Momentum Safari Ramadhan di Kabupaten Ogan Ilir menjadi ruang bagi Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru untuk menekankan pentingnya keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kinerja publik. Di hadapan masyarakat dan aparatur daerah, Herman Deru mengingatkan bahwa ibadah puasa merupakan jembatan kesetaraan sosial yang tidak boleh menyurutkan produktivitas daerah.
OGAN ILIR, NUSALY – Ritual tahunan Safari Ramadhan sering kali dipandang sebagai seremoni birokrasi belaka. Namun, di tangan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, agenda yang berlangsung di Pendopoan Rumah Dinas Bupati Ogan Ilir, Rabu (4/3/2026) malam, diubah menjadi dialog ruang publik yang menekankan pada nilai kesetaraan dan etos kerja.
Kehadiran Gubernur yang didampingi Ketua TP PKK Sumsel Hj Feby Deru disambut hangat oleh Bupati Ogan Ilir Panca Wijaya Akbar. Bagi Pemerintah Provinsi Sumsel, kunjungan ini melampaui sekadar silaturahmi formal; ini adalah upaya memastikan roda pemerintahan di tingkat kabupaten tetap berputar kencang meski ritme metabolisme masyarakat sedang berubah selama bulan puasa.
Herman Deru menggunakan pendekatan komunikatif yang segar untuk mencairkan kekakuan protokoler. Ia menyoroti esensi puasa sebagai ibadah yang meruntuhkan kasta sosial. Di hadapan hadirin, ia melontarkan kelakar bermakna mendalam tentang bagaimana puasa menyatukan rakyat dan pemimpin dalam derajat yang sama.
“Baik jenderal, kades, bupati, gubernur, semuanya wajib puasa. Jam buka puasa kita sama semua,” ujar Herman Deru yang disambut tawa akrab hadirin. Pesan ini bukan sekadar banyolan, melainkan pengingat bahwa di mata regulasi langit maupun komitmen pelayanan publik, tidak ada keistimewaan yang boleh membuat seorang pejabat merasa lebih eksklusif dari rakyatnya.
Menepis Narasi Malas di Bulan Suci
Salah satu poin krusial yang ditegaskan Gubernur adalah mengenai produktivitas. Selama ini, ada stigma bahwa kinerja pelayanan publik cenderung melambat saat Ramadhan. Deru secara eksplisit menepis narasi tersebut. Menurutnya, kebijakan penyesuaian jam kerja—seperti menggeser jam masuk menjadi pukul 08.00 WIB—adalah fasilitas negara agar ASN dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa harus mengorbankan hak-hak layanan masyarakat.
Herman Deru ingin agar transisi jam kerja ini menjadi stimulus bagi aparatur di Ogan Ilir untuk bekerja lebih efektif. Ia menekankan bahwa puasa seharusnya menjadi bahan bakar spiritual untuk meningkatkan kualitas kerja, bukan alasan untuk menurunkan standar performa.
“Penyesuaian waktu dilakukan agar ibadah berjalan tanpa mengurangi kinerja. Produktivitas harus tetap terjaga karena tanggung jawab kita pada masyarakat tidak ikut berpuasa,” tegasnya.
Solidaritas Berbasis Jaring Pengaman
Di luar aspek kinerja, Safari Ramadhan ini juga menjadi etalase kepedulian sosial melalui penyerahan bantuan dan bingkisan kepada kaum duafa. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan jaring pengaman sosial yang dilakukan secara konsisten oleh Pemprov Sumsel untuk memastikan kebahagiaan Ramadhan dapat dirasakan secara merata oleh kelompok rentan.
Bupati Ogan Ilir Panca Wijaya Akbar menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Gubernur yang dinilai mampu memotivasi masyarakat Ogan Ilir. Sinergi antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten ini dianggap vital untuk menjaga stabilitas daerah di tengah dinamika ekonomi selama bulan suci.
Melalui Safari Ramadhan ini, Herman Deru tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga membawa pesan tentang kepemimpinan yang membumi. Ia sedang membangun narasi bahwa Sumatera Selatan yang maju adalah provinsi yang mampu menyatukan ketaatan ibadah dengan ketangkasan bekerja, di mana setiap jajaran pemerintahan—dari gubernur hingga perangkat desa—memiliki napas produktivitas yang sama. (aaa)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




