KAYUAGUNG, NUSALY — Semangat pengabdian tampaknya tidak mengenal kata pensiun bagi Sukirman, purnawirawan berpangkat Sersan Kepala dari Kodim 0402/OKI. Warga Desa Sindang Sari, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini memilih banting setir menjadi peternak ayam petelur sejak awal tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas minimnya produsen telur lokal di wilayahnya, sekaligus upaya nyata dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat perdesaan.
Pilihan Sukirman untuk terjun ke dunia agribisnis pascadinas militer mencerminkan tren baru di kalangan purnawirawan yang mencari aktivitas produktif dengan dampak sosial ekonomi yang nyata. Di Desa Sindang Sari, usaha peternakan ayam petelur masih tergolong langka. Hal ini memberikan peluang pasar yang terbuka lebar, meski harus ditebus dengan modal awal yang tidak sedikit untuk pembangunan infrastruktur kandang dan pengadaan bibit berkualitas.
Mengutip laporan Sumeks.co, Minggu (1/2/2026), Sukirman kini mengelola sekitar 550 ekor ayam petelur yang ditempatkan di lahan belakang kediamannya. Dari populasi tersebut, ia mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram telur setiap harinya. “Di Desa Sindang belum ada warga yang memulai usaha ini, sehingga saya mencoba mengambil peluang tersebut,” ujar Sukirman.
Manajemen Produksi Mandiri
Dalam mengelola usahanya, Sukirman menerapkan pola pemeliharaan yang cukup intensif. Dari total 550 ekor ayam yang dimiliki, ia membagi populasi ke dalam barisan kandang baterai dengan kapasitas sembilan ekor per baris. Strategi ini memudahkan pengawasan kesehatan dan produktivitas harian setiap unggas. Untuk menjamin kualitas telur, ia memilih menggunakan pakan pabrikan yang lebih stabil kandungan nutrisinya, dengan konsumsi rata-rata satu karung atau 50 kilogram per hari.
Bibit ayam (pullet) didatangkan langsung dari Metro, Provinsi Lampung, sebuah wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra pembibitan unggas di Sumatera. Ayam-ayam tersebut mulai memasuki masa produksi pada usia 19 hingga 20 minggu. Efisiensi manajemen pakan dan kesehatan menjadi faktor krusial bagi Sukirman, mengingat ia memproyeksikan masa produktivitas ayam-ayamnya mampu bertahan hingga 2-3 tahun ke depan.
Keputusannya memilih ayam petelur dibandingkan komoditas peternakan lain didasari pada analisis risiko yang matang. Menurutnya, ayam petelur cenderung lebih tahan terhadap serangan penyakit jika dibandingkan dengan ayam pedaging, asalkan standar biosekuriti dan jadwal vaksinasi terpenuhi. Karakteristik ini dinilai cocok bagi purnawirawan yang menginginkan usaha dengan risiko mortalitas yang lebih terkendali namun tetap memberikan arus kas yang lancar.
Resistensi Pasar Lokal
Keberhasilan usaha Sukirman segera terlihat dari sisi serapan pasar. Tanpa perlu melakukan strategi pemasaran yang rumit, telur-telur produksi Desa Sindang Sari ini telah habis dipesan bahkan sebelum masa panen harian dimulai. Pelanggannya mencakup berbagai segmen, mulai dari industri rumah tangga seperti pengusaha roti, pengelola rumah makan, warung sembako, hingga kebutuhan rumah tangga di sekitar Kecamatan Lempuing.
Keunggulan telur lokal terletak pada kesegarannya dibandingkan telur yang didatangkan dari luar provinsi. Secara ekonomi, harga di tingkat peternak saat ini berada pada kisaran Rp 28.000 per kilogram, sementara di tingkat konsumen akhir dapat mencapai Rp 30.000 per kilogram. Disparitas harga yang terjaga ini memberikan margin keuntungan yang cukup menjanjikan bagi keberlanjutan operasional peternakan.
Kehadiran unit usaha milik purnawirawan TNI ini secara tidak langsung membantu menekan biaya logistik distribusi pangan di wilayah OKI. Selama ini, sebagian besar kebutuhan telur di Sumatera Selatan masih bergantung pada pasokan lintas provinsi. Dengan munculnya peternak-peternak mandiri di tingkat desa, rantai pasok menjadi lebih pendek dan harga pangan di tingkat konsumen menjadi lebih stabil.
Inspirasi Ekonomi Desa
Apa yang dilakukan oleh Sukirman di Lempuing adalah potret dari pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Keberaniannya mengalokasikan modal besar di masa pensiun menjadi contoh bagi warga desa lainnya bahwa sektor pangan adalah investasi masa depan yang strategis. Transformasi dari seorang prajurit menjadi penggerak ekonomi desa ini memberikan inspirasi mengenai pentingnya menjaga produktivitas di usia senja.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menangkap fenomena ini sebagai momentum untuk memperkuat pendampingan bagi peternak mandiri. Dukungan berupa kemudahan akses pakan dan jaminan kesehatan hewan akan sangat membantu peternak skala kecil seperti Sukirman untuk meningkatkan skala produksinya. Ketahanan pangan yang sesungguhnya memang harus dimulai dari kemandirian unit-unit terkecil di desa.
Harapannya, langkah Sukirman dapat diikuti oleh masyarakat lain sehingga Kecamatan Lempuing tidak lagi sekadar menjadi pasar, melainkan pusat produksi pangan yang mandiri. Melalui integrasi antara disiplin militer dan kegigihan bertani, sektor peternakan di Ogan Komering Ilir memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pilar ekonomi yang kokoh bagi kesejahteraan warga perdesaan.
(puputzch)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




