Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramadan Pemkab MUBA

Banner Ramadan DPRD OKI

Banner Ramadan Perumda Tirta Ogan

Banner Ramadan Pemkab OKU Selatan
Humaniora

Firdaus Hasbullah, Menenun Simpul Empati di Jantung Peradaban Pemuda

×

Firdaus Hasbullah, Menenun Simpul Empati di Jantung Peradaban Pemuda

Sebarkan artikel ini
Firdaus Hasbullah, Menenun Simpul Empati di Jantung Peradaban Pemuda
Ketua DPW PGK Sumatera Selatan sekaligus Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, SH, MH. Dok. Istimewa

Melalui momentum Ramadan, Firdaus Hasbullah mengajak kader Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan melakukan reorientasi gerakan dengan menempatkan empati sosial dan intelektualitas sebagai fondasi menjaga marwah bangsa.

PALEMBANG, NUSALY – Ruang Ballroom Hotel Harper, Palembang, Kamis (12/3/2026) petang itu, perlahan mulai dipadati oleh ratusan anak muda. Sebagian besar mengenakan atribut organisasi yang sama, sebuah simbol dari Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK). Di antara keriuhan diskusi kecil khas aktivis mahasiswa dan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), sesosok pria tampak tenang menyapa satu per satu tamu yang datang.

Ia adalah Firdaus Hasbullah, SH, MH. Pria yang kini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sekaligus Ketua DPW PGK Sumatera Selatan ini, sengaja menginisiasi pertemuan tersebut bukan sekadar untuk seremoni berbuka puasa. Baginya, setiap pertemuan adalah dialektika, dan setiap momen Ramadan adalah fase krusial untuk melakukan kontemplasi ideologis bagi kaum muda di tengah cepatnya perubahan zaman.

Malam itu, cahaya lampu hotel seolah memendarkan semangat yang lebih besar dari sekadar pertemuan rutin. Firdaus berdiri di podium dengan pembawaan yang tenang. Namun, setiap diksi yang meluncur dipilih dengan cermat, mencerminkan kedalaman pemikiran seorang intelektual yang sudah kenyang dengan pengalaman pergerakan.

Di matanya, ibadah puasa Ramadan yang dijalani jutaan umat Muslim saat ini semestinya tidak direduksi hanya sebagai ritual fisik menahan haus, lapar, dan hawa nafsu. Ada nilai transendental yang harus dijiwai: empati.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menumbuhkan rasa empati dan rasa persaudaraan. Keimanan hadir ketika kita melihat masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Ramadan adalah bulan berbagi; bukan sekadar sedekah, tetapi bagaimana kita menjaga jaringan kepedulian.

Firdaus mengingatkan hadirin bahwa di balik perintah puasa, terselip pesan tentang kesetaraan. Ketika azan magrib berkumandang, semua orang merasakan syukur yang sama tanpa melihat strata sosial. Begitu pula saat sahur tiba, ada ritme kebersamaan yang bersifat universal. Namun, inti dari semua itu adalah pelajaran untuk merasakan perihnya dahaga dan lapar yang selama ini dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kekurangan.

Bagi Firdaus, keimanan sejati seharusnya tidak berhenti di dalam ruang ibadah. Keimanan yang hidup adalah keimanan yang mampu melihat dan merasakan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Pandangan ini bukanlah retorika kosong. Di sela-sela acara, PGK Sumsel menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim piatu yang hadir. Firdaus ingin para kader PGK melihat langsung bahwa gerakan kebangsaan harus berpijak pada realitas sosial, bukan sekadar terjebak dalam menara gading diskusi akademik.

Manifestasi kepedulian
PGK Sumsel menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim piatu yang hadir. Dok. Istimewa

Manifestasi kepedulian

Kehadiran PGK di bawah kendali Firdaus Hasbullah memang tengah mengalami akselerasi yang signifikan di Sumatera Selatan. Organisasi ini telah menjadi wadah berhimpun bagi para mahasiswa, aktivis kampus, hingga berbagai elemen pemuda untuk mendiseminasikan gagasan-gagasan bagi pembangunan bangsa. Firdaus memaparkan bahwa sejak organisasi ini dikukuhkan di Sumatera Selatan pada 25 Agustus lalu, konsolidasi ke daerah tidak pernah berhenti dilakukan.

Hingga saat ini, PGK telah berhasil membentuk kepengurusan definitif di 10 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan yang telah dilantik dan dikukuhkan. Firdaus menargetkan, pada akhir tahun 2026, panji-panji PGK sudah harus berkibar di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Ia menginginkan PGK menjadi rumah bersama bagi mahasiswa dan aktivis untuk berkumpul, berdialog, dan memberikan solusi serta masukan kepada pemerintah.

”PGK adalah rumah bersama untuk berkumpul, berdiskusi, berdialog, dan memberikan solusi serta masukan kepada pemerintah. Kita ingin melahirkan konsep-konsep yang berkualitas dan mencetak pemimpin masa depan. Teruslah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara kita,” tutur Firdaus.

Di tempat yang sama, Bendahara DPW PGK Sumsel, Rahmat Sahid, mengamati jalannya acara sembari mengingatkan pesan dari pimpinan bahwa persatuan nasional tidak boleh bersifat eksklusif pada satu golongan saja.

Persatuan harus berarti membangun jaringan yang lebih luas dan membangun komunikasi dengan elemen lain. Menurut Rahmat, bersatu itu artinya menumbuhkan semangat kebersamaan dengan elemen bangsa yang lain agar para generasi muda bisa saling memahami satu dengan yang lain.

Menjaga kedaulatan

Hadirnya Ketua Umum DPP PGK, Bursah Zarnubi, dalam acara tersebut kian menambah bobot pertemuan malam itu. Bursah memberikan perspektif yang lebih makro mengenai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia di tengah dinamika global. Di hadapan ratusan pasang mata anak muda, Bursah berbicara mengenai pentingnya menyikapi turbulensi ekonomi akibat situasi geopolitik yang tidak menentu, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Ia menekankan bahwa dalam situasi dunia yang tidak menentu, persatuan nasional merupakan fondasi agar bangsa tetap kokoh sehingga pembangunan bisa terus berkelanjutan. Bursah mengingatkan bahwa silaturahmi merupakan basis dari persatuan umat, mengutip pesan Sayidina Ali bahwa persatuan hanya dapat terbangun melalui silaturahmi.

”Para pemuda harus bersatu, menjalankan peran sesuai profesi dan membangun kemandirian nasional. Dengan adanya semangat persatuan maka setiap kesulitan akan lebih mudah dihadapi. Kita harus mampu berdiri tanpa bergantung pada dunia luar,” jelas Bursah yang juga tercatat sebagai aktivis senior.

Bursah juga menyoroti pentingnya peran PGK dalam mendukung kebijakan yang mengakar kepada rakyat, selaras dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran melalui pembangunan desa.

Di Lahat, pembangunan desa menjadi fokus utama guna membangkitkan hak-hak masyarakat miskin. Bagi Firdaus Hasbullah, sinergi antara tokoh senior dan semangat muda para kader PGK adalah energi untuk melahirkan kontribusi nyata bagi bangsa.

Pertemuan malam itu ditutup dengan doa bersama, namun gairah yang ditinggalkan Firdaus Hasbullah tampak membekas dalam setiap langkah kader yang meninggalkan hotel. Firdaus telah berhasil mentransformasikan ritual berbuka puasa menjadi sebuah manifesto gerakan. Perjuangannya adalah memastikan bahwa PGK terus hadir di tengah masyarakat dan suara pemuda tetap memiliki bobot dalam memberikan gagasan bagi pembangunan bangsa.

Dari Ballroom Hotel Harper, pesan itu dikirim: bahwa kedaulatan dibangun dari kedekatan hati dengan rakyat kecil dan kejernihan berpikir dalam menghadapi tantangan zaman. Firdaus Hasbullah telah memulai langkahnya, dan ia mengajak seluruh kader PGK untuk terus memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa dan negara Indonesia. [dhi]

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!