Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan standar baru bagi lembaga keagamaan dalam menjaga ketenteraman daerah. Selain mengejar prestasi literasi Al-Quran di kancah internasional, LPTQ dan FU3SS diinstruksikan menjadi benteng pertahanan umat dalam meredam kepanikan pasar akibat dinamika geopolitik global.
PALEMBANG, NUSALY – Suasana takzim menyelimuti Griya Agung, Palembang, Selasa (3/3/2026) sore, saat Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan secara resmi memperkuat barisan kepemimpinan keagamaan daerah. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) serta Forum Ukhuwah Ulama Umaro Sumsel (FU3SS) periode 2025–2029. Pengukuhan yang dilaksanakan di tengah suasana Ramadan ini bukan sekadar seremoni pergantian jabatan, melainkan penegasan visi Gubernur dalam menjaga stabilitas “Bumi Sriwijaya”.
Gubernur Herman Deru menekankan bahwa kedua lembaga ini memikul tanggung jawab yang kian kompleks. Keberhasilan organisasi tidak boleh lagi hanya dipandang dari sudut pandang administratif atau tebalnya laporan kegiatan. Baginya, indikator kinerja utama (key performance indicator) lembaga keagamaan di Sumatera Selatan haruslah bersifat konkret, terukur, dan berdampak langsung pada ketenangan batin maupun sosial masyarakat.
Parameter prestasi
Dalam mandatnya kepada pengurus LPTQ yang kini dipimpin oleh Ketua Harian Ahmad Iskandar Zulkarnaen, Gubernur menetapkan dua parameter supremasi. Pertama adalah torehan prestasi di panggung tilawah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Gubernur memberikan apresiasi tinggi kepada kepengurusan periode sebelumnya yang telah membawa nama harum Sumatera Selatan melalui berbagai piala dan penghargaan, dan ia berharap pengurus baru dapat melampaui standar tersebut.
Namun, visi Gubernur jauh melampaui sekadar trofi. Parameter kedua yang ia garis bawahi adalah peran moral dalam memberantas buta aksara Al-Quran. Herman Deru secara khusus meminta LPTQ untuk memperkuat simpul koordinasi dengan jaringan rumah tahfidz dan pondok pesantren yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Baginya, kaderisasi yang kuat di tingkat akar rumput adalah kunci untuk membangun generasi Sumatera Selatan yang religius sekaligus cerdas secara literasi kitab suci.
Penjaga ukhuwah
Sementara itu, mandat khusus diberikan Gubernur kepada FU3SS yang dinakhodai oleh KH Kms Muhammad Ali. Di tengah masyarakat Sumatera Selatan yang sangat heterogen, Gubernur memosisikan forum ulama dan umaro ini sebagai perekat sosial yang paling vital. Parameter keberhasilannya jelas: mempertahankan status zero conflict yang selama ini menjadi identitas membanggakan bagi Sumatera Selatan.
Dalam pandangan Herman Deru, kemampuan untuk mencegah perpecahan, baik di internal umat beragama maupun antarumat beragama, adalah harga mati bagi stabilitas daerah. Gubernur meyakini bahwa ukhuwah atau persaudaraan yang kokoh bukan terjadi secara alami, melainkan melalui upaya komunikasi dan silaturahmi yang terus-menerus dibangun oleh tokoh agama dan pemerintah secara beriringan.
Redam kepanikan
Tantangan yang paling dinamis yang diangkat Gubernur dalam sambutannya adalah pengaruh dinamika global terhadap psikologi massa di daerah. Herman Deru menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, hingga Amerika Serikat. Di era keterbukaan informasi, isu perang di belahan dunia lain sering kali terdistorsi menjadi kekhawatiran lokal yang tidak rasional, terutama terkait pasokan kebutuhan pokok.
Gubernur secara tegas meminta FU3SS untuk hadir sebagai penenang bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam aksi borong bahan pokok atau panic buying. Ia tidak ingin isu geopolitik yang belum terverifikasi kebenarannya justru memicu ketidakstabilan ekonomi di pasar-pasar Sumatera Selatan. “Jangan sampai masyarakat panik memborong beras atau sembako karena isu yang belum jelas. Ini tugas FU3SS untuk menenangkan. Jangan sampai harga pasar justru goyang karena kepanikan,” ungkap Gubernur Herman Deru dengan nada instruktif.
Sinergi strategis
Arahan Gubernur tersebut menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap daya beli masyarakat. Ketenangan publik adalah modal utama agar mekanisme pasar tetap berjalan normal. Herman Deru menginginkan para tokoh agama di bawah naungan FU3SS aktif memberikan edukasi agar warga tetap rasional dalam berkonsumsi dan tidak mudah terhasut oleh isu kelangkaan pangan.
Acara pengukuhan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain Ketua MUI Sumsel Prof Dr KH Aflatun Muchtar serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Sumsel. Kehadiran mereka mempertegas dukungan kolektif terhadap langkah visioner Gubernur. Melalui sinergi LPTQ dan FU3SS, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di bawah kepemimpinan Herman Deru kembali membuktikan bahwa urusan pembinaan iman berjalan linier dengan upaya menjaga stabilitas sosial dan kemakmuran hidup orang banyak. (desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





