Aksi penggerudukan kantor PT Abadi Ogan Cemerlang (AOC) oleh warga Desa Gunung Kuripan menyingkap tabir pahit praktik pembebasan lahan tambang di Ogan Komering Ulu, di mana iming-iming lapangan kerja menjadi pemanis transaksi lahan murah yang hingga kini hanya menyisakan kebuntuan dan ketidakpastian.
OKU, NUSALY – Belantara pertambangan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) kembali menyimpan bara. Kali ini, puluhan warga Desa Gunung Kuripan, Kecamatan Pengandonan, memilih berdiri di depan pintu kantor PT Abadi Ogan Cemerlang (AOC), Selasa 12 Mei 2026.
Mereka tidak membawa sekadar amarah, melainkan menagih martabat atas tanah yang telah mereka lepaskan dengan harga rendah demi sebuah harapan yakni hak untuk bekerja di atas tanah mereka sendiri.
Namun, harapan itu membentur dinding keras birokrasi perusahaan. Mediasi yang dihadiri unsur TNI, Polri, dan pemerintah kecamatan berakhir dengan hasil nihil atau deadlock.
Alih-alih mendapatkan kepastian, warga justru disuguhi ketidakberdayaan manajemen yang hadir dalam pertemuan tersebut karena tidak memiliki wewenang mengambil keputusan.
Jebakan “Harga Murah” dan Kompensasi Semu
Kasus ini bermula dari pola pembebasan lahan yang disinyalir sarat dengan janji-janji lisan yang melampaui kenyataan.
Plt Sekcam Pengandonan, Musiri Mulyadi, mengungkapkan bahwa sebanyak 53 warga yang terlibat aksi merasa terjebak dalam skema transaksi yang tidak adil.
Mereka merelakan lahan dilepas dengan harga murah karena tergiur jaminan pekerjaan di perusahaan tambang tersebut.
“Warga bersedia jual tanah dengan harga murah karena iming-iming akan mendapat pekerjaan di PT AOC. Faktanya, dari 53 orang itu, masih ada 17 orang yang belum dipekerjakan sama sekali,” jelas Musiri.
Tak hanya soal pekerjaan, perusahaan juga diduga mengabaikan janji kompensasi masa tunggu sebesar Rp500.000 per bulan bagi warga yang belum terserap sebagai tenaga kerja.
Hingga saat ini, kompensasi tersebut hanyalah catatan di atas kertas yang tak kunjung cair, menciptakan luka ganda bagi warga yang kini telah kehilangan akses terhadap lahan pertanian mereka.
Ketiadaan Tanggung Jawab dan Manajemen “Bisu”
Sikap dingin perusahaan semakin terlihat saat pucuk pimpinan PT AOC seolah menghindar dari pusaran konflik.
Direktur Utama PT AOC, Aman Subagio, saat dikonfirmasi hanya memberikan arahan singkat untuk menghubungi Kepala Teknik Tambang (KTT), Muhammad Aditya Zulkarnain.
Namun, jalur komunikasi tersebut justru buntu, ponsel sang KTT tidak aktif, dan pesan digital yang dikirimkan pun tak berbalas.
Ketidakhadiran sosok pengambil keputusan dalam mediasi serta sulitnya akses komunikasi terhadap jajaran manajemen menunjukkan lemahnya tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) di mata warga.
“Kami hanya menagih janji. Tanah sudah dikuasai perusahaan, tapi kami tetap jadi penonton di rumah sendiri,” ungkap salah satu warga dengan nada getir.
Menagih Keadilan di Tengah Eksploitasi
Bagi masyarakat Gunung Kuripan, perjuangan ini bukan sekadar soal uang Rp500 ribu atau posisi buruh kasar. Ini adalah soal keadilan ruang.
Pelepasan lahan dengan harga di bawah standar pasar yang dibalut janji pekerjaan adalah bentuk eksploitasi sosiologis yang sering kali menimpa masyarakat di lingkar tambang.
Jika PT AOC terus bersembunyi di balik kebuntuan administratif, gejolak sosial di Pengandonan diprediksi akan terus meruncing.
Pemerintah daerah dan instansi terkait kini ditantang untuk bertindak lebih tegas; bukan sekadar menjadi mediator yang menyaksikan kebuntuan, melainkan menjadi penjamin agar investasi tambang tidak menggilas hak-hak dasar warga lokal yang telah menyerahkan ruang hidupnya demi kepentingan industri.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu itikad baik dari perusahaan. Tanpa langkah konkret, aksi serupa dipastikan akan kembali terjadi, karena bagi warga Gunung Kuripan, diam bukanlah pilihan saat janji-janji manis mulai terasa pahit. (Jum Radit)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





