Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Waspada Penularan Virus Nipah, Warga OKI Diingatkan Jaga Kebersihan Pangan

×

Waspada Penularan Virus Nipah, Warga OKI Diingatkan Jaga Kebersihan Pangan

Sebarkan artikel ini

Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap virus nipah melalui keamanan konsumsi buah dan daging. Proses pengolahan pangan yang benar menjadi kunci pemutus rantai penularan zoonosis.

Waspada Penularan Virus Nipah, Warga OKI Diminta Selektif Konsumsi Nira dan Buah
Foto Ilustrasi. (Dok. KemenkesRI)

KAYUAGUNG, NUSALY — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, melalui dinas kesehatan setempat memperkuat edukasi keamanan pangan guna mengantisipasi potensi penularan virus nipah. Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia, masyarakat diminta tetap waspada dalam mengolah bahan pangan mentah, terutama buah-buahan dan produk hewani.

Melalui Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/445/2026, seluruh jajaran kesehatan di daerah kini dalam posisi siaga. Kesiagaan ini dipertegas di tingkat lokal melalui Surat Edaran Dinas Kesehatan Kabupaten OKI Nomor 440/1476/Dinkes/II/2026 yang menginstruksikan seluruh Puskesmas di Bumi Bende Seguguk untuk memperkuat sistem pemantauan di lapangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir Iwan Setiawan, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Agung Ibrahim, Senin (2/2/2026), di Kayuagung, menyatakan bahwa kebersihan bahan makanan menjadi garda terdepan pencegahan. Instruksi kepada jajaran Puskesmas diharapkan dapat memastikan deteksi dini berjalan efektif jika ditemukan gejala mencurigakan di tengah masyarakat.

”Kami mengimbau masyarakat untuk lebih teliti. Buah-buahan harus dicuci bersih dan dikupas. Hindari mengonsumsi buah yang rusak atau terdapat tanda bekas gigitan hewan liar,” ujar Iwan Setiawan melalui Agung Ibrahim.

Keamanan Pengolahan Pangan

Di Ogan Komering Ilir, salah satu titik kerentanan yang menjadi perhatian adalah pola konsumsi bahan pangan mentah. Agung mengingatkan bahwa risiko kontaminasi bisa terjadi pada bahan pangan yang diperoleh langsung dari alam, mengingat kelelawar buah (Pteropus sp) sering kali beraktivitas di sekitar pohon buah maupun pohon nira pada malam hari.

“Kami sangat menyarankan segala bentuk bahan pangan mentah dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi. Jangan lagi ada yang mengonsumsi bahan mentah langsung tanpa pemrosesan panas yang cukup,” tegas Agung.

Baca juga  Tujuh Hari Upaya Pemadaman, Karhutla OKI Meluas, Lahan Gambut Jadi Tantangan Utama

Ancaman ini bukan sekadar ketakutan jarak jauh. Berbagai penelitian di Indonesia telah mengonfirmasi bukti serologis keberadaan virus nipah pada kelelawar buah di beberapa wilayah. Artinya, reservoir alami atau inang virus ini memang sudah ada di sekitar lingkungan kita, sehingga keamanan pangan dan kesiapan tenaga kesehatan di Puskesmas menjadi harga mati.

Karakteristik dan bahaya klinis

Virus nipah dikenal sebagai patogen brutal yang menyerang sistem pernapasan dan saraf pusat. Tingkat fatalitas kasusnya (case fatality rate) tergolong sangat tinggi, yakni berkisar 40 persen hingga 75 persen. Sebagai perbandingan, angka ini jauh melampaui tingkat fatalitas banyak penyakit menular musiman lainnya.

Secara klinis, infeksi nipah pada tahap awal sering kali menyerupai flu biasa, ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala hebat. Namun, serangan sesungguhnya terjadi saat virus mulai memicu radang otak akut (ensefalitis). Penderita dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga jatuh dalam kondisi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala berat muncul.

“Gejala awalnya mungkin hanya demam. Namun, jika diikuti dengan penurunan kesadaran atau gangguan saraf setelah adanya kontak berisiko, masyarakat harus segera menuju fasilitas kesehatan,” tutur Agung.

Selain melalui nira, buah-buahan yang ditemukan dengan bekas gigitan hewan di kebun warga juga harus diwaspadai. Anggapan lama yang menyebut buah bekas gigitan hewan adalah buah yang paling manis harus segera ditinggalkan. Di balik manisnya buah tersebut, tersimpan risiko paparan liur hewan terinfeksi yang membawa muatan virus dalam jumlah besar.

Karakteristik dan bahaya klinis
Gejala Penyakit Virus Nipah. (Dok. Dinkes OKI/Nusaly.com)

Belajar dari sejarah Malaysia

Dunia pertama kali mengenal keganasan virus ini melalui tragedi di Kampung Sungai Nipah, Malaysia, pada tahun 1998. Kala itu, dunia medis sempat terkecoh karena gejala yang muncul menyerupai peradangan otak biasa. Namun, pola penularan dari babi ke manusia mengungkap fakta adanya patogen baru.

Baca juga  MTQ XXX OKI: Syiar Implementasi Nilai Al-Quran dalam Kehidupan

Tragedi Malaysia memaksa pemusnahan massal lebih dari satu juta ekor babi dan menghancurkan industri peternakan mereka dalam sekejap. Pengalaman pahit negara tetangga ini menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa nipah bukan hanya urusan kesehatan harian, melainkan ancaman bagi ketahanan ekonomi dan stabilitas sosial jika terjadi kejadian luar biasa (KLB).

Benteng di pintu negara

Kesiagaan di tingkat lokal seperti di OKI berjalan selaras dengan penguatan pengawasan di gerbang internasional. Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan seluruh Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) untuk memperketat skrining bagi pelaku perjalanan dari negara terdampak di seluruh bandara dan pelabuhan.

Pemerintah juga meminta para peternak di daerah untuk meningkatkan biosekuriti kandang. Kandang ternak dianjurkan dijauhkan dari pohon buah yang dapat mengundang kelelawar. Inang perantara seperti babi berperan sebagai “pabrik” replikasi virus sebelum akhirnya menular ke manusia melalui kontak erat.

Agung menegaskan, deteksi dini di tingkat puskesmas kini menjadi krusial. Petugas medis diinstruksikan untuk lebih jeli melihat gejala gangguan saraf yang disertai demam pascakontak berisiko. ”Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Isolasi penderita secara dini adalah cara kita melindungi masyarakat luas,” tuturnya.

Melalui sinergi antara pengawasan ketat di pintu masuk negara dan edukasi perilaku hidup bersih di tingkat desa, pemerintah berupaya memastikan virus nipah tidak mendapatkan celah untuk berkembang di tanah air. Kesiapsiagaan ini adalah bentuk perlindungan nyata terhadap keselamatan publik di atas kepentingan apa pun.

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.