Scroll untuk baca artikel
Banner HUT Pemprov Sumsel

Humaniora

Menggeser Angka Kalender Hijriah, Firdaus Hasbullah Mengajak Pemimpin Daerah Menguji Moralitas Kebijakan

×

Menggeser Angka Kalender Hijriah, Firdaus Hasbullah Mengajak Pemimpin Daerah Menguji Moralitas Kebijakan

Sebarkan artikel ini
Menggeser Angka Kalender Hijriah, Firdaus Hasbullah Mengajak Pemimpin Daerah Menguji Moralitas Kebijakan
Wakil Ketua DPRD PALI Firdaus Hasbullah memaknai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum koreksi total tata kelola pemerintahan dan etika politik daerah. Dok. Istimewa

Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi ruang refleksi bagi penyelenggara pemerintahan di Kabupaten PALI untuk menyelaraskan pembangunan fisik dengan kematangan sosial.

PALI, NUSALY – Pergantian tahun dalam kalender Islam tidak boleh sekadar dipandang sebagai rutinitas seremoni yang miskin makna sosiologis. Di tengah dinamika pembangunan daerah yang kian kompleks, momentum transisi spiritual ini harus ditarik menjadi jangkar evaluasi kolektif bagi tata kelola pemerintahan dan pengabdian politik publik.

Hal tersebut melandasi pemikiran Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Firdaus Hasbullah, SH.,MH, menjelang memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Senin (15/6/2026).

Melalui pesan tertulis dan seruan moralnya kepada publik, politikus Partai Demokrat ini memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan keberkahan, kesehatan, serta kedamaian bagi seluruh masyarakat.

Beliau menegaskan bahwa perpindahan waktu dari tahun 1447 menuju 1448 Hijriah yang jatuh pada 16 Juni 2026 adalah ruang perenungan yang sunyi.

Sebuah jeda bagi umat manusia, terutama para pemangku kebijakan, untuk menjadikan semangat hijrah sebagai motivasi utama dalam membentuk pribadi yang lebih baik dan mengukur sejauh mana nilai kemanfaatan telah dihadirkan untuk sesama di tingkat tapak.

Firdaus memandang esensi hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis yang mekanistis.

Peristiwa agung tersebut merupakan cetak biru perubahan peradaban yang bergerak dari fase tekanan menuju harapan, dari keterbelakangan menuju keteraturan struktural, serta dari polarisasi sosial menuju persatuan yang inklusif.

Rekam jejak sejarah inilah yang dinilai sangat relevan untuk dihidupkan kembali dalam menata Kabupaten PALI.

Konversi Regulasi dan Keberpihakan Rakyat

Sebagai pimpinan parlemen daerah, Firdaus mengingatkan bahwa tantangan riil yang dihadapi masyarakat PALI saat ini sangat berlapis, mulai dari stabilitas ekonomi rumah tangga, aksesibilitas pendidikan bermutu, pemenuhan standar layanan kesehatan, hingga mitigasi kerawanan sosial.

Oleh karena itu, tafsir kemitraan atas semangat hijrah hari ini harus diwujudkan dalam bentuk keberanian melakukan pembenahan birokrasi, memperkuat solidaritas lintas sektor, dan melahirkan kebijakan anggaran yang benar-benar berpihak pada basis massa bawah.

Kabupaten PALI sebagai daerah otonomi yang terus bertumbuh membutuhkan pasokan energi kolektif yang dibangun dari fondasi optimisme.

Kelemahan mendasar dari proses pembangunan daerah sering kali terjadi ketika elite politik dan masyarakat terjebak pada perbedaan pandangan yang memecah belah, sehingga menguras energi yang seharusnya dialokasikan untuk akselerasi kesejahteraan.

Kemajuan sebuah daerah dinilai tidak akan pernah tercapai jika gotong royong dan kepedulian sosial runtuh akibat ego sektoral. Momentum 1 Muharram harus diletakkan sebagai pengingat bahwa karakter asli masyarakat PALI yang religius dan pekerja keras merupakan modal sosial terbesar yang harus dijaga oleh instrumen negara.

Pembangunan Manusia sebagai Fondasi

Lebih jauh, pria yang menyelesaikan pendidikan magister hukum ini memberikan catatan kritis mengenai arah pembangunan daerah.

Kemajuan yang sejati tidak boleh hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik atau angka-angka statistik di atas kertas. Pembangunan yang timpang tanpa diimbangi oleh penguatan moral, perbaikan akhlak, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia hanya akan melahirkan ruang hampa yang rentan memicu konflik sosial.

Melalui refleksi menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah ini, Firdaus mengajak seluruh elemen strategis, mulai dari tokoh lintas agama, organisasi kepemudaan, para pendidik, aparatur sipil negara, hingga pelaku usaha, untuk melakukan migrasi kesadaran.

Hijrah kolektif yang dimaksud adalah perpindahan dari pola pikir pesimistis menuju optimisme yang terukur, dari budaya konflik menuju kolaborasi, serta meruntuhkan kebiasaan saling menyalahkan demi membangun iklim saling menguatkan.

Bagi institusi legislatif seperti DPRD Kabupaten PALI, momentum ini menjadi alarm moral yang sangat keras bahwa amanah yang dititipkan oleh rakyat di bilik suara adalah tanggung jawab teologis yang besar. Integritas, kejujuran, dan konsistensi dalam mengawal kepentingan publik harus menjadi panglima di atas segalanya.

Politik pada akhirnya harus dikembalikan pada khitah aslinya, yakni sebagai jalan pengabdian kemanusiaan, bukan sekadar ruang sempit untuk berebut kepentingan pragmatis kekuasaan. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang