Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan

Banner Ramdan Pemkab MUBA
Kilas Daerah

Firdaus Hasbullah: Menjaga Marwah Daerah dengan Integritas dan Nalar Kritis

×

Firdaus Hasbullah: Menjaga Marwah Daerah dengan Integritas dan Nalar Kritis

Sebarkan artikel ini
Firdaus Hasbullah: Menjaga Marwah Daerah dengan Integritas dan Nalar Kritis
Firdaus Hasbullah saat menjadi orator dalam demostrasi tuntutan reformasi 98 di depan Markas Kodam II/Sriwijaya (kiri). Firdaus Hasbullah saat menyemangati para kader PGK (kanan). Dok. Istimewa

Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, mengingatkan mahasiswa agar tidak tercerabut dari akar identitas tanah kelahiran. Di tengah evolusi gerakan aktivisme dari jalanan menuju ruang intelektual, integritas diposisikan sebagai benteng terakhir melawan godaan kekuasaan.

PALI, NUSALY – Dalam peta sosiopolitik Sumatera Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sering kali dipandang sebagai daerah dengan karakter masyarakat yang lugas dan berani. Namun, bagi Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, keberanian tersebut tidak akan berarti apa-apa jika kehilangan kompas moral dan nalar kritis. Di hadapan generasi muda, khususnya mahasiswa asal “Bumi Serepat Serasan”, Firdaus mengirimkan pesan kuat: tanah kelahiran adalah ruang perjuangan yang tak boleh ditinggalkan.

Pernyataan Firdaus pada Rabu (4/3/2026) ini bukan sekadar imbauan normatif seorang pejabat publik. Ini adalah refleksi mendalam dari seorang figur yang menghabiskan separuh hidupnya di jalur pergerakan. Bagi Firdaus, mahasiswa yang menempuh studi di luar daerah—seperti yang tergabung dalam Forum Mahasiswa PALI (Formapali) Jabodetabek—memiliki beban sejarah untuk tetap relevan dengan persoalan di kampung halaman.

Akar Identitas

Firdaus memandang bahwa fenomena anak muda yang tercerabut dari akar daerahnya adalah ancaman bagi masa depan pembangunan. Tanah kelahiran, menurutnya, adalah titik di mana sejarah personal dan tanggung jawab sosial berkelindan. Ia menekankan bahwa intelektualitas yang didapat di perantauan harus menjadi alat bedah untuk memperbaiki sistem di daerah asal, bukan alasan untuk bersikap apatis.

“Tanah kelahiran adalah tempat di mana identitas, sejarah, dan masa depan kita menyatu. Anak muda harus menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penonton di pinggir lapangan. Berjuang untuk tanah sendiri adalah investasi harapan jangka panjang untuk memperkuat nilai keadilan,” ujar Firdaus dengan karakter bicaranya yang tegas namun penuh kedalaman.

Baca juga  Mobil Mewah Membawa Bupati PALI ke Ujung Tanduk Pemakzulan

Bagi Firdaus, mahasiswa adalah “cahaya kritis” yang bertugas memastikan kekuasaan tetap berjalan di koridor kepentingan rakyat. Ia menyadari bahwa fungsi kontrol ini sering kali menciptakan gesekan. Namun, di sanalah letak marwah seorang intelektual: tetap tegak meski badai tekanan politik menerjang.

Evolusi Perlawanan

Sebagai tokoh yang tumbuh besar di era pasca-Reformasi 1998, Firdaus mencermati adanya pergeseran fundamental dalam dunia aktivisme. Jika dahulu gerakan mahasiswa identik dengan kepalan tangan di jalanan dan mobilisasi massa dalam skala masif, maka hari ini tantangannya jauh lebih subtil namun mematikan. Disinformasi, delegitimasi digital, hingga kooptasi gerakan melalui kepentingan jangka pendek menjadi jebakan baru bagi aktivis masa kini.

Firdaus menyebut fenomena ini sebagai evolusi aktivisme. Perlawanan hari ini tidak melulu soal volume suara di pengeras suara, melainkan adu tajam data di ruang riset, advokasi media, dan meja diskusi. Mahasiswa dituntut memiliki kecerdasan yang kompleks agar tidak mudah dipatahkan oleh tekanan sistematis.

“Menjadi aktivis hari ini tidak harus selalu keras secara fisik, tapi wajib cerdas secara intelektual. Perjuangan kini merambah ke ruang advokasi berbasis data. Ini adalah bentuk evolusi gerakan, bukan sebuah pelemahan. Keberanian tetap diperlukan, namun harus dipandu oleh kejernihan pikiran,” jelasnya.

Benteng Integritas

Salah satu poin yang paling krusial dalam narasi Firdaus adalah mengenai integritas. Ia tidak menampik bahwa suara kritis mahasiswa sering kali membuat pihak-pihak yang berkuasa merasa tidak nyaman. Stigma hingga upaya pembungkaman adalah risiko nyata. Namun, Firdaus mengingatkan bahwa kekuatan terbesar mahasiswa bukan terletak pada jabatan atau akses kekuasaan, melainkan pada konsistensi sikap.

Ia menitipkan pesan moral agar mahasiswa Formapali tidak mudah terpecah oleh iming-iming kepentingan sesaat. Baginya, integritas adalah mata uang yang berlaku selamanya dalam dunia pergerakan. Sekali integritas itu dijual, maka marwah sebagai penyambung lidah rakyat akan runtuh seketika.

Baca juga  Gejolak di Berbagai Daerah, PGK Sumsel Serukan Istigosah Nasional

“Pesan saya satu: jangan mau dibungkam oleh rasa takut atau iming-iming kepentingan jangka pendek. Tetaplah santun dalam sikap, namun kokoh dalam prinsip. Selama semangat kolektif dirawat, tidak ada tekanan yang mampu memadamkan suara perjuangan yang lahir dari cinta terhadap daerah,” tegas Firdaus.

Prototipe Aktivis

Profil Firdaus Hasbullah sendiri adalah representasi hidup dari apa yang ia khotbahkan. Rekam jejaknya di Sumatera Selatan dimulai dari barisan demonstrasi mahasiswa yang vokal. Ia adalah bagian dari generasi yang ditempa oleh dinamika politik lokal yang keras. Namun, Firdaus menunjukkan kapasitasnya untuk bertransformasi.

Setelah menanggalkan jaket aktivis kampus, ia memilih jalur hukum sebagai instrumen perjuangan dengan menjadi seorang advokat. Di ruang sidang, ia membuktikan bahwa argumen hukum bisa menjadi senjata yang sama tajamnya dengan orasi di lapangan. Karier hukumnya menjadi jembatan bagi Firdaus untuk memahami bahwa perubahan sistemik memerlukan pemahaman mendalam tentang konstitusi dan regulasi.

Kini, duduk sebagai Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus melakukan transisi terakhirnya: dari pengamat dan pengeritik kebijakan menjadi pengambil kebijakan. Ia adalah prototipe langka aktivis yang matang di lapangan, piawai di dunia hukum, dan berpengaruh di panggung parlemen. Gaya komunikasinya yang blak-blakan—karakter khas Bumi Serepat Serasan—tetap ia bawa ke meja kebijakan, menjadikannya sosok “abang” atau senior yang disegani oleh lintas generasi aktivis di Palembang dan sekitarnya.

Pada akhirnya, Firdaus Hasbullah ingin menegaskan bahwa panggung politik bukanlah tempat untuk pensiun dari idealisme, melainkan medan tempur baru untuk mewujudkan apa yang dahulu diteriakkan di jalanan. Melalui pesannya kepada mahasiswa PALI, ia sedang menyiapkan estafet keberanian agar marwah daerah tetap terjaga oleh tangan-tangan yang bersih dan pikiran yang merdeka. (dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.