Scroll untuk baca artikel
Banner Pemprov Sumsel

Banner HUT OKI

Banner HUT OKI PT Prime Agri Resources

Banner HUT Musi Banyuasin

Banner Bank Sumsel Babel
Laporan Utama

Membakar Masa Lalu, Menguras Masa Depan Gambut Ogan Komering Ilir

×

Membakar Masa Lalu, Menguras Masa Depan Gambut Ogan Komering Ilir

Sebarkan artikel ini
Membakar Masa Lalu, Menguras Masa Depan Gambut Ogan Komering Ilir
Membakar Masa Lalu, Menguras Masa Depan Gambut Ogan Komering Ilir

Bara bawah tanah akibat kanalisasi memicu “pulse emission”, memusnahkan simpanan karbon ribuan tahun sekaligus melumpuhkan ruang hidup warga di tingkat akar rumput.

KAYUAGUNG, NUSALY – Bau sangit itu merayap pelan bersama kabut tipis yang merendap di atas permukaan Sungai Komering sebelum fajar sepenuhnya membuka hari di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Bagi warga di kawasan hilir Sungai Sugihan hingga dataran rawa Pedamaran, aroma arang gambut yang terbakar bukanlah hal asing. Ia adalah tamu tahunan yang datang bersama kemarau, menyusup ke sela-sela jendela rumah, menyesakkan dada, dan memedihkan mata. Namun, di balik kepulan asap putih keabu-abuan yang menggantung di udara, yang sering kali disikapi sebatas sebagai gangguan pernapasan musiman, sebuah bencana ekologis berskala raksasa sedang menggerus fondasi masa depan bumi Sumatera Selatan.

Di atas permukaan, hamparan rawa gambut tampak tenang, seolah tertidur dalam balutan ilalang dan semak belukar yang meranggas. Tidak ada lidah api raksasa yang membubung tinggi melahap pepohonan seperti lazimnya kebakaran hutan mineral. Namun, di kedalaman belasan hingga puluhan sentimeter di bawah telapak kaki, ribuan ton karbon purba sedang dikonsumsi oleh api yang merambat tanpa suara. Inilah pembakaran membara atau smoldering combustion, sebuah proses pembakaran tanpa kobaran yang berlangsung dalam kondisi minim oksigen di dalam perut tanah.

Ketika bara bawah tanah ini mengamuk dalam skala luas akibat kemarau panjang yang dipicu anomali iklim seperti El Niño, ia memicu apa yang para ilmuwan sebut sebagai pulse emission. Dalam hitungan minggu, simpanan karbon yang diakumulasikan oleh alam selama ribuan tahun dimuntahkan seketika ke atmosfer. Apa yang terbakar di Ogan Komering Ilir hari ini bukan sekadar lahan tidur atau semak belukar, melainkan lembaran sejarah ekologis bumi yang musnah tanpa sisa, meninggalkan warisan krisis iklim yang dampaknya dirasakan hingga lintas negara.

Peatland Fire in Ogan Komering Ilir
Perbandingan mekanisme kebakaran permukaan (surface fire) dan pembakaran membara di bawah tanah (smoldering combustion). Api bawah tanah merambat tanpa nyala di kedalaman gambut, memicu kepulan gas beracun dan membutuhkan penyuntikan air masif untuk pemadamannya. Infografis: NUSALY.com / Ilustrasi diolah dengan ChatGPT | Sumber Data: Yayasan Lahan Basah

Arsip Purba yang Dihabisi Kanal

Untuk memahami mengapa Ogan Komering Ilir begitu rentan menjadi episentrum kebakaran gambut, kita harus menengok kembali proses penciptaan bentang alam ini yang memakan waktu ribuan tahun. Gambut bukanlah sekadar tanah hitam biasa. Ia adalah rekaman panjang perjalanan sebuah ekosistem basah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa vegetasi, seperti daun, ranting, batang, kulit pohon, dan akar tumbuhan yang mati, di dalam rawa yang tergenang.

Berdasarkan dokumen publikasi ekologi dari Yayasan Lahan Basah, dalam kondisi alaminya, genangan air menciptakan lingkungan yang miskin oksigen. Kekurangan oksigen ini memperlambat secara drastis aktivitas mikroba pengurai, membuat bahan organik menumpuk lapis demi lapis tanpa sempat terurai sempurna. Penambahan bahan organik itu berjalan sangat lambat, hanya berkisar antara 0,15 hingga 2 milimeter per tahun. Dengan laju setahap itu, alam membutuhkan waktu antara 500 hingga 1.000 tahun lebih untuk membentuk lapisan gambut setebal satu meter.

Air adalah kunci utama dari seluruh siklus kehidupan ini. Dalam ekosistem aslinya, gambut memiliki kapasitas menahan air yang luar biasa, menyerupai spons raksasa yang menjaga keseimbangan tata air kawasan. Ia menghisap air hujan dan mempertahankannya di dalam pori-pori tanah, memastikan lanskap tetap basah dan lembap sepanjang tahun, bahkan di tengah musim kemarau.

Keseimbangan rapuh ini mulai runtuh ketika manusia campur tangan melalui rekayasa hidrologi masa lalu. Demi membuka lahan untuk perkebunan monokultur dan Hutan Tanaman Industri, ribuan kilometer kanal drainase dibangun membelah ekosistem rawa. Air dikuras secara paksa keluar dari perut gambut untuk menurunkan muka air tanah agar tanaman darat dapat tumbuh.

Pengeringan berlebihan atau over-drainage inilah yang menjadi dosa asal ekologis di Ogan Komering Ilir. Ketika air tersedot keluar dari pori-pori gambut, ruang yang ditinggalkannya langsung diisi oleh udara yang kaya oksigen. Kehadiran oksigen menghidupkan kembali mikroba pengurai yang tadinya dormant. Mikroba-mikroba ini berpesta pora menguraikan bahan organik yang tersimpan selama ribuan tahun, melepaskan karbon dioksida secara terus-menerus ke udara.

Lebih dari itu, kehilangan air membuat struktur fisik gambut menyusut, mengalami amblesan atau subsidence, dan memasuki fase yang disebut pengeringan tak balik atau irreversible drying. Lanskap yang tadinya gembur dan mampu mengikat air berubah menjadi rapuh, kering, dan bersifat hidrofobik, yaitu menolak air dan kehilangan kemampuan menyerapnya kembali, bahkan ketika hujan deras mulai turun. Dari sinilah rawa gambut bertransformasi dari fungsi utamanya sebagai penyimpan karbon dunia (carbon sink) menjadi sumber emisi raksasa (carbon source) yang siap meledak menjadi abu.

Skala Emisi Karbon dari Gambut
Skala pelepasan emisi karbon akibat kebakaran lahan gambut. Setiap 10 sentimeter lapisan gambut yang terbakar per hektare melepaskan hingga 200 ton $CO_2$. Dalam skala ratusan hektare, emisi yang dimuntahkan setara dengan emisi harian puluhan ribu kendaraan bermotor di kota besar. Infografis: NUSALY.com / Ilustrasi diolah dengan ChatGPT | Sumber Data: Yayasan Lahan Basah

Anatomi Pulse Emission dan Bara Bawah Tanah

Ketika kemarau panjang datang melanda dan muka air tanah merosot jauh di bawah ambang batas aman, bentang alam Ogan Komering Ilir berubah menjadi hamparan bahan bakar fosil raksasa. Cukup dengan satu percikan api kecil, baik dari puntung rokok yang dibuang sembarangan maupun pembukaan lahan dengan cara membakar, malapetaka pun dimulai.

Kebakaran di lahan gambut memiliki karakter yang jauh berbeda dan jauh lebih berbahaya daripada kebakaran hutan biasa. Di atas permukaan, vegetasi semak memang terbakar dengan nyala api yang cepat atau flaming combustion. Namun, ancaman sesungguhnya terjadi di bawah permukaan tanah, tempat api merambat perlahan melalui proses smoldering combustion.

Panas dari pembakaran ini dapat bergerak jauh ke kedalaman, merambah lapisan bahan organik yang kaya karbon tanpa memperlihatkan lidah api di permukaan. Karena berlangsung tanpa nyala, api bawah tanah ini sangat sulit dideteksi, luput dari pantauan visual sederhana, dan mustahil dipadamkan hanya dengan menyiramkan air di permukaannya. Ia dapat bertahan, merayap, dan mengepulkan asap beracun selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, menguji kesabaran serta daya tahan tim pemadam di lapangan.

Ketika api bawah tanah ini melahap lapisan gambut secara masif, terjadilah fenomena pulse emission. Angka-angka di balik fenomena ini teramat menggentarkan bagi kalkulasi iklim global. Catatan publikasi ilmiah Yayasan Lahan Basah menunjukkan bahwa pembakaran setiap 10 sentimeter lapisan gambut per hektare dapat melepaskan rata-rata sekitar 183,5 hingga 200 ton karbon dioksida ($CO_2$) ke atmosfer.

Bayangkan apa artinya angka tersebut. Jika sebuah kawasan gambut seluas ratusan hektare di Ogan Komering Ilir terbakar hingga kedalaman 30 sentimeter atau lebih, jutaan ton gas rumah kaca dimuntahkan seketika ke udara dalam hitungan hari. Pelepasan karbon masif ini memperkuat efek rumah kaca secara drastis, memicu percepatan pemanasan global, dan menciptakan umpan balik iklim atau climate feedback loop. Suhu bumi yang semakin panas pada gilirannya akan memperparah kekeringan, menurunkan kadar air gambut di masa depan, dan membuat siklus kebakaran berulang dengan intensitas yang lebih destruktif.

From Healthy Peatlands to Fire
Tahapan hilangnya fungsi hidrologi gambut akibat pembuatan kanal drainase. Pengeringan berlebihan mengubah fungsi gambut alami dari penyimpan karbon raksasa (carbon sink) menjadi bahan bakar kering yang siap meledak saat kemarau (carbon source). Infografis: NUSALY.com / Ilustrasi diolah dengan ChatGPT | Sumber Data: Yayasan Lahan Basah & BRGM

Dampak pulse emission ini tidak berhenti pada urusan pemanasan global. Pembakaran gambut menghasilkan campuran gas beracun yang pekat, termasuk karbon monoksida, metana, dan partikulat mikro $PM_{2.5}$. Polutan berbahaya ini dengan mudah menembus batas wilayah dan negara, menciptakan kabut asap lintas batas atau transboundary haze yang melumpuhkan aktivitas sosial, menutup jalur penerbangan, dan merusak kesehatan pernapasan jutaan warga di Sumatera Selatan serta wilayah sekitarnya. Menurut analisis Yayasan Lahan Basah, sebagian karbon dioksida dilepaskan ke udara, sementara sebagian lainnya diserap oleh lautan, memicu pengasaman laut (ocean acidification) yang mengganggu kehidupan organisme laut dan terumbu karang yang sensitif.

Jerat Nestapa Warga Desa

Di tengah abstraksi angka emisi karbon dan narasi krisis iklim global, ada denyut kehidupan manusia di pemukiman warga yang hancur lebur setiap kali api melahap gambut Ogan Komering Ilir. Di kawasan-kawasan rawa seperti di Kecamatan Pedamaran dan sekitarnya, masyarakat lokal telah lama merajut kehidupannya berdampingan dengan ekosistem rawa basah.

Bagi para perempuan perajin anyaman tradisional, ekosistem gambut adalah sumber penghidupan yang menyangga ekonomi keluarga. Di sinilah tumbuh subur tanaman purun (Eleocharis dulcis), sejenis rumput rawa berbatang rongga yang menjadi bahan baku utama tikar dan kerajinan tangan lokal. Purun menuntut kondisi hidrologi rawa yang basah dan stabil untuk dapat tumbuh dengan subur.

Ketika kanal-kanal mengering dan kebakaran bawah tanah menghanguskan lapisan gambut, rumpun-rumpun purun mati terbakar sampai ke akarnya. Pemulihan tanaman ini tidak semudah membalikkan telapak tangan karena hilangnya lapisan gambut organik mengubah topografi dan tingkat keasaman tanah secara permanen. Para perajin kini harus menempuh perjalanan jauh dengan perahu menyusuri ceruk-ceruk rawa yang belum terjamah kanal, atau terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan baku dari luar daerah demi mempertahankan dapur tetap ngebul.

Nestapa yang sama dirasakan oleh para nelayan rawa tradisional. Rawa gambut di Ogan Komering Ilir dulunya dikenal sebagai surga keanekaragaman hayati ikan air tawar lokal, mulai dari gabus, sepat siam, serandang, hingga tembakang. Namun, keringnya kanal drainase dan terjangan asap beracun merusak tempat pemijahan alami (spawning ground) bagi ikan-ikan tersebut. Air rawa yang terpapar sisa pembakaran gambut menjadi sangat asam dan miskin oksigen, memicu kematian massal ikan-ikan lokal yang menjadi tumpuan protein dan ekonomi harian nelayan.

Ketika satu meter gambut musnah dilalap api, yang hilang bukan sekadar hamparan tanah organik. Ratusan hingga ribuan tahun sejarah ekosistem, cadangan air tawar, kekayaan hayati, serta ruang hidup masyarakat lebur dalam sekejap. Perubahan mikroklimat yang terjadi pascakebakaran membuat lahan menjadi gersang, menyulitkan vegetasi asli untuk bangkit kembali, dan menjebak masyarakat dalam lingkaran kemiskinan ekologis yang berkepanjangan.

Sorotan Kritis dan Menagih Janji Pemulihan

Kondisi berulangnya bencana kebakaran dan pengeringan gambut di Ogan Komering Ilir memicu kritik tajam dari kalangan aktivis dan pemerhati lingkungan di daerah. Pemerhati lingkungan dari SDA Watch Ogan Komering Ilir, Ahmad Syamsir, menyoroti kelemahan mendasar dalam tata kelola dan pengawasan lahan gambut yang selama ini dinilai cenderung seremonial dan responsif semata.

“Kita tidak bisa terus-menerus menjadikan fenomena alam atau iklim seperti El Niño sebagai kambing hitam. Bencana asap di OKI ini adalah bencana buatan manusia, hasil dari pembiaran kanalisasi masif dan tidak tegasnya penegakan hukum terhadap entitas yang mengeringkan gambut,” kata Ahmad Syamsir.

Ia menambahkan, intervensi pemerintah dan pemegang izin konsesi dalam hal pemulihan hidrologi sering kali berhenti di atas kertas atau sekadar mengejar pemenuhan kuota proyek fisik sekat kanal tanpa memastikan efektivitas pembasahan di lapangan.

“Gambut itu hidup dari air. Jika tinggi muka air tanah dibiarkan anjlok di bawah 0,4 meter demi kepentingan bisnis monokultur, maka sejatinya kita sedang menanam bom waktu yang siap meledak setiap musim kemarau. Jangan tunggu rakyat kecil di desa-desa habis kehilangan purun dan ikan, baru semua sibuk menerbangkan helikopter water bombing yang buang-buang anggaran,” tutur Ahmad Syamsir.

Upaya memadamkan api yang telah menyusup ke dalam perut bumi gambut memang ibarat memadamkan bara dalam sekam. Ia melelahkan, mahal, dan sering kali terlambat. Begitu smoldering combustion terjadi di kedalaman tanah, penyiraman air dari udara melalui helikopter pemadam hanya mampu meredam asap di permukaan tanpa menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Oleh sebab itu, paradigmanya harus bergeser secara radikal. Penyelamatan ekosistem gambut di Ogan Komering Ilir tidak lagi bisa bertumpu pada pemadaman darurat saat bencana sudah meluas, melainkan harus diletakkan pada fondasi pencegahan dan pemulihan tata air secara konsisten.

Kedisiplinan menjaga tinggi muka air tanah di seluruh lanskap gambut, baik di kawasan konsesi korporasi maupun di lahan masyarakat, wajib dikendalikan secara ketat agar tidak pernah turun melebihi ambang batas aman 0,4 meter dari permukaan tanah. Selain itu, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur sekat kanal (canal blocking) harus dipastikan berfungsi secara nyata untuk menahan laju air hujan agar tetap menggenangi pori-pori gambut, bukan sekadar menjadi proyek seremonial laporan administratif. Pemerintah juga dituntut menerapkan penegakan hukum tanpa kompromi melalui asas pertanggungjawaban mutlak (strict liability) bagi entitas korporasi yang membiarkan konsesinya mengering dan terbakar berulang kali tanpa perlindungan ekologis yang memadai.

Merawat Titik Nadir Penyangga Kehidupan

Di luar instrumen kebijakan dan teknis hidrologi tersebut, ada pekerjaan rumah yang jauh lebih mendasar, yaitu membangun kesadaran kolektif masyarakat Sumatera Selatan bahwa gambut bukanlah lahan kosong yang tak berguna, melainkan benteng pertahanan ekologis tempat masa depan mereka digantungkan.

Menjaga kelembapan gambut di Ogan Komering Ilir bukan sekadar ikhtiar darurat menyelamatkan warga dari ancaman infeksi saluran pernapasan atau memastikan jadwal penerbangan di Palembang tidak terganggu oleh pekatnya kabut asap. Lebih dari itu, membasahi kembali dan merawat perut bumi gambut adalah panggilan moral kemanusiaan, sebuah garis pertahanan terdepan bagi Indonesia dalam menepati janji peradaban untuk menahan laju krisis iklim global yang terus mengintai dari dalam tanah.

Ketika satu demi satu bentang rawa gambut mengering dan berubah menjadi padang arang, kita tidak hanya kehilangan sumber air atau potensi ekonomi purun dan ikan lokal. Kita sedang menghapus jejak sejarah panjang adaptasi manusia Sumatera Selatan terhadap alamnya, sekaligus membiarkan generasi mendatang mewarisi tanah gersang yang rentan membara. Kesadaran untuk merawat kembali titik nadir ekosistem ini harus menjadi gerakan bersama, dimulai dari penghentian pengeringan kanal, pemulihan vegetasi asli rawa, hingga penegakan etika lingkungan yang menempatkan kelestarian alam di atas hasrat eksploitasi jangka pendek.

Catatan Redaksi :

Laporan mendalam ini disusun berdasarkan riset data ekologi Yayasan Lahan Basah, data pemantauan lingkungan lokal, serta wawancara di lapangan. Pemrosesan awal draf naskah dan struktur narasi dibantu oleh teknologi AI (Large Language Model) di bawah penyuntingan, verifikasi faktual, dan verifikasi etika jurnalistik oleh penulis/editor.