SANGA DESA, NUSALY — Wilayah hukum Polsek Sanga Desa di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, merupakan kawasan strategis yang membentang di sepanjang bantaran Sungai Musi dan Sungai Rawas. Karakteristik geografis ini menuntut pola pengamanan yang tidak sekadar reaktif, melainkan berbasis pada kedekatan sosial. Dalam kunjungan tatap muka pada Jumat (6/2/2026), Kapolres Muba AKBP Ruri Prastowo menekankan bahwa stabilitas keamanan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat antara kepolisian, pemerintah kecamatan, dan tokoh masyarakat.
Kunjungan ini menjadi momentum bagi AKBP Ruri Prastowo untuk memastikan bahwa setiap personel Polri di tingkat sektor menjalankan fungsi pelayanan secara inklusif. Menurutnya, tantangan keamanan di wilayah perdesaan kini semakin kompleks, mulai dari potensi konflik sosial hingga penetrasi kejahatan digital.
“Sinergitas antara Forkopincam harus tetap terjalin dengan baik. Tugas kepolisian tidak akan optimal tanpa dukungan para kepala desa, lurah, dan masyarakat,” ujar AKBP Ruri Prastowo di hadapan jajaran Polsek Sanga Desa.
Mitigasi perairan
Letak geografis Sanga Desa yang didominasi aliran sungai besar menciptakan tantangan spesifik dalam hal aksesibilitas dan kerawanan bencana. Kapolsek Sanga Desa IPTU Candra Kalepi mengungkapkan bahwa koordinasi lintas sektor selama ini menjadi tumpuan utama dalam menjaga kondusivitas 17 desa dan 2 kelurahan di wilayahnya. Kehadiran personel di lapangan tidak hanya untuk penegakan hukum, tetapi juga sebagai bagian dari mitigasi bencana tahunan.
Secara sosiologis, tantangan Kamtibmas di Muba sering kali bersinggungan dengan tradisi hiburan masyarakat. Kapolres memberikan atensi khusus pada pelarangan musik “remix” dalam hajatan warga. Kebijakan ini merupakan hasil analisis mendalam terhadap pola kriminalitas lokal; kerumunan musik keras di wilayah pelosok kerap menjadi pintu masuk bagi peredaran narkotika serta gangguan ketertiban umum lainnya.
Budaya melayani
Dalam arahannya, AKBP Ruri Prastowo juga menyoroti urgensi transformasi pelayanan publik yang lebih empatik. Personel kepolisian diminta untuk memanfaatkan teknologi komunikasi, seperti layanan pengaduan 110, guna memperpendek jarak birokrasi antara warga pelosok dengan pusat pelayanan keamanan. Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan publik (public trust) terhadap institusi Polri sebagai pelindung yang humanis.
“Layani masyarakat dengan baik, jangan menyakiti hati masyarakat,” tegas Ruri Prastowo. Imbauan ini menjadi pengingat bagi setiap aparat untuk selalu mengedepankan dialog dalam penyelesaian masalah di tingkat desa.
Sebagai bentuk nyata dari pendekatan tersebut, kunjungan ditutup dengan pemberian bantuan sosial kepada masyarakat Sanga Desa. Langkah ini mensimbolkan bahwa wajah kepolisian di Musi Banyuasin kini lebih menekankan pada sisi kemanusiaan tanpa kehilangan ketegasannya dalam menjaga supremasi hukum dan memerangi ancaman judi online serta narkoba.
(hra)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




