Sebagai desa dengan populasi terbanyak di Kecamatan Mesuji, Desa Suryaadi menyimpan potensi ekonomi besar namun terkendala infrastruktur drainase dan pasar yang menua. Anggota DPRD Sumsel Aziz Ari Saputra berkomitmen mengawal aspirasi warga guna memperkuat ketahanan pangan dan konektivitas logistik.
OKI, NUSALY — Di peta statistik Ogan Komering Ilir (OKI), Desa Suryaadi bukanlah sekadar titik koordinat biasa. Terletak sekitar 94 kilometer dari ibu kota kabupaten, desa seluas 39,53 kilometer persegi ini memegang status sebagai desa terpadat sekaligus episentrum kependudukan di Kecamatan Mesuji. Maka, ketika Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Aziz Ari Saputra menggelar reses di sini, Minggu (15/2/2026), agenda yang dibahas bukan lagi soal kebutuhan dasar pinggiran, melainkan soal penataan sebuah pusat pertumbuhan.
Di bawah tenda sederhana yang kontras dengan geliat penduduknya yang mencapai 6.950 jiwa, Aziz Ari Saputra mendengarkan aspirasi yang sangat teknis. Kehadiran legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) III Sumatera Selatan (OKI dan Ogan Ilir) ini disambut oleh Kepala Desa Suryaadi, H. Moh. Taufik, SP. M.Si. Dialog ini menjadi menarik karena mempertemukan politisi pengawal anggaran dengan kepala desa yang memiliki latar belakang akademik pertanian yang kuat.
Bagi Aziz, Suryaadi yang menyumbang 15,35 persen total penduduk di Kecamatan Mesuji adalah motor penggerak ekonomi. Namun, motor ini terhambat oleh “penyakit” klasik infrastruktur: saluran air yang mampet dan jalan distribusi yang rusak. Aspirasi yang disuarakan warga bukan lagi sekadar keinginan, melainkan urgensi untuk mempertahankan denyut nadi ekonomi desa yang sangat produktif.
Paradoks Populasi
Salah satu keluhan paling krusial yang dicatat Aziz adalah kebutuhan pembangunan drainase sepanjang 1.000 meter. Di wilayah dataran rendah seperti Suryaadi, ketiadaan saluran air yang mumpuni adalah ancaman bagi produktivitas. H. Satino, salah satu perwakilan warga, menekankan bahwa tanpa drainase yang optimal, genangan air saat hujan tidak hanya merusak kenyamanan, tetapi juga melumpuhkan mobilitas warga yang hendak membawa hasil bumi.
Logika pembangunannya sederhana namun berdampak luas: drainase yang baik adalah pelindung bagi umur panjang jalan desa. “Kalau hujan turun, air sering meluap karena drainase tidak optimal. Jalan juga sulit dilalui, apalagi saat membawa hasil panen,” ujar Satino.
Aziz Ari Saputra membedah masalah ini lebih dalam. Menurutnya, kegagalan infrastruktur air di desa terpadat seperti Suryaadi akan berdampak pada sanitasi. Meskipun desa ini unggul dengan memiliki 3 dokter umum dan 16 bidan, rasio tenaga kesehatan tertinggi di kecamatan, masalah lingkungan seperti genangan air dapat memicu masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dimitigasi melalui penguatan drainase.
Revitalisasi Ekonomi
Meskipun data komoditas sering kali disajikan secara agregat di tingkat kecamatan, jejak pertanian Suryaadi terlihat jelas dari produksi sayuran di Mesuji yang mencapai angka signifikan. Cabai rawit dengan produksi 7.039 kuintal serta cabai keriting seluas 39 hektar merupakan tulang punggung ekonomi yang butuh dukungan infrastruktur.
Dalam konteks inilah Aziz melihat urgensi rehabilitasi Pasar Gajah. Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan muara dari seluruh komoditas sayuran dan buah-buahan seperti jeruk siam dan pisang yang diproduksi warga. Tanpa pasar yang representatif, potensi ekonomi Suryaadi sebagai penghasil cabai terbesar di wilayahnya akan tergerus oleh ongkos logistik dan rusaknya kualitas barang akibat fasilitas pasar yang buruk.
“Kita bicara soal penguatan ekonomi lokal. Jika Pasar Gajah direhabilitasi dan Jalan Blok C dicor, petani kita punya nilai tawar lebih tinggi. Barang tidak rusak di jalan, dan transaksi di pasar menjadi lebih nyaman,” tegas Aziz. Pengecoran Jalan Blok C dipandang Aziz sebagai kunci konektivitas logistik yang akan memotong rantai distribusi yang selama ini membebani petani.

Komitmen Konstitusional
Sebagai legislator dari Fraksi PKB, Aziz Ari Saputra menyadari betul peran strategisnya sebagai jembatan anggaran. Ia mengingatkan warga bahwa meskipun aspirasi ini adalah perintah konstitusi, realisasinya tetap harus melewati kurasi skala prioritas dan menyesuaikan kemampuan fiskal daerah.
“Melalui reses ini, kami memastikan suara masyarakat Desa Suryaadi yang merupakan desa dengan penduduk terbanyak di Mesuji ini, benar-benar sampai ke pembahasan program di tingkat provinsi,” ujar Aziz. Pengawalan ini menjadi krusial mengingat Desa Suryaadi memiliki jarak 94 kilometer dari ibu kota kabupaten, yang membuat koordinasi pembangunan tingkat provinsi menjadi harapan utama warga untuk mendapatkan percepatan.
Kepala Desa Suryaadi, H. Moh. Taufik, mengapresiasi kejelian Aziz dalam menangkap detail kebutuhan desa. Dengan latar belakang pendidikan pertanian (SP, M.Si), Taufik memahami bahwa usulan perbaikan Pamsimas di Dusun II bukan sekadar air untuk minum, melainkan penyokong utama kualitas hidup masyarakat di pemukiman padat.
Reses hari itu ditutup dengan sebuah janji pengawalan. Aziz Ari Saputra membawa pulang catatan mengenai 1.000 meter drainase, pengecoran jalan, dan masa depan Pasar Gajah. Bagi warga Suryaadi, kehadiran Aziz adalah sinyal bahwa meskipun mereka berada puluhan kilometer dari pusat kekuasaan, aspirasi mereka tidak akan menguap begitu saja di bawah tenda sederhana.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

