Panggung kebudayaan tahunan terbesar di Sumatera Selatan resmi merampungkan seluruh agenda pementasannya. Kemasan edukatif berbasis kearifan lokal diproyeksikan menjadi motor penggerak baru industri pariwisata daerah.
PALEMBANG, NUSALY – Upaya merevitalisasi memori kolektif masyarakat terhadap jejak sejarah kejayaan maritim terbesar di Nusantara kembali dikemas lewat panggung modern.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memanfaatkan momentum kultural ini bukan sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan instrumen strategis untuk mentransfer nilai-nilai peradaban masa lalu kepada generasi zilenial di tengah gempuran budaya pop global.
Pergelaran akbar Festival Sriwijaya XXXIV Tahun 2026 yang dipusatkan di kompleks Dekranasda Jakabaring, Palembang, secara resmi menutup rangkaian acaranya pada Minggu (17/5/2026) malam.
Berlangsung selama tiga hari berturut-turut, festival budaya ini sekaligus diplot sebagai salah satu pilar utama dalam menyemarakkan momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Provinsi Sumatera Selatan.
Integrasi antara atraksi seni konvensional, pameran kriya industri kreatif, hingga festival kuliner khas air menjadi magnet utama yang sukses mendatangkan ribuan pengunjung domestik ke kawasan seberang ulu selama akhir pekan.
Pasar Kreatif
Agenda penutupan di hari ketiga menyuguhkan diversifikasi kegiatan yang dirancang asimetris guna mengakomodasi berbagai segmen minat masyarakat urban.
Sektor industri mode etnik mendapat ruang utama melalui pergelaran Fashion Show Busana Etnik Palembang, yang bersanding dengan ruang unjuk bakat dalam sesi Talent Show Palembang serta Talent Show Sanggar Kreatifitas Anak Bangsa.
Selain panggung estetik, ruang edukasi publik dibuka melalui ajang wicara (talkshow) interaktif yang mempertemukan para penggiat seni budaya, sejarawan, serta komunitas pelestari tradisi lokal Sumsel.
Identitas gastronomi wilayah juga tidak luput dari pembenahan visual melalui demo memasak kuliner pindang massal yang diinisiasi oleh Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Sumsel.
Langkah ini menjadi krusial untuk menegaskan kembali status Palembang sebagai kota pusaka kuliner berbasis sungai.
Rangkaian pementasan budaya dari berbagai kabupaten dan kota penyangga turut memperkaya keragaman corak festival.
Delegasi seni dari Kota Pagar Alam, Lubuk Linggau, Musi Rawas, hingga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) secara bergantian menampilkan repertoar tari, teater tutur, dan musik tradisi yang mencerminkan sub-kebudayaan batanghari sembilan sebelum ditutup oleh penampilan D’asterix Band.
Jaga Keberlanjutan
Dimensi pelestarian dalam kalender pariwisata ini dibedah oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel, Dr H Rudi Irawan SSoS MSi.
Rudi menegaskan bahwa Festival Sriwijaya mengemban mandat ideologis yang berat untuk mengembalikan kesadaran publik mengenai kejayaan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat kosmopolitan kuno di Asia Tenggara.
Target utama intervensi kebudayaan ini adalah kelompok generasi muda. Format penyajian materi sejarah kini dipaksa keluar dari pakem buku teks yang kaku, lalu ditenun ke dalam kemasan festival komersial yang interaktif dan ramah media sosial tanpa mengurangi bobot validitas historisnya.
“Festival Sriwijaya menjadi wadah untuk merawat budaya dan sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumatera Selatan,” urai Rudi Irawan di lokasi kegiatan.
Dampak Wisata
Sektor hilir dari penyelenggaraan festival berskala makro ini diplot mampu memberikan dampak instan pada angka kunjungan wisatawan jangka pendek (short-stay visitor), baik dari dalam maupun luar negeri.
Manajemen pariwisata Sumsel memproyeksikan promosi warisan budaya yang berkelanjutan ini akan memperkuat posisi tawar Palembang sebagai destinasi wisata sejarah (heritage tourism) unggulan di Indonesia barat.
Kehadiran infrastruktur penunjang seperti LRT Sumsel dan kluster olahraga Jakabaring dinilai menjadi modal besar dalam mempercepat integrasi ekosistem wisata pascafestival.
Melalui komitmen pengemasan yang edukatif dan adaptif terhadap teknologi digital, Festival Sriwijaya diharapkan terus berevolusi menjadi ruang ketiga yang mempertemukan kepentingan pelestarian sejarah dengan geliat ekonomi kreatif para pelaku UMKM lokal secara berimbang. (dhi)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





