KAYUAGUNG, NUSALY — Dinamika organisasi mahasiswa di tingkat lokal sering kali menghadapi tantangan konsistensi kaderisasi. Menyadari hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Bende Seguguk OKI menggelar agenda silaturahmi dan ramah tamah di Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), Jumat (30/1/2026). Pertemuan ini menjadi titik tolak reaktivasi organisasi setelah melalui masa konsolidasi internal.
Bagi HMI, yang merupakan organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia sejak berdiri pada 5 Februari 1947, struktur komisariat adalah ujung tombak dalam mencetak insan akademis, pencipta, dan pengabdi. Di wilayah seperti OKI, keberadaan kelompok mahasiswa yang terorganisir secara ideologis menjadi krusial sebagai mitra kritis pembangunan daerah sekaligus kontrol sosial atas kebijakan pemerintah setempat.
Ketua HMI Komisariat Bende Seguguk OKI, Tegar, menegaskan bahwa pertemuan yang dikemas secara informal melalui sesi ramah tamah ini bertujuan menyatukan kembali frekuensi dan semangat seluruh kader. Menurut Tegar, masa jeda yang sempat dilalui organisasi merupakan momentum untuk penguatan internal sebelum kembali berkontribusi secara nyata di lingkungan kampus dan masyarakat.
Menjaga Independensi dan Kualitas Intelektual
Tantangan terbesar gerakan mahasiswa saat ini adalah menjaga independensi etis dan organisatoris di tengah tarikan kepentingan praktis. Sebagai laboratorium kepemimpinan, komitmen HMI di tingkat komisariat menjadi krusial untuk memastikan proses transformasi ideologi tidak terputus demi melahirkan intelektual yang berintegritas.
“Kekuatan HMI terletak pada kualitas silaturahmi dan keteguhan komitmen kader-kadernya. Kami berikhtiar agar HMI Bende Seguguk OKI dapat segera memacu inovasi gerakan dan program kerja strategis yang berdampak nyata,” ujar Tegar.
Reaktivasi ini mencakup penyusunan kembali arah gerak organisasi yang lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Fokus utamanya adalah bagaimana kader HMI mampu menjadi lokomotif perubahan yang tidak hanya kuat secara wacana, tetapi juga cakap dalam implementasi program di lapangan. Solidaritas yang dibangun melalui pertemuan ini diharapkan menjadi modal dasar untuk menghadapi dinamika kemahasiswaan ke depan.
Urgensi Kaderisasi di Tingkat Tapak
Secara sosiologis, kehadiran HMI di tingkat lokal seperti OKI memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial mereka. Sebagai wadah transformasi kepemimpinan, komisariat dituntut untuk terus melahirkan intelektual muda yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.
Kader yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan komitmen untuk kembali aktif mengawal misi perkaderan. Hal ini menjadi sinyal positif bagi iklim aktivisme di OKI, mengingat mahasiswa adalah elemen penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi di daerah. Dengan kembali aktifnya gerbong organisasi, diharapkan muncul gagasan-gagasan segar yang solutif bagi persoalan lokal.
Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai rencana strategis jangka pendek, termasuk penguatan rekrutmen kader baru dan peningkatan kapasitas intelektual anggota melalui kajian-kajian rutin. Melalui semangat independensi, HMI Bende Seguguk OKI berupaya tetap tegak berdiri sebagai pilar perjuangan mahasiswa yang konsisten mengabdi untuk umat dan bangsa.
Keberlanjutan organisasi mahasiswa di daerah seperti ini menjadi indikator penting bagi kesehatan demokrasi di tingkat akar rumput. Selama proses kaderisasi tetap berjalan secara substansial, harapan akan lahirnya calon-calon pemimpin yang berintegritas dari bumi Ogan Komering Ilir akan tetap terjaga.
(dhi)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




