibutuhkan pemahaman teknis mengenai manajemen risiko, terutama dalam menyeimbangkan biaya operasional pakan dengan produktivitas harian unggas.

Alokasi Modal

Membangun unit usaha ayam petelur memerlukan perencanaan biaya yang terukur sejak awal. Komponen modal terbagi dalam tiga pilar utama: infrastruktur kandang, pengadaan bibit, dan cadangan pakan. Untuk 100 ekor ayam, lahan seluas 12 meter persegi sudah mencukupi, namun investasi pada kualitas material kandang sangat menentukan durabilitas usaha.

Penggunaan box baterai berbahan galvalum memang membutuhkan biaya lebih tinggi, sekitar Rp 130.000 per set, dibandingkan bahan bambu. Namun, galvalum menawarkan standar sanitasi yang lebih baik dan masa pakai yang lebih lama. Investasi terbesar tetap berada pada pengadaan ayam remaja (pullet) berusia 14 minggu dengan harga pasar sekitar Rp 70.000 per ekor. Memulai dengan ayam remaja dianggap lebih aman bagi pemula karena risiko kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan memelihara dari fase anakan.

Selain itu, peternak harus menyiapkan dana cadangan pakan hingga ayam benar-benar aktif bertelur. Dengan rata-rata konsumsi 1,1 ons per ekor setiap hari, fluktuasi harga bahan baku menjadi ancaman laten. Kemampuan meracik pakan secara mandiri dengan harga kompetitif menjadi kunci untuk menjaga margin laba agar tetap sehat.

Seleksi Bibit

Kualitas produksi telur sangat bergantung pada ketelitian peternak dalam menyeleksi bibit. Ayam yang tidak produktif hanya akan menjadi beban biaya pakan. Oleh karena itu, mengenali ciri fisik unggas yang sehat menjadi kompetensi dasar yang tidak bisa ditawar. Jengger yang cerah dan mata yang jernih bukan sekadar tanda kesehatan, melainkan indikator kesiapan organ reproduksi.

Faktor yang sering diabaikan oleh peternak pemula adalah struktur kerangka tubuh (body frame). Ayam dengan postur tegap dan dada lebar memiliki ruang internal yang optimal bagi saluran telur untuk bekerja maksimal. Sebaliknya, ayam dengan kerangka tubuh kecil cenderung menghasilkan telur dengan ukuran tidak seragam dan masa produktivitas yang lebih pendek.

Verifikasi akhir dilakukan dengan memeriksa kondisi kloaka. Area ini harus bersih dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Ketelitian pada tahap awal ini merupakan langkah preventif untuk meminimalkan potensi kegagalan produksi yang sering kali baru terdeteksi setelah modal terkuras. Memilih bibit yang tepat adalah langkah pertama dalam menjaga keberlanjutan usaha di tengah kompetisi pasar.

Kalkulasi Keuntungan

Secara matematis, 100 ekor ayam petelur dapat menghasilkan rata-rata 4,5 hingga 5 kilogram telur per hari. Dengan asumsi harga jual Rp 24.000 per kilogram, pendapatan harian mencapai Rp 108.000. Setelah dikurangi biaya pakan harian dan alokasi kesehatan, laba bersih bulanan yang terkumpul menjadi tambahan penghasilan yang signifikan bagi keluarga.

Namun, keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh kedisiplinan mengelola hasil penjualan. Keuntungan tersebut sebaiknya tidak seluruhnya dikonsumsi, melainkan disisihkan sebagian untuk biaya peremajaan saat ayam memasuki masa afkir. Nilai jual ayam afkir, terutama menjelang hari raya, sebenarnya dapat menjadi bantalan modal untuk memulai siklus produksi yang baru.

Pada akhirnya, keberlanjutan bisnis ayam petelur bergantung pada kemampuan peternak dalam melakukan evaluasi harian. Ini bukan sekadar bisnis memberi makan unggas, melainkan seni mengelola efisiensi dan ketajaman mengamati kesehatan ternak. Di tengah dorongan untuk memperkuat ekonomi akar rumput, usaha mikro ini menawarkan jalan keluar yang konkret selama dikelola dengan standar teknis yang benar dan disiplin finansial yang ketat.

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.