Eksplorasi satwa predator keluar dari zona inti habitat memicu benturan ruang hidup dengan aktivitas ekonomi masyarakat rural. Pola pelepasan ternak liar ke dalam kawasan hutan dituding mempercepat eskalasi konflik ekologis.
MURATARA, NUSALY – Ruang hidup masyarakat di koridor perbatasan hutan konservasi Kabupaten Musi Rawas Utara kini dilingkupi kecemasan mendalam. Insting berburu satwa predator yang mulai bergeser mendekati perimeter domestik warga tidak hanya memicu kerugian materi yang besar, melainkan juga melumpuhkan total sendi-sendi perekonomian perkebunan dan pariwisata lokal.
Ancaman nyata tersebut mencengkeram kehidupan warga di Desa Kuto Tanjung dan Desa Napalicin, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Konflik antara manusia dan satwa dilindungi jenis Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ini dilaporkan telah berlangsung sejak April lalu, dan intensitas kemunculannya kian meninggi hingga pertengahan Mei 2026.
Hingga saat ini, catatan kerusakan properti hidup milik warga pasca-serangan predator tersebut tergolong masif. Sedikitnya 17 ekor kerbau piaraan warga dilaporkan tewas tercabik-cabik dengan rincian 13 ekor ternak milik peternak Desa Kuto Tanjung serta 4 ekor lainnya milik warga Desa Napalicin.
Kondisi ini kian mencekam menyusul kesaksian sejumlah pelaju lokal yang melihat adanya kawalan tiga ekor harimau sekaligus yang kerap melintasi jalur perkebunan karet. Pergerakan satwa pemangsa yang mulai terlihat di wilayah luar hutan memaksa para petani lokal untuk memilih absen menyadap karet demi menghindari risiko keselamatan jiwa.
“Beberapa orang tua kami bahkan mengalami trauma berat dan menolak kembali ke kebun setelah sempat berhadapan langsung dengan satwa tersebut di dekat batas desa. Harimau itu kini sudah terlihat di pinggiran perkampungan,” ujar Fauzi (38), salah seorang tokoh pemuda Desa Kuto Tanjung, Jumat (22/5/2026).
Ekonomi dan wisata lumpuh
Dampak domino dari ancaman taring pemangsa ini juga memukul sektor pariwisata andalan daerah. Destinasi wisata alam Air Terjun Batu Ampar yang biasanya menjadi pusat keramaian penopang ekonomi kreatif warga saat musim liburan, kini mendadak sepi menyerupai kawasan mati akibat ketakutan publik yang meluas.
Aparatur pemerintah kecamatan setempat membenarkan bahwa eskalasi konflik ini dipicu oleh pergerakan kawanan harimau yang keluar dari garis batas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Satwa pemangsa tersebut disinyalir tengah memperluas daerah jelajah akibat adanya perubahan ketersediaan rantai makanan di dalam hutan primer.
“Kami sudah mengeluarkan surat imbauan resmi agar seluruh warga meningkatkan kewaspadaan penuh. Aktivitas ke kebun disarankan tidak dilakukan secara perorangan dan menghindari jam-jam rawan pada fajar maupun menjelang petang,” kata Camat Ulu Rawas M Darmawan.
Faktor pemancing konflik
Merespons krisis keamanan satwa-manusia ini, tim gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel bersama pihak otoritas TNKS telah diterjunkan ke titik-titik penemuan bangkai ternak.
Berdasarkan hasil analisis forensik lapangan dan pemetaan jejak kaki, pihak konservasi mengidentifikasi bahwa kelompok harimau yang berkeliaran tersebut merupakan individu-individu berusia muda.
Karakteristik harimau muda yang sedang berada pada fase eksplorasi mandiri cenderung sangat agresif mencari wilayah baru dan sumber protein yang mudah didapatkan.
Sayangnya, insting berburu satwa ini dimanjakan oleh kebiasaan turun-temurun para peternak lokal yang kerap melepasliarkan kawanan kerbau mereka hingga masuk jauh ke dalam perbukitan yang berbatasan langsung dengan kawasan inti TNKS.
“Kerbau-kerbau itu diliarkan tanpa pengawasan hingga mendekati habitat asli harimau, sehingga menjadi sasaran empuk yang memicu satwa tersebut keluar mengejar mangsa. Kami sudah memasang sejumlah camera trap (kamera pengintai) di jalur-jalur kritis untuk memprediksi arah pergerakan mereka,” jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel Yusmono.
Lembaga konservasi mendesak para pemilik ternak di Muratara untuk segera merombak pola pengandangan secara domestik dan tidak lagi membiarkan aset hewan mereka berkeliaran di zona bahaya.
Langkah sterilisasi kawasan luar TNKS dari ternak warga menjadi kunci utama untuk memutus rantai ketergantungan makanan harimau muda ini, sekaligus mengembalikan sang predator agung ke dalam rimba sebelum timbulnya korban jiwa dari pihak manusia maupun aksi perburuan balas dendam yang melanggar hukum internasional. (nvr)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





