Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
1 Ramadan 1447 H Memuat Tanggal... Puasa Hari Ke-1
Humaniora

Niat Sholat Tarawih dan Witir Ramadan 2026 Lengkap dengan Makna Sejarahnya

×

Niat Sholat Tarawih dan Witir Ramadan 2026 Lengkap dengan Makna Sejarahnya

Sebarkan artikel ini
Niat Sholat Tarawih dan Witir Ramadan 2026 Lengkap dengan Makna Sejarahnya
Ibadah Tarawih bukan sekadar rutinitas malam Ramadan, melainkan manifestasi spirit "Qiyamul Lail". Dok. Nusaly.com dibuat dengan AI

Ibadah Tarawih bukan sekadar rutinitas malam Ramadan, melainkan manifestasi spirit “Qiyamul Lail”. Memahami niat dan tata cara yang benar membantu umat meraih kekhusyukan di tengah keragaman tradisi rakaat.

PALEMBANG, NUSALY – Memasuki malam-malam pertama Ramadan 1447 Hijriah atau Februari 2026, masjid-masjid di seluruh pelosok Tanah Air kembali riuh dengan lantunan ayat suci dalam ibadah Tarawih. Shalat yang secara bahasa berarti “istirahat” ini merupakan salah satu sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang menjadi identitas spiritual bulan suci. Namun, di balik rutinitasnya, Tarawih menyimpan kekayaan sejarah taktis dan fleksibilitas hukum yang patut dipahami agar ibadah tidak sekadar menjadi gerak fisik tanpa makna.

Secara historis, Nabi Muhammad SAW hanya melakukan shalat ini secara berjamaah di masjid selama tiga malam berturut-turut sebelum akhirnya memilih melaksanakannya di rumah karena khawatir umat akan menganggapnya sebagai kewajiban. Standardisasi Tarawih berjamaah yang kita kenal sekarang baru dilembagakan secara masif pada era Khalifah Umar bin Khattab RA untuk menyatukan barisan umat.

Niat Sholat Tarawih

Landasan utama setiap ibadah adalah niat (qashdu). Berikut adalah lafal niat shalat Tarawih yang dapat diamalkan:

1. Niat sebagai Makmum (Berjamaah): اللَّهُمَّ أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى Ushallî sunnatat tarâwîhi rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Niat Sendiri (Munfarid): اللَّهُمَّ أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallî sunnatat tarâwîhi rak‘ataini mustaqbilal qiblati lillāhi ta‘ālā Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Baca juga  Tarhib Ramadan dan Ikhtiar Yayasan Agung Madani Membumikan Nilai Spiritual di Kayuagung

Dialektika Jumlah Rakaat

Perbedaan jumlah rakaat antara 8 rakaat dan 20 rakaat sering kali menjadi diskursus di tingkat akar rumput. Padahal, secara fikih, keduanya memiliki landasan yang kuat. Pendapat 8 rakaat bersandar pada riwayat Aisyah RA tentang kebiasaan Nabi yang tidak melebihi 11 rakaat (termasuk Witir). Sementara itu, tradisi 20 rakaat merupakan ijtihad Umar bin Khattab yang kemudian diamalkan secara turun-temurun di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Bagi pembaca Kompas, penting untuk memahami bahwa esensi Tarawih adalah Thuma’ninah (ketenangan). Jumlah rakaat yang banyak namun dilakukan secara terburu-buru sering kali justru mencederai makna asal kata “Tarawih” yang berarti istirahat sejenak di setiap jeda salam.

Niat Sholat Witir

Sebagai penutup rangkaian ibadah malam, shalat Witir dilakukan dengan jumlah rakaat ganjil. Berikut adalah lafal niat untuk tiga rakaat:

اللَّهُمَّ أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى Ushallî sunnatal witri tsalâtha rak‘ātin lillāhi ta‘ālā Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Witir tiga rakaat karena Allah Ta’ala.”

Pada pertengahan terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan menyertakan doa Qunut pada rakaat terakhir Witir sebagai permohonan perlindungan dan ampunan di malam-malam penghujung bulan suci.

Spiritualitas Qiyamul Lail

Tarawih dan Witir bukan sekadar kompetisi fisik dalam jumlah rakaat, melainkan momentum transformasi diri. Secara sosiologis, shalat berjamaah di masjid mempererat kohesi sosial masyarakat melalui interaksi malam hari. Secara spiritual, ia adalah laboratorium kesabaran bagi setiap mukmin.

Sebagaimana pesan para ulama, yang utama dalam shalat malam bukan semata-mata kuantitas rakaat, melainkan kualitas keikhlasan dan bagaimana ibadah tersebut mampu memperbaiki akhlak seseorang setelah bulan suci berakhir. Memperbanyak zikir dan doa setelah salam adalah cara terbaik untuk menutup malam dengan penuh ketundukan kepada Sang Khaliq.

Baca juga  Akselerasi Perbaikan Jalan Tol Trans-Sumatera Jelang Puncak Arus Mudik

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.