Scroll untuk baca artikel
Palembang Berdaya

Langkah Pemkot Palembang Membangunkan Raksasa Tidur Melalui Raungan Sirine Menara Air Jalan Merdeka

×

Langkah Pemkot Palembang Membangunkan Raksasa Tidur Melalui Raungan Sirine Menara Air Jalan Merdeka

Sebarkan artikel ini
Langkah Pemkot Palembang Membangunkan Raksasa Tidur Melalui Raungan Sirine Menara Air Jalan Merdeka
Gedung Kantor Wali Kota Palembang. Dok. Istimewa

Bukan sekadar seremoni, pengoperasian kembali sirine dan lampu skylight di Kantor Wali Kota Palembang mulai Senin (16/2/2026) adalah upaya memulihkan memori publik. Selain penanda waktu, perangkat di bekas menara air kolonial ini diproyeksikan menjadi tulang punggung mitigasi bencana kota.

PALEMBANG, NUSALY — Jika hari ini, Senin (16/2/2026), Anda sedang melintas di Jalan Merdeka dan mendadak dikagetkan oleh suara raungan yang membelah udara, jangan buru-buru panik. Itu bukan tanda bahaya perang, melainkan suara “raksasa” yang baru saja dibangunkan dari tidur panjangnya. Pemerintah Kota Palembang resmi memfungsikan kembali sirine dan lampu skylight di puncak gedung Kantor Wali Kota—sebuah bangunan ikonik yang secara historis merupakan watertoren atau menara air peninggalan era kolonial Belanda.

Langkah ini sebenarnya bukan cuma soal teknis menyalakan mesin tua. Ini adalah upaya Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan untuk mengembalikan fungsi simbolik sebuah gedung pemerintahan agar tidak cuma jadi onggokan beton administratif yang kaku. Selama puluhan tahun, sirine di menara ini sempat menjadi denyut nadi yang mengatur ritme hidup warga Bumi Sriwijaya, sebelum akhirnya bungkam dimakan zaman. Kini, mulai hari ini, suara itu kembali diletakkan pada tempatnya semula: sebagai pengingat waktu dan pengawal keselamatan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palembang, Kemas Haikal, menyebut langkah ini sebagai strategi “mengembalikan marwah”. Gedung Wali Kota harus kembali jadi pusat perhatian kota, bukan cuma lewat arsitekturnya yang unik, tapi lewat fungsi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh pendengaran warga. “Kita ingin masyarakat kembali merasa dekat dengan pusat kotanya. Ini bukan sekadar urusan bunyi atau lampu menyala, tapi soal identitas dan harga diri wajah kota,” kata Haikal dengan nada bicara yang lugas.

Kontrol Waktu

Mulai Senin ini, sirine tersebut akan memiliki jadwal “manggung” yang tetap. Setiap Senin sampai Kamis, tepat pada pukul 12.00 WIB, sirine akan meraung panjang sebagai penanda waktu istirahat. Khusus hari Jumat, jadwalnya digeser sedikit lebih awal, yakni pukul 11.30 WIB, untuk memberi aba-aba bagi para pekerja dan pelajar bersiap menuju masjid. Haikal bahkan sudah merancang agar sirine ini memegang peran krusial saat bulan Ramadan nanti—yakni sebagai penanda waktu imsak yang jangkauan suaranya mampu menembus pelosok pemukiman padat.

Baca juga  Rumah Kayu di Gandus Palembang Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Di sisi lain, visualisasi kota juga dipermak. Lampu skylight yang terpasang di area menara akan mulai menyorot langit tepat sebelum waktu magrib tiba. Pencahayaan ini bukan cuma buat gaya-gayaan atau sekadar estetika malam hari. Di kota yang sedang gencar memoles pariwisata seperti Palembang, kehadiran cahaya dari gedung bersejarah ini diharapkan mampu memperkuat karakter kawasan Jalan Merdeka dan sekitarnya agar tidak kalah mentereng dibanding kemegahan Jembatan Ampera di dekatnya.

Namun, Haikal sadar betul kalau suara keras ini bisa memicu kesalahpahaman jika tidak dibarengi edukasi. Sosialisasi bertahap sedang digencarkan agar warga tidak mengira ada kebakaran besar setiap kali sirine berbunyi di tengah hari. “Kalau dengar sirine di jam-jam itu, tetap tenang saja. Itu aman dan memang sudah jadi bagian dari penanda waktu harian kita yang baru,” tambahnya.

Sistem Mitigasi

Meski kini dipakai buat pengingat makan siang dan waktu istirahat, jangan lupa kalau “nyawa” asli dari sirine ini adalah Early Warning System (EWS) atau peringatan dini bencana. Haikal menegaskan bahwa fungsi utama alat ini sebagai instrumen mitigasi tetap tidak berubah. Dalam skenario terburuk—seperti kebakaran hebat di kawasan padat penduduk atau ancaman darurat lainnya—pola bunyi sirine akan dibuat berbeda secara radikal untuk memberikan sinyal evakuasi bagi warga.

Menghidupkan sirine setiap hari sebenarnya adalah cara paling efisien untuk mengecek kondisi alat. Dengan berbunyi setiap siang, tim Damkar bisa memastikan komponen mesin dan perangkat suaranya tetap prima. Bayangkan jika alat ini dibiarkan diam dan hanya dinyalakan saat darurat, risikonya terlalu besar jika mendadak macet saat nyawa warga sedang dipertaruhkan. Ini adalah model perawatan infrastruktur yang pintar: berfungsi sebagai layanan harian sekaligus simulasi kesiapan alat mitigasi secara terus-menerus.

Baca juga  Gedung Bersejarah Museum Tekstil Palembang Bersiap Alih Fungsi Sementara Jadi Kantor Pengadilan Negeri

Palembang, dengan tingkat kepadatan bangunan yang luar biasa di kawasan hilir maupun hulu, memang butuh sistem peringatan yang suara dan cahayanya bisa diakses semua orang tanpa perlu ketergantungan penuh pada aplikasi di ponsel. Sirine menara air ini memberikan jawaban itu—sebuah teknologi analog yang tetap relevan di tengah gempuran digital karena sifatnya yang mampu menjangkau massa secara instan dan tanpa biaya data.

Mengikat Memori

Secara sosiologis, apa yang dilakukan Pemkot Palembang ini adalah bentuk perawatan terhadap memori kolektif warga. Bagi orang-orang tua di Palembang, raungan sirine menara air ini adalah bagian dari masa kecil mereka yang hilang. Menghidupkannya kembali berarti membangun jembatan emosional antara masa lalu yang penuh sejarah dengan masa depan yang disiplin. Ini bukan sekadar proyek operasional, tapi upaya menanamkan kembali disiplin waktu di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang seringkali semrawut.

Wajah pariwisata Palembang juga akan mendapatkan amunisi baru. Turis yang datang tidak cuma melihat bangunan fisik, tapi bisa merasakan atmosfer kota yang punya “suara”. Integrasi antara sejarah, teknologi keselamatan, dan estetika visual ini adalah pola tata kelola kota yang humanis sekaligus pragmatis. Haikal berharap, dengan aktifnya kembali fasilitas ini, masyarakat Palembang punya rasa memiliki yang lebih kuat terhadap Kantor Wali Kota mereka sendiri.

Tantangan ke depannya tentu saja soal konsistensi. Jangan sampai semangat ini hanya menyala di awal tahun, lalu kembali bungkam karena alasan teknis atau perawatan yang diabaikan. Jika konsistensi ini dijaga, sirine dari gedung peninggalan Belanda ini akan terus menjadi penjaga waktu dan pelindung warga, sekaligus membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, Palembang tidak harus membuang warisan lamanya untuk bisa terlihat maju. Raksasa di Jalan Merdeka itu kini sudah bangun, dan suaranya adalah bukti bahwa kota ini masih punya detak jantung yang kuat.

(desta)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.