Scroll untuk baca artikel
Peristiwa Terkini

Putusnya Urat Nadi di Ogan Ilir: Saat Eceng Gondok Melumpuhkan Konektivitas Desa

×

Putusnya Urat Nadi di Ogan Ilir: Saat Eceng Gondok Melumpuhkan Konektivitas Desa

Sebarkan artikel ini

Ambruknya jembatan besi penghubung Desa Lubuk Rukam dan Desa Muara Kumbang di Ogan Ilir bukan sekadar insiden infrastruktur biasa. Peristiwa ini memotret rapuhnya ketahanan jembatan desa terhadap beban tumpukan gulma dan derasnya debit sungai, yang kini mengisolasi aktivitas ekonomi ribuan warga di dua kecamatan.

Putusnya Urat Nadi di Ogan Ilir: Saat Eceng Gondok Melumpuhkan Konektivitas Desa
Jembatan besi yang menjadi tumpuan utama masyarakat di pedalaman Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, luluh lantak diterjang arus sungai pada Kamis (22/1/2026) siang. (Dok. Istimewa)

OGAN ILIR, NUSALY — Sebuah jembatan besi yang menjadi tumpuan utama masyarakat di pedalaman Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, luluh lantak diterjang arus sungai pada Kamis (22/1/2026) siang. Ambruknya struktur penghubung Desa Lubuk Rukam dan Desa Muara Kumbang ini tidak hanya memutus akses fisik, tetapi juga menghentikan denyut ekonomi warga yang bergantung pada jalur tersebut untuk mencapai Kecamatan Rantau Alai.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB tersebut mengungkap sisi lain dari tantangan perawatan infrastruktur di wilayah perairan. Debit air sungai yang meningkat tajam pasca-hujan deras membawa material tanaman air, terutama eceng gondok, yang kemudian menumpuk di kolong jembatan.

Beban Tak Terduga

Penumpukan eceng gondok dalam volume besar menciptakan tekanan hidrostatis yang luar biasa pada tiang penyangga jembatan. Fenomena ini sering kali diabaikan dalam perawatan rutin, padahal tumpukan vegetasi tersebut bertindak layaknya bendungan yang menahan laju air, hingga akhirnya struktur besi tak lagi mampu menahan beban lateral.

“Air sedang deras-derasnya dan di bawah jembatan banyak eceng gondok menumpuk. Tidak lama kemudian jembatan roboh,” ujar Berta, warga setempat, Jumat (23/1/2026).

Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, dampak sosiologisnya sangat terasa. Jalur alternatif yang tersedia memaksa warga melakukan perjalanan memutar yang lebih jauh dan memakan waktu lebih lama. Bagi petani dan pedagang kecil di Lubuk Rukam, setiap kilometer tambahan adalah tambahan biaya logistik yang menggerus pendapatan mereka.

Ancaman Isolasi Wilayah

Ketakutan akan isolasi wilayah kini membayangi warga. Tanpa penanganan darurat, akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi di dua desa tersebut terancam lumpuh total. Jembatan ini adalah jalur vital bagi kendaraan roda dua maupun roda empat yang mendistribusikan hasil bumi keluar wilayah.

Baca juga  Distransnaker Ogan Ilir Bantah Halangi LSM Dampingi Buruh, Tegaskan Terbuka untuk Kerja Sama Sesuai Prosedur

Bayu, warga lainnya, menegaskan bahwa kecepatan respons pemerintah daerah adalah kunci. “Kalau dibiarkan lama, desa kami bisa terisolasi. Kami berharap pemerintah segera turun tangan, bukan sekadar peninjauan, tapi solusi nyata,” tegasnya.

Urgensi Tata Kelola Infrastruktur Sungai

Peristiwa di Ogan Ilir ini menjadi pengingat penting bagi pemangku kebijakan mengenai urgensi pembersihan alur sungai dari gulma secara berkala, terutama di titik-titik infrastruktur krusial. Penegakan standar keamanan jembatan desa di Sumatera Selatan perlu ditinjau ulang agar tidak hanya tahan terhadap beban kendaraan, tetapi juga tangguh menghadapi anomali cuaca dan dinamika lingkungan sungai.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti langkah konkret dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Ogan Ilir terkait penyediaan jembatan darurat atau percepatan rekonstruksi permanen guna memulihkan konektivitas antar-desa yang terputus.

(aaa)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.