Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru hadiri peringatan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 sebagai wujud nyata menjaga status daerah tanpa konflik.
PALEMBANG, NUSALY – Sumatera Selatan kembali membuktikan diri sebagai rumah yang teduh bagi keberagaman. Di tengah suasana khidmat di Pura Sriwijaya, Kamis (2/4/2026), Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru hadir membaur dalam kegiatan Dharma Santi perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Kehadiran orang nomor satu di Bumi Sriwijaya ini menjadi pesan kuat bahwa harmoni antarumat beragama adalah fondasi utama yang menjaga stabilitas daerah tetap kondusif.
Bagi Herman Deru, keberagaman suku dan agama di Sumatera Selatan bukanlah pemicu gesekan, melainkan kekayaan yang menjadi solusi perdamaian. Ia menegaskan bahwa predikat “zero conflict” yang melekat pada provinsi ini harus terus dirawat melalui silaturahmi yang tanpa sekat.
Dharma Santi kali ini menjadi momentum penting untuk mempererat ikatan kebatinan di tengah masyarakat yang majemuk.
Kekuatan Keberagaman
Dalam sambutannya, Herman Deru tak mampu menyembunyikan rasa bangganya melihat adat dan budaya, termasuk tradisi Bali di Sumatera Selatan, tetap terjaga keasriannya.
Ia memandang bahwa kelestarian budaya lokal di perantauan adalah bukti bahwa masyarakat Sumsel memiliki toleransi yang sangat tinggi. Keberagaman ini, menurutnya, adalah energi besar untuk membangun daerah secara kolektif.
“Ini menjadi kekuatan kita bersama. Keberagaman yang ada justru menjadi jalan keluar dalam menciptakan kedamaian. Kita patut bangga, adat dan budaya Bali di sini tetap terjaga dengan sangat baik,” ujar Herman Deru di hadapan umat Hindu yang memenuhi Pura Sriwijaya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa esensi Nyepi bukan hanya milik umat Hindu, melainkan pesan universal untuk introspeksi diri.
Momen sakral ini mengajak seluruh masyarakat untuk sejenak menoleh ke dalam, menjaga kedamaian hati, dan mempererat persatuan nasional. Baginya, jiwa yang tenang adalah modal utama dalam membangun Sumatera Selatan yang lebih inklusif.
Keharmonisan Hubungan
Makna mendalam Dharma Santi turut dipertegas oleh Pengawas Persatuan Adat Bali Sumatera Selatan, I Gusti Bagus Suryanegara.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian hari raya ini mengandung filosofi menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta. Prinsip ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan seimbang.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Herman Deru mengukuhkan pengawas dan pengurus Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan periode 2025–2028.
Dengan terpilihnya I Made Sutama sebagai ketua, diharapkan organisasi ini menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara masyarakat adat Bali dengan Pemerintah Provinsi maupun masyarakat luas di Sumatera Selatan.
Simbol Soliditas
Kegiatan ini juga menjadi ajang unjuk soliditas antarpemimpin daerah. Kehadiran Kapolda Sumsel Irjen Pol Shandi Nugroho, Kajati Sumsel Ketut Sumedana, hingga Wali Kota Palembang Ratu Dewa memberikan sinyal bahwa seluruh elemen pimpinan daerah (Forkopimda) satu suara dalam mengawal toleransi.
Sinergi ini memastikan bahwa kenyamanan beribadah bagi setiap warga negara di Sumsel adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Herman Deru menutup kehadirannya dengan pesan persaudaraan yang hangat. Melalui Dharma Santi, Sumatera Selatan kembali mengirimkan pesan ke seluruh penjuru negeri bahwa perbedaan adalah warna yang memperindah, bukan alasan untuk memecah.
Di bawah langit Palembang, semangat Tahun Baru Saka 1948 menjadi awal baru untuk terus merajut perdamaian di Bumi Sriwijaya. (desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





