Scroll untuk baca artikel
Kilas Daerah

Aksi Tanam Pohon di Kebun Raya Nongsa Menjadi Simbol Kolaborasi Menjaga Wajah Batam Tetap Asri

×

Aksi Tanam Pohon di Kebun Raya Nongsa Menjadi Simbol Kolaborasi Menjaga Wajah Batam Tetap Asri

Sebarkan artikel ini
Aksi Tanam Pohon di Kebun Raya Nongsa Menjadi Simbol Kolaborasi Menjaga Wajah Batam Tetap Asri
Komitmen Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra melalui aksi penanaman pohon di Kebun Raya Batam, Nongsa, pada Sabtu (14/2/2026). (Dok. Diskominfo Batam)

Di tengah laju industrialisasi yang kian kencang, Pemerintah Kota Batam melalui gerakan Gema Batam ASRI menggandeng insan media untuk menghijaukan kembali Kebun Raya Batam. Bukan sekadar seremoni, aksi ini adalah upaya mitigasi krisis lingkungan di gerbang investasi Indonesia.

BATAM, NUSALY — Membangun kota industri yang gersang dan penuh beton itu sebenarnya perkara gampang; cukup ratakan bukit dan bangun pabrik, maka uang akan mengalir. Namun, merawat kota agar tetap bisa “bernapas” di tengah kepungan cerobong asap dan aspal adalah tantangan yang jauh lebih berkelas. Itulah potret besar yang coba digambar oleh Pemerintah Kota Batam melalui aksi penanaman pohon di Kebun Raya Batam, Nongsa, pada Sabtu (14/2/2026). Di balik keringat dan bibit pohon yang ditanam hari itu, tersimpan pesan kuat: Batam menolak kehilangan jiwanya sebagai tempat tinggal yang manusiawi.

Gerakan penghijauan ini bukanlah aksi sporadis yang muncul tiba-tiba. Ia adalah urat nadi dari komitmen Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra yang baru saja mencanangkan Gerakan Masyarakat (Gema) Batam ASRI. Hanya hitungan hari setelah gerakan kolektif itu lahir, elemen media langsung “turun gunung” untuk menunjukkan bahwa jargon “Aman, Sehat, Resik, dan Indah” bukan cuma pemanis spanduk di persimpangan jalan, melainkan sebuah kontrak sosial baru untuk membangun budaya hidup hijau yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan, yang berdiri di tengah rimbunnya Kebun Raya Nongsa, memberikan apresiasi tajam atas keterlibatan insan media. Bagi Rudi, kehadiran media yang bertepatan dengan momentum hari jadi ke-26 Posmetro adalah sinyal bahwa urusan menjaga bumi bukan cuma beban di pundak dinas lingkungan hidup. Media punya kekuatan narasi yang jauh lebih efektif untuk meruntuhkan sikap abai masyarakat terhadap isu-isu kelestarian yang seringkali dianggap membosankan.

Napas Nongsa

Lantas, mengapa Kebun Raya Batam di Nongsa menjadi titik pilihannya? Kita harus paham bahwa Nongsa bukan sekadar wilayah resor mewah atau destinasi wisata akhir pekan. Nongsa adalah benteng pertahanan terakhir, sebuah paru-paru kota yang keberadaannya kian terhimpit oleh masifnya pembukaan lahan untuk kawasan industri dan perumahan. Kebun Raya ini adalah perpustakaan hidup bagi keanekaragaman hayati lokal yang harus diselamatkan sebelum terlambat.

Baca juga  Langkah Amsakar Achmad Mengonversi Anggaran Pendidikan Menjadi Kualitas Hidup Warga Batam

Rudi Panjaitan menegaskan bahwa aksi nyata media lokal ini adalah bentuk dukungan tanpa retorika terhadap Gema Batam ASRI. Di usia yang ke-26, kontribusi media diharapkan tidak lagi berhenti pada lembaran kertas atau portal berita digital, melainkan juga menancapkan “akar” di tanah Batam. Rudi memuji bagaimana media lokal mampu konsisten menghadirkan informasi yang mencerahkan di tengah badai hoaks dan konten receh yang seringkali menyesatkan publik.

Kolaborasi ini adalah strategi komunikasi publik yang sangat cerdik. Pemerintah menyediakan kebijakan dan sarana, sementara media bertugas mengubah pola pikir masyarakat. Tanpa narasi yang kuat dari media, gerakan semacam Gema Batam ASRI hanya akan dianggap sebagai proyek seremonial yang menghabiskan anggaran. Media berperan sebagai “pengeras suara” agar semangat menanam ini tidak berhenti di Nongsa, tapi meresap hingga ke gang-gang sempit di pemukiman padat penduduk.

Estetika Resik

Jika ada yang menganggap kata “ASRI” hanya soal estetika visual, mereka salah besar. Di balik konsep “Resik” dan “Indah”, tersimpan logika ekonomi yang sangat pragmatis bagi kota tujuan investasi seperti Batam. Sebagai pintu gerbang Indonesia, Batam adalah wajah pertama yang dilihat oleh investor internasional yang datang dari Singapura atau Johor. Investor tentu akan lebih percaya menanamkan modalnya di kota yang tertata rapi, bersih, dan asri daripada kota gersang yang penuh debu industri. Jadi, aksi tanam pohon ini sebenarnya adalah investasi ekonomi jangka panjang.

Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra tampaknya menyadari betul bahwa budaya hidup bersih harus dipaksa menjadi gaya hidup baru di Batam. Gema Batam ASRI adalah mesin untuk mendorong transformasi budaya tersebut. Aksi di Kebun Raya ini hanyalah bahan bakarnya agar mesin tersebut tidak macet di tengah jalan. Penataan lingkungan yang baik akan berdampak langsung pada indeks kebahagiaan warga, yang pada akhirnya akan menjaga stabilitas sosial di kota yang sangat heterogen ini.

Baca juga  Langkah Amsakar Achmad Mengonversi Anggaran Pendidikan Menjadi Kualitas Hidup Warga Batam

Di sisi lain, Rudi Panjaitan memberikan “sentilan” halus kepada semua yang hadir. Ia tidak ingin semangat hari itu layu setelah kamera wartawan mati dan acara resmi ditutup. Ia menuntut agar setiap bibit yang ditanam benar-benar dirawat hingga menjadi pohon yang rindang, bukan sekadar dijadikan konten media sosial sesaat. “Teruslah menanam untuk kehidupan yang berkelanjutan,” tegas Rudi. Kalimat ini adalah pengingat bahwa keberhasilan gerakan lingkungan diukur dari berapa banyak pohon yang tumbuh, bukan berapa banyak foto yang diunggah.

Masa Depan Hijau

Capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam yang kini bertengger di angka 83,8 memang membanggakan. Namun, IPM tinggi akan terasa hambar jika kualitas udara yang dihirup warganya buruk akibat kurangnya ruang terbuka hijau. Pembangunan sumber daya manusia yang sedang digenjot Pemko Batam harus berjalan seiring dengan perbaikan ekosistem. Anak-anak Batam yang hari ini mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan prima, juga berhak mewarisi kota yang tetap sejuk di masa depan.

Gema Batam ASRI harus dipandang sebagai payung besar bagi seluruh inisiatif lingkungan di kota ini. Kerja sama dengan media lokal hanyalah satu dari sekian banyak simpul yang harus dikaitkan. Ke depan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menggandeng raksasa industri di wilayah Muka Kuning atau Batam Centre untuk melakukan langkah serupa secara masif. Jika para jurnalis saja sudah mau memegang cangkul dan mengotori tangan dengan tanah, maka perusahaan besar dengan dana CSR melimpah seharusnya bisa melakukan jauh lebih banyak dari itu.

Aksi di Kebun Raya Nongsa adalah harapan kecil di tengah tantangan krisis iklim yang nyata di depan mata. Batam sedang berusaha membuktikan bahwa kemajuan industri dan kelestarian alam bisa hidup berdampingan dalam satu tarikan napas. Dengan menjaga nyala semangat Gema Batam ASRI, kita sedang memastikan bahwa generasi mendatang tidak akan mewarisi hutan beton yang panas dan berdebu. Aksi tanam pohon ini adalah surat cinta bagi masa depan Batam—sebuah janji bahwa kita masih peduli pada apa yang akan kita wariskan nanti.

(ger)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.