Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramadan Pemkab MUBA

Banner Ramadan DPRD OKI

Banner Ramadan Perumda Tirta Ogan

Banner Ramadan Pemkab OKU Selatan
Sumsel Maju Terus untuk Semua

Herman Deru dan Geliat “Sultan Muda” di Nadi Ekonomi Sumatera Selatan

×

Herman Deru dan Geliat “Sultan Muda” di Nadi Ekonomi Sumatera Selatan

Sebarkan artikel ini
Herman Deru dan Geliat "Sultan Muda" di Nadi Ekonomi Sumatera Selatan
Gubernur Sumsel Herman Deru puji peran HIPMI dalam acara buka bersama. Dok. BHP Pemprov Sumsel

Munculnya wirausaha baru dari berbagai pelosok kabupaten menjadi tumpuan baru Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam menjaga stabilitas harga. HIPMI ditantang untuk tidak hanya jago kandang, tetapi mampu menembus hambatan pasar global.

PALEMBANG, NUSALY – Di ruang pertemuan Hotel The Zuri, Palembang, Minggu (8/3/2026), Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru tidak sedang bicara di hadapan barisan birokrat yang kaku. Di depannya adalah ratusan anak muda pengurus BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumsel yang datang dengan setelan necis dan ambisi besar.

Acara buka puasa bersama ini bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan panggung bagi Deru untuk melegitimasi satu fenomena baru di Bumi Sriwijaya: lahirnya “Sultan-Sultan Muda” dari daerah.

Bagi Herman Deru, kehadiran para pengusaha muda ini adalah jawaban atas ketergantungan ekonomi yang selama ini terlalu “Palembang-sentris”. Saat ini, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru justru tumbuh dari keberanian anak muda di kabupaten-kabupaten yang jauh dari pusat kota.

Mereka adalah mesin baru yang menjaga agar inflasi di daerah tidak meledak, sekaligus menjadi penyedia lapangan kerja yang tidak lagi menggantungkan nasib pada penerimaan pegawai negeri.

Sultan dari Pelosok

Salah satu kejutan dalam narasi Herman Deru malam itu adalah pengakuannya terhadap pergeseran peta kekuasaan ekonomi. Ia menyebut munculnya figur-figur sukses di daerah sebagai “Sultan Muda”. Istilah ini merujuk pada anak muda yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sendiri di kampung halaman, tanpa harus eksodus ke Jakarta atau Palembang.

“Anak-anak muda HIPMI ini luar biasa. Mereka tidak hanya bicara teori, tapi benar-benar terjun ke lapangan. Banyak muncul ‘sultan-sultan muda’ dari daerah yang kini kontribusinya nyata bagi ekonomi kita,” ujar Deru.

Bagi sang Gubernur, fenomena ini adalah buah dari kemudahan perizinan dan akses informasi yang kian terbuka. Keberanian mereka berusaha di daerah asal secara otomatis memutar roda ekonomi lokal, mengurangi angka pengangguran di desa, dan memperkuat daya saing wilayah dalam menghadapi dinamika pasar yang kian kompetitif.

Benteng Inflasi

Di tengah ketidakpastian harga kebutuhan pokok yang sering kali dipermainkan spekulan, Herman Deru menempatkan HIPMI sebagai mitra taktis. Pengusaha muda memiliki kecepatan dan kelenturan (agility) dalam membaca perubahan pasar. Mereka diharapkan mampu memotong rantai distribusi yang terlalu panjang, yang selama ini menjadi biang kerok kenaikan harga di tingkat konsumen.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyadari bahwa kolaborasi dengan pelaku usaha adalah kunci. Deru menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan pengusaha muda berjuang sendirian.

Melalui koordinasi dengan Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto yang juga hadir malam itu, Gubernur ingin memastikan pintu pembiayaan bagi wirausaha muda tetap terbuka lebar.

“Pemerintah akan terus mendukung dan memperjuangkan cita-cita kalian. Jika pengusaha mudanya kuat, maka inflasi kita akan lebih terkendali karena pasokan barang terjaga oleh inovasi kalian,” tegasnya.

Ujian Mental

Ketua BPD HIPMI Sumsel, Muhammad Puri Andamas, menyadari bahwa predikat “Sultan Muda” membawa tanggung jawab moral yang besar. Silaturahmi di Hotel The Zuri ini menjadi momentum untuk menyamakan frekuensi: bahwa sukses secara finansial harus dibarengi dengan kontribusi sosial.

Pemberian santunan kepada anak yatim dan tausiyah dari Ustadz Toyyibno di sela acara menjadi pengingat bahwa etika bisnis di Sumatera Selatan tetap berakar pada nilai-nilai religius.

Namun, ujian sesungguhnya bagi pengusaha muda Sumsel adalah pasar global. Herman Deru menantang kader HIPMI untuk tidak hanya puas menjadi raja di daerah sendiri.

Dengan dukungan Wakil Ketua DPRD Sumsel Nopianto dan restu dari jajaran Kasdam II/Sriwijaya, pemerintah daerah siap menjadi jembatan bagi produk lokal Sumsel untuk naik kelas. Tantangannya adalah konsistensi dan kualitas produk yang harus mampu bersaing dengan standar internasional.

Estafet Ekonomi

Secara sosiologis, hubungan erat antara Herman Deru dan HIPMI adalah gambaran dari estafet kepemimpinan ekonomi. Gubernur sedang menyiapkan karpet merah bagi generasi yang akan memimpin Sumatera Selatan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

Di akhir acara, ramah tamah yang cair menunjukkan bahwa komunikasi antara penguasa dan pengusaha muda di Sumsel berjalan tanpa sekat birokrasi yang rumit.

Herman Deru telah mengirimkan pesan jelas: masa depan Sumatera Selatan ada di tangan mereka yang berani berbisnis, berani berinovasi, dan berani tetap tinggal di daerah untuk membangun tanah kelahirannya.

Stabilitas daerah yang terjaga menjadi jaminan bahwa investasi akan terus mengalir, dan pengusaha muda adalah nahkoda yang akan membawa kapal ekonomi Sumatera Selatan mengarungi derasnya arus globalisasi dengan rasa percaya diri yang tinggi. (desta)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!