Di balik angka inflasi tahunan 4,37 persen, ada kerja keras Pemerintah Kota Palembang menjaga piring nasi warga tetap aman. Lewat jurus 4K, Wali Kota Ratu Dewa memastikan pasar tetap stabil di tengah hiruk-pikuk konsumsi bulan suci.
PALEMBANG, NUSALY – Angka 4,37 persen bukan sekadar deretan digit dalam rilis bulanan Badan Pusat Statistik (BPS). Bagi Pemerintah Kota Palembang, angka inflasi tahunan per Februari 2026 ini adalah alarm untuk segera turun ke pasar. Apalagi, saat ini Ramadhan sudah memasuki hari ke-13, fase di mana harga pangan biasanya mulai “bertingkah” mengikuti lonjakan permintaan warga yang kian tinggi.
Laporan terbaru menunjukkan adanya tekanan harga yang bersifat selektif. Tren mahalnya emas perhiasan di pasar global ternyata ikut menyumbang napas inflasi di Palembang sebesar 0,240 persen secara bulanan. Namun, urusan perut tetap jadi perhatian utama. Pemkot Palembang menyadari betul bahwa cuaca ekstrem belakangan ini telah menjepit pasokan cabai dan sayur-mayur, membuat harganya di tingkat pedagang sedikit bergoyang.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, tak ingin kehilangan momentum. Ia menginstruksikan jajarannya untuk mengunci stabilitas lewat Strategi 4K. Bukan sekadar jargon, strategi yang mencakup ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif ini menjadi kompas bagi Pemkot untuk melakukan intervensi pasar secara presisi.
Jaga Piring Warga
Menipisnya stok pangan akibat gagal panen di daerah sentra adalah tantangan nyata. Untuk mengakalinya, Pemkot Palembang melakukan manuver dengan memperkuat kerja sama antar-daerah dan menambah cadangan pangan strategis. Pasar murah pun bukan lagi seremoni, melainkan kebutuhan yang disebar merata hingga ke tingkat kelurahan.
“Kita tidak ingin warga terbebani. Makanya, pasar murah terus kita masifkan di setiap kecamatan. Di masa Ramadhan seperti sekarang, ketersediaan stok adalah harga mati. Pemkot Palembang memastikan jalur distribusi dari lumbung pangan ke pasar tradisional tidak boleh terhambat sedikit pun,” tegas Ratu Dewa saat mengecek langsung data harga di kantor BPS, Senin (2/3/2026).
Langkah Pemkot juga menyentuh urusan hulu. Perbaikan jalan dan pembenahan fasilitas pasar terus digenjot. Logikanya sederhana: jika biaya angkut murah dan pasar nyaman, harga di tangan konsumen pun bisa ditekan. Ini adalah bentuk investasi kesejahteraan yang dampaknya langsung dirasakan oleh emak-emak di dapur.
Sinergi dan Optimisme
Sinergi antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan BPS Palembang menjadi kunci deteksi dini. Dari hampir 400 komoditas yang dipantau, mayoritas atau sekitar 275 komoditas masih terpantau stabil. Hal ini membuktikan bahwa “tangan” pemerintah kota cukup kuat untuk menahan gejolak harga agar tidak meluas secara liar.
Kepala BPS Palembang, Edi Subeno, pun memberikan catatan positif. Turunnya harga BBM nonsubsidi serta nilai tukar rupiah yang anteng ikut menjadi penyeimbang di tengah tekanan harga pangan. Momentum ini dimanfaatkan Pemkot Palembang untuk menjaga agar inflasi tahun kalender tetap di angka yang wajar, yakni 0,63 persen.
Bagi Ratu Dewa, menjaga inflasi adalah menjaga senyum warga. Dengan pengawalan ketat melalui strategi 4K, Pemkot Palembang optimistis bisa menavigasi badai harga global maupun gangguan cuaca. Tujuannya satu: memastikan warga Palembang bisa menjalankan ibadah sisa Ramadhan dengan tenang, tanpa perlu waswas memikirkan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. (*)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




