Stadion Wembley kembali menjadi saksi bisu runtuhnya mental Kepa Arrizabalaga saat Manchester City membungkam Arsenal di final Carabao Cup. Di balik blunder sang kiper, Pep Guardiola mengukir sejarah sebagai manajer tersukses dalam sejarah turnamen ini.
LONDON, NUSALY – Manchester City menegaskan bahwa takhta Piala Liga Inggris masih menjadi milik mereka. Dalam laga final yang menguras emosi di Stadion Wembley, Minggu (22/3/2026) malam WIB, The Citizens sukses membenamkan perlawanan sengit Arsenal dengan skor 2-0. Adalah bintang muda Nico O’Reilly yang menjadi pahlawan dengan memborong seluruh gol di babak kedua.
Kemenangan ini bukan sekadar tambahan trofi kesembilan bagi koleksi Manchester City. Bagi manajer Pep Guardiola, hasil ini adalah legitimasi sejarah. Guardiola kini resmi melewati pencapaian para legenda seperti Sir Alex Ferguson, Brian Clough, dan Jose Mourinho dengan mengoleksi lima gelar juara Carabao Cup.
“Memenangi trofi kelima dalam sepuluh tahun terakhir adalah sesuatu yang luar biasa. Setiap gelar terasa jauh lebih berat karena tantangannya selalu berbeda,” ungkap Guardiola melalui BBC Sport, menekankan betapa kompetitifnya sepak bola Inggris saat ini.
Aggresivitas Buntu Pasukan Mikel Arteta
Sejak peluit pertama, Arsenal sebenarnya tampil lebih menjanjikan. Mikel Arteta menerapkan strategi pressing tinggi yang membuat lini tengah City yang digalang Rodri dan Bernardo Silva sempat kehilangan arah. Kai Havertz bahkan hampir membawa The Gunners unggul cepat pada menit keenam.
Lepas dari jebakan offside, Havertz melepaskan tembakan jarak dekat yang secara heroik dimentahkan kaki James Trafford. Bola muntah yang disambar Bukayo Saka pun kembali mampu dibendung kiper muda City tersebut. Hingga laga berjalan 30 menit, William Saliba dan kolega di lini belakang Arsenal tampil sangat solid, membuat City gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran ke gawang Kepa Arrizabalaga. Skor kacamata pun bertahan hingga turun minum.
Drama Blunder dan Deja Vu Kepa
Namun, drama di Wembley seolah sudah digariskan untuk menjadi milik Kepa Arrizabalaga—namun dalam arti yang kelam. Memasuki babak kedua, “kutukan” final Carabao Cup yang membayangi Kepa sejak berseragam Chelsea kembali muncul ke permukaan.
Petaka dimulai pada menit ke-60. Berawal dari umpan silang Rayan Cherki yang tampak mudah, Kepa justru gagal menangkap bola dengan sempurna. Bola yang terlepas langsung disambar oleh Nico O’Reilly ke gawang yang sudah melompong. Empat menit berselang, mimpi buruk Arsenal semakin nyata setelah O’Reilly kembali mencetak gol lewat sundulan tajam, memanfaatkan rapuhnya antisipasi lini pertahanan dan sang kiper.
Kekalahan ini seolah menjadi deja vu menyakitkan bagi Kepa. Dari insiden menolak diganti di final 2019 hingga kegagalan penalti di final 2022, kini blunder fatal di final 2026 bersama Arsenal melengkapi catatan kelamnya. Meski demikian, Mikel Arteta menolak untuk menjadikannya kambing hitam. “Blunder adalah bagian dari sepak bola. Kepa sudah tampil luar biasa membawa kami sampai ke sini, dan saya tidak akan menyesali keputusan memainkan dia,” tegas Arteta.
Kematangan City Menunggu Momentum
Bernardo Silva memberikan analisis menarik mengapa City mampu bangkit setelah ditekan habis-habisan di awal laga. Ia menilai Arsenal “habis bensin” setelah melakukan tekanan tinggi selama 15 menit pertama.
“Arsenal punya momentum di awal, dan James Trafford tampil luar biasa menjaga gawang kami. Di final, Anda harus tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang saat lawan mulai kelelahan,” ujar Silva kepada Sky Sports.
Upaya Arsenal untuk mengejar ketertinggalan melalui masuknya Gabriel Jesus dan Riccardo Calafiori tetap menemui jalan buntu. Peluang Jesus yang membentur mistar gawang menjadi penutup perjuangan The Gunners yang harus kembali memperpanjang puasa gelar mereka sejak 2020. City pulang dengan trofi, sementara Kepa pulang dengan luka lama yang kembali terbuka di Wembley. [*/ADI]
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





