Langkah Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia merangkul Baznas RI menjadi babak baru bagi profesionalisme media di ranah filantropi. Kolaborasi strategis ini akan dikukuhkan melalui nota kesepahaman pada perhelatan Munas SWI di Boyolali, Mei mendatang.
JAKARTA, NUSALY – Ada yang berbeda dari dinamika Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah ini. Di tengah keriuhan persiapan Musyawarah Nasional (Munas), organisasi profesi jurnalis ini justru mengambil peran yang lebih luas: menjadi jembatan bagi gerakan filantropi nasional. Langkah ini dimulai dengan penjajakan sinergi strategis antara SWI dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI Kantor Pusat guna memperkuat syiar zakat di Tanah Air.
Bagi SWI, ajakan kolaborasi dari lembaga pengelola zakat negara ini bukan sekadar urusan publikasi biasa. Ini adalah pengakuan atas kekuatan jejaring wartawan yang selama ini bergerilya di pelosok Nusantara. Literasi mengenai zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sering kali terjebak dalam angka-angka statistik yang dingin. Di sinilah SWI hadir untuk memberikan “ruh” pada data tersebut melalui narasi jurnalisme yang lebih manusiawi dan mengedukasi masyarakat.
Plt. Ketua Umum SWI, Herry Budiman, menuturkan bahwa momentum ini hadir pada waktu yang sangat presisi. Saat internal organisasi sedang mematangkan agenda Munas, tawaran dari Baznas menjadi kado sekaligus tantangan bagi marwah profesi. Rencananya, detail kolaborasi ini akan disosialisasikan secara langsung kepada para peserta Munas pada sesi pembukaan di Boyolali, 21 Mei 2026 mendatang.
Formalkan sinergi
Optimisme menyeruak dalam diskusi panitia Munas. Para pengurus pusat sepakat bahwa kolaborasi ini harus memiliki pijakan yang kuat, bukan sekadar basa-basi seremonial. Nota Kesepahaman (MoU) menjadi harga mati agar kerja sama ini bersifat jangka panjang dan mengikat secara profesional.
“Nanti saya komunikasikan agar penandatanganan MoU dilakukan langsung pada pembukaan Munas di Boyolali. Kita beri ruang luas agar program Baznas dipahami oleh seluruh anggota,” ungkap Herry, Selasa (3/3/2026).
Langkah SWI ini seolah menjawab kegelisahan akan rendahnya literasi zakat di tengah melimpahnya potensi dana umat. Melalui keterlibatan wartawan, program-program unggulan seperti Beasiswa Cendekia, Bank Zakat Mikro, hingga Rumah Layak Huni tidak lagi hanya menjadi laporan tahunan di atas meja pejabat. Jurnalis SWI di daerah memiliki mandat moral untuk menceritakan bagaimana setiap rupiah zakat mampu mengubah nasib seorang mustahik menjadi mandiri melalui ZMart atau ZChicken.
Lebih jauh, sinergi ini menempatkan SWI sebagai garda depan transparansi. Di era disrupsi informasi, kehadiran jurnalis profesional dalam mengawal distribusi dana zakat menjadi jaminan bagi para muzaki bahwa amanah mereka sampai ke tangan yang tepat. Ini adalah simbiosis mutualisme: Baznas mendapatkan jangkauan publikasi yang kredibel, sementara SWI memperkuat marwahnya sebagai organisasi yang peduli pada isu-isu kemanusiaan dan sosial-ekonomi.
Gema munas
Pemilihan Boyolali sebagai lokasi Munas sekaligus panggung penandatanganan MoU bukan tanpa alasan. Wilayah ini menjadi simbol bagaimana ekonomi kerakyatan dan nilai-nilai religiusitas berkelindan erat. Program seperti Santripreneur, yang menjadi salah satu andalan Baznas, sangat relevan dengan karakteristik daerah tersebut. SWI ingin menunjukkan bahwa wartawan tidak hanya hadir untuk meliput konflik atau seremoni politik, tetapi juga hadir dalam denyut nadi pembangunan ekonomi umat.
Program Baznas Tanggap Bencana juga menjadi poin krusial dalam kerja sama ini. Jejaring wartawan SWI di daerah sering kali menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi bencana. Dengan adanya kolaborasi ini, alur informasi mengenai kebutuhan logistik dan evakuasi bisa lebih akurat dan terkoordinasi. Wartawan tidak lagi sekadar melaporkan bencana, mereka menjadi bagian dari sistem respons cepat yang menyelamatkan nyawa.
Herry menambahkan, Ramadhan tahun ini menjadi titik balik bagi SWI untuk membuktikan bahwa profesionalisme media bisa berjalan beriringan dengan misi dakwah kebangsaan. Penguatan positioning SWI sebagai mitra strategis gerakan zakat nasional adalah bentuk pengabdian nyata pers bagi masyarakat bawah. “Harapannya, keberkahan ini tidak hanya dirasakan oleh organisasi, tetapi juga menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi bangsa,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi ini, SWI sedang menulis sejarah baru. Mereka membuktikan bahwa tinta jurnalis bisa menjadi pelumas bagi roda filantropi nasional. Ke depan, tantangan terbesarnya adalah memastikan setiap jurnalis di bawah naungan SWI mampu menjaga integritas sembari menyuarakan kebaikan zakat hingga ke ujung desa. Gerakan menguatkan zakat untuk menguatkan umat kini telah menemukan sekutu kuatnya di meja redaksi. (*)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





