Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
1 Ramadan 1447 H Memuat Tanggal... Puasa Hari Ke-1
Humaniora

Doa Berbuka Puasa Ramadan 2026 Lengkap dengan Adab dan Sunah Rasulullah

×

Doa Berbuka Puasa Ramadan 2026 Lengkap dengan Adab dan Sunah Rasulullah

Sebarkan artikel ini
Doa Berbuka Puasa Ramadan 2026 Lengkap dengan Adab dan Sunah Rasulullah
Berbuka puasa bukan sekadar ritual membatalkan lapar, melainkan momentum syukur dan disiplin diri. Dok. Nusaly.com dibuat dengan AI

Berbuka puasa bukan sekadar ritual membatalkan lapar, melainkan momentum syukur dan disiplin diri. Di tengah maraknya tren konsumerisme Ramadan, memahami kembali sunah Rasulullah tentang makan secukupnya menjadi krusial.

PALEMBANG, NUSALY – Perjalanan spiritual umat Islam di Indonesia kembali memasuki gerbang suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Di balik tantangan menahan haus dan dahaga di bawah iklim tropis, momen berbuka puasa menjadi puncak syukur harian yang paling dinantikan. Namun, jauh melampaui sekadar hidangan di meja, terdapat protokol spiritual dan kesehatan yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW sebagai panduan bagi umatnya.

Membaca doa berbuka puasa saat azan Magrib berkumandang bukan sekadar formalitas lisan. Ia adalah bentuk pengakuan tulus atas ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta. Doa tersebut menjadi penanda bahwa kekuatan untuk menjalani puasa seharian penuh adalah semata-mata karena rahmat-Nya.

Literasi Doa Berbuka puasa

Bagi masyarakat yang ingin mengamalkan bacaan doa sesuai tuntunan, berikut adalah lafal doa yang umum digunakan berdasarkan rujukan Majelis Ulama Indonesia (MUI):

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

(Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa’ala rizqika afthortu birohmatika ya ar-hamarrahimin)

Artinya: “Ya Allah Dzat yang Maha Pemurah dari segalanya, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dan kasih sayang-Mu aku berbuka.”

Selain doa di atas, terdapat pula riwayat lain yang menekankan pada hilangnya dahaga sebagai penanda selesainya ibadah harian: “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan tetaplah pahala, insya Allah).

Baca juga  Akselerasi Perbaikan Jalan Tol Trans-Sumatera Jelang Puncak Arus Mudik

Esensi Menyegerakan Berbuka puasa

Salah satu sunah yang paling ditekankan dalam Islam adalah menyegerakan berbuka (ta’jil al-fithr). Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR Muttafaq Alaih). Secara sosiologis, anjuran ini mengajarkan tentang kepatuhan pada waktu dan penghargaan terhadap kebutuhan dasar biologis manusia.

Dalam praktiknya, Nabi Muhammad SAW memberikan teladan yang sangat praktis: memulai dengan ruthab (kurma basah), atau jika tidak ada, dengan tamr (kurma kering), dan jika keduanya tidak tersedia, cukup dengan seteguk air putih. Pilihan ini secara medis terbukti sangat efektif untuk mengembalikan kadar gula darah secara perlahan tanpa membebani sistem pencernaan yang telah beristirahat seharian.

Paradoks Berlebih

Masalah yang sering muncul dalam masyarakat modern adalah fenomena “balas dendam” saat berbuka. Meja makan yang dipenuhi berbagai jenis hidangan sering kali justru menjauhkan umat dari esensi ibadah malam. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa perut adalah wadah terburuk yang bisa dipenuhi oleh manusia secara berlebihan.

Dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, beliau memberikan proporsi ideal bagi lambung: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas. Kedalaman pesan ini mengandung urgensi agar tubuh tetap segar untuk melaksanakan ibadah Qiyamul Lail atau salat Tarawih, bukannya jatuh dalam kantuk dan kemalasan akibat kekenyangan.

Refleksi Spiritual

Memasuki Ramadan 2026, tantangan terbesar bagi umat Islam bukan lagi sekadar menahan lapar di siang hari, melainkan menahan diri dari godaan berlebih di saat berbuka. Berbuka secukupnya adalah bentuk penghormatan terhadap “punggung” yang harus tetap tegak untuk beribadah, bukan sekadar memanjakan lidah yang sesaat.

Dengan memahami doa dan sunah ini secara utuh, Ramadan tidak hanya menjadi siklus tahunan perpindahan jam makan, tetapi menjadi laboratorium disiplin diri yang membawa keberkahan bagi jiwa dan raga. Wallahu a’lam.

(dhi)