Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan

Banner Ramdan Pemkab MUBA
Humaniora

Lampu Pesantren yang Tak Lagi Bebankan Bumi

×

Lampu Pesantren yang Tak Lagi Bebankan Bumi

Sebarkan artikel ini
Lampu Pesantren yang Tak Lagi Bebankan Bumi
Foto bersama setelah pembukaan Lokakarya efisiensi dan transisi energi listrik di lingkungan pesanteren, pada 28 Februari 2025 di MBS Zam-zam Cilongokok, Banyumas. Dok. Istimewa

Kemandirian energi mulai tumbuh dari balik dinding pesantren melalui gerakan efisiensi dan adopsi panel surya. Di Banyumas, para pengelola pondok merumuskan cara agar ibadah dan pendidikan tetap berjalan tanpa harus meninggalkan jejak karbon yang besar.

BANYUMAS, NUSALY – Suara santri yang melantunkan ayat suci di malam hari sering kali diikuti dengan deru tagihan listrik yang mencekik kas pondok. Di banyak pesantren, lampu yang menyala 24 jam di asrama, dapur yang tak pernah berhenti mengepul, hingga ruang kelas adalah mesin konsumsi energi fosil yang rakus. Namun, sebuah kesadaran baru kini tengah berkecambah di Banyumas: bahwa ketaatan pada agama seharusnya selaras dengan tanggung jawab menjaga napas bumi.

Kesadaran itu mewujud dalam pertemuan puluhan pengelola pesantren di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam, Cilongok, yang tuntas pada akhir pekan lalu, Minggu (1/3/2026). Melalui Program 1000 Cahaya, mereka tidak lagi sekadar bicara soal kurikulum, melainkan cara memanen sinar matahari. Transisi energi ini bukan lagi wacana elite di Jakarta, melainkan aksi nyata yang menyentuh genteng-genteng pesantren di pelosok Jawa Tengah sebagai bagian dari Gerakan Islam Berkemajuan.

Hening Parlan, pengarah Program 1000 Cahaya sekaligus Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, menegaskan bahwa gerakan ini memiliki akar kolaborasi global lintas agama yang telah bergerak di 70 negara sejak 2020. Baginya, memasang panel surya di atas masjid atau asrama adalah bentuk nyata dari amanah sebagai khalifah di bumi.

“Isu energi adalah isu kemanusiaan. Kita ingin santri paham bahwa hemat listrik adalah bagian dari ibadah menjaga bumi,” tuturnya.

Melawan budaya boros

Persoalan utama ternyata bukan pada teknologi, melainkan pada kebiasaan yang telanjur berakar. Sudarto M. Abu Kasim, salah satu motor penggerak 1000 Cahaya, mengingatkan bahwa secanggih apa pun panel surya yang terpasang, ia akan sia-sia jika mentalitas penggunanya masih boros. Efisiensi energi justru dimulai dari jempol yang menekan sakelar saat lampu tak lagi dibutuhkan.

Baca juga  Atasi 1.200 Ton Sampah Harian, Ratu Dewa Targetkan PLTSa Palembang Beroperasi Penuh

Di Jawa Timur, beberapa pesantren binaan sudah memberikan bukti. Mereka sanggup memangkas pengeluaran listrik hingga 22 persen hanya dengan membenahi pola pemakaian harian. Angka ini adalah kemenangan besar bagi kas pesantren yang biasanya harus memutar otak setiap akhir bulan saat tagihan PLN datang. Hingga saat ini, jejak-jejak panel surya sudah mulai terlihat di 28 titik, mulai dari rumah sakit hingga masjid-masjid Muhammadiyah.

Namun, jalan menuju kemandirian energi ini tak selalu mulus. Investasi awal untuk membeli perangkat panel surya masih dianggap mahal bagi banyak pesantren dengan dana terbatas. Belum lagi urusan teknis dan administrasi dengan pihak penyedia listrik negara yang sering kali membingungkan bagi pengelola pondok. Di Cilongok, ide-ide kreatif pun bermunculan, termasuk menggabungkan energi surya dengan usaha pertanian dan biogas agar pesantren bisa benar-benar mandiri secara ekonomi.

Teladan dari bilik santri

Arif Fauzi, Mudir Pesantren Zam-Zam, memandang pesantren sebagai laboratorium karakter yang paling efektif. Jika seorang santri terbiasa hidup hemat energi selama tiga atau enam tahun di pondok, kebiasaan itu akan menjadi “darah daging” saat mereka kembali ke masyarakat. Pesantren tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat menghafal teks, tapi juga harus menjadi teladan dalam aksi iklim.

Senada dengan itu, para tokoh lokal di Banyumas menilai transisi energi adalah kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Krisis energi global dan kerusakan lingkungan yang kian nyata menuntut lembaga pendidikan agama untuk turun tangan. Gerakan kecil dari Banyumas ini diharapkan menjalar ke ribuan pesantren lain di seluruh penjuru Nusantara.

Kedaulatan energi yang dimulai dari bilik-bilik santri adalah investasi jangka panjang. Memanfaatkan matahari—anugerah Tuhan yang paling melimpah di Indonesia—adalah cara paling jujur untuk mendidik generasi mendatang. Cahaya yang dihasilkan dari atap-atap pesantren ini diharapkan tidak hanya menerangi ruangan, tapi juga menjadi penuntun bagi umat untuk hidup lebih adil terhadap alam. (*)