Tradisi Midang Bebuke di Kayuagung bukan sekadar parade busana, melainkan manifestasi jati diri masyarakat Morge Siwe yang telah bertahan selama empat abad. Ritual kolosal di tepian Sungai Komering ini menjadi pengikat kohesi sosial sekaligus benteng pertahanan budaya di era modern yang kian riuh.
KAYUAGUNG, NUSALY.COM — Di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, keriuhan Lebaran tidak pernah hanya tentang meja makan yang penuh dengan ketupat dan opor ayam. Di kota yang membelah aliran Sungai Komering ini, Idul Fitri adalah sebuah janji pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Ada satu momen yang selalu dinanti, di mana rindu kampung halaman bagi para perantau tidak lagi hanya terobati lewat pelukan keluarga, melainkan lewat derap langkah ribuan orang dalam arak-arakan panjang yang disebut Midang.
Pada Senin (23/3/2026) petang, suasana di jantung Kota Kayuagung terasa berbeda. Udara di sepanjang tepian sungai seolah menebal oleh antusiasme ribuan pasang mata. Dari kejauhan, suara dentuman ritmis musik tanjidor mulai memecah keheningan, menyatu dengan riuh rendah percakapan warga yang memadati trotoar hingga ke sudut-sudut dermaga tradisional.
Bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung, Midang mungkin terlihat seperti karnaval budaya pada umumnya. Namun, bagi masyarakat setempat, tradisi ini adalah cara mereka saling menyapa, mempererat hubungan emosional, sekaligus menjaga api warisan budaya yang telah hidup turun-temurun selama lebih dari 400 tahun agar tidak padam oleh angin modernitas.
Setiap tahun, tepat pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri, Kota Kayuagung berubah menjadi panggung terbuka yang megah. Sebelas kelurahan ikut ambil bagian, menjadikan jalanan kota seperti kanvas berwarna-warni yang dipenuhi langkah seirama. Midang merupakan tradisi arak-arakan khas masyarakat Kayuagung yang dilakukan dengan berjalan kaki sambil mengenakan busana adat kebesaran dan diiringi musik tradisional yang menghentak jiwa.
Dari Sembilan Dusun Menuju Kontrak Sosial
Menelusuri sejarah Midang berarti menelusuri asal-usul berdirinya Kota Kayuagung yang dikenal dengan istilah Morge Siwe atau Marga Sembilan. Istilah legendaris ini merujuk pada sembilan dusun awal yang menjadi fondasi sosiologis masyarakat Kayuagung: Dusun Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Korte, Sidekerso, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.
Meski saat ini secara administratif wilayah ini telah berkembang menjadi 11 kelurahan dengan penambahan Kelurahan Jua-jua, Cinta Raja, dan Tanjung Rancing, identitas kolektif sebagai Morge Siwe tetap menjadi ruh utama yang mengikat batin setiap warga.
Tradisi ini diperkirakan telah eksis sejak abad ke-17. Pada awalnya, Midang bukanlah sebuah festival tahunan saat Lebaran, melainkan bagian integral dari hukum adat perkawinan yang sangat sakral. Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang menjadi bagian penting dari rangkaian perkawinan mabang handak, yakni sebuah tahap krusial ketika kesepakatan menuju jenjang pernikahan telah dicapai oleh kedua belah pihak keluarga.
Pada momen mabang handak ini, calon pengantin diarak bersama barisan bujang dan gadis dari kedua keluarga untuk diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat luas. Ini bukan sekadar pamer kemewahan, melainkan sebuah penegasan hukum adat bahwa kedua mempelai telah berada dalam ikatan yang dijaga oleh aturan marga dan diakui secara sosial.
Dengan diarak keliling dusun, masyarakat menjadi saksi sahnya hubungan tersebut, sehingga tidak ada lagi keraguan sosiologis di tengah warga. Seiring berjalannya waktu, fungsi Midang bertransformasi. Ia tidak lagi hanya milik individu yang menikah, melainkan menjadi milik komunal kelurahan sebagai sarana sosialisasi dan interaksi sosial yang vital, terutama saat momen mudik Lebaran di mana seluruh lapisan masyarakat berkumpul kembali.
Antara Hajatan dan Perayaan Publik
Dalam tatanan sosial masyarakat Kayuagung, Midang secara umum terbagi menjadi dua bentuk yang berbeda secara konteks namun serupa secara estetika. Pertama adalah Midang Begorok. Bentuk ini hadir dalam skala yang lebih privat, yakni sebagai bagian dari hajatan keluarga seperti pernikahan atau khitanan. Midang Begorok menjadi simbol kehormatan bagi keluarga penyelenggara untuk menunjukkan rasa syukur mereka kepada lingkungan sekitar.
Kedua, dan yang paling masif, adalah Midang Bebuke. Inilah yang digelar saat hari raya Idul Fitri dan telah menjadi agenda rutin yang paling dikenal luas oleh masyarakat Sumatera Selatan, bahkan nasional. Penetapan Midang sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2019 menjadi pengakuan resmi negara atas keunikan tradisi ini. Di bawah terik matahari Sumatera, sebelas kelurahan seolah berlomba menunjukkan kegagahan dan keanggunan warganya melalui arak-arakan ini, menjadikan jalanan Kayuagung sebagai galeri budaya yang hidup.
Malam Ningkuk: Sekolah Kepemimpinan di Balik Layar
Kemeriahan yang terlihat di jalanan hanyalah puncak dari sebuah proses panjang yang penuh dengan nilai-nilai edukasi sosiologis. Jika Midang Bebuke adalah manifestasi visual, maka Malam Ningkuk adalah “dapur” tempat solidaritas masyarakat Kayuagung ditempa. Nilai gotong royong benar-benar diuji dalam kegiatan ini. Sebelum arak-arakan kolosal dimulai, para muda-mudi berkumpul dengan perangkat kelurahan untuk melakukan musyawarah adat yang disebut berombok.
Dalam ruang-ruang musyawarah ini, segala detail teknis diputuskan secara kolektif. Mereka berdiskusi menentukan siapa pasangan utama yang akan mewakili kelurahan, jenis busana apa yang akan dikenakan agar memiliki ciri khas dan tidak terjadi kesamaan visual dengan kelurahan tetangga, hingga bagaimana strategi menghimpun dana swadaya dari warga. Di sini, Midang berubah menjadi sebuah proyek pemberdayaan masyarakat berskala besar.
Keunikan Malam Ningkuk di Kayuagung terlihat jelas jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Selatan. Di daerah seperti Kikim Selatan (Lahat) atau Kota Sekayu (Muba), ningkuk cenderung bersifat hiburan atau lomba ketangkasan bagi muda-mudi, seperti menari dengan meletakkan gelas berisi beras di kepala.
Namun di Kayuagung, Malam Ningkuk memegang fungsi manajerial yang sangat serius bagi keberlangsungan adat. Hal ini membuktikan bahwa muda-mudi Kayuagung memiliki tingkat kepedulian, tanggung jawab, dan kedewasaan organisasi yang tinggi terhadap warisan leluhurnya. Tradisi ini secara tidak langsung menjadi laboratorium kepemimpinan bagi generasi muda Morge Siwe.
Kemilau Identitas di Tepian Komering
Daya tarik utama yang selalu dinantikan oleh ribuan pasang mata adalah kemegahan busana adat yang ditampilkan. Di sepanjang rute arak-arakan, para muda-mudi tampil dalam balutan busana adat kebesaran Kayuagung yang sarat akan makna filosofis. Kain songket yang berkilau, selendang yang menjuntai anggun, hingga hiasan kepala yang rumit menjadi simbol kuat status sosial dan identitas budaya.
Terdapat beberapa klasifikasi busana utama yang membawa cerita sejarahnya masing-masing. Mulai dari Maju Setakatan, sebuah busana yang secara tradisional digunakan pada prosesi adat pernikahan yang lebih simpel. Kemudian Maju Inti dan Bengian Inti, yang merupakan puncak dari segala busana adat Kayuagung. Pakaian pengantin lengkap dengan aksesoris dari kepala hingga kaki ini merupakan ciri khas utama yang tidak ditemukan di daerah lain.
Berbeda dengan busana Aesan Gede atau Aesan Paksangko dari Palembang yang kental dengan pengaruh Sriwijaya, busana inti Kayuagung memiliki ornamen yang sangat spesifik yang mencerminkan kekayaan budaya agraris dan sungai.
Selain itu, terdapat busana Manjou Kahwen yang menggunakan kain sepesaken, mencerminkan keanggunan seorang mempelai saat prosesi bertandang atau berkunjung antar-besan. Tak ketinggalan, busana Maju Mulah Turun 7 yang berkaitan dengan tradisi pergantian busana sebanyak tujuh kali, melambangkan kesiapan mental dalam menghadapi dinamika hidup yang beragam.
Keindahan estetika ini juga merupakan bentuk sinkretisme budaya yang sangat halus dengan nilai-nilai agama Islam. Busana yang dikenakan tetap menonjolkan nuansa sopan yang tertutup (angkinan). Di era modern ini, peserta perempuan umumnya mengenakan hijab yang diserasikan sedemikian rupa dengan baju adat (kawai) mereka, membuktikan bahwa adat dan syariat dapat berjalan beriringan tanpa harus menghilangkan esensi keindahan salah satunya.

Kehadiran Tokoh dan Visi Strategis 2026
Pelaksanaan Midang Morge Siwe pada Senin, 23 Maret 2026, terasa kian istimewa dan memiliki bobot politis-budaya yang kuat. Tradisi ini digelar di pelataran Pantai Love, sebuah destinasi ikonik di tepian Sungai Komering, dan dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan, H. Edward Candra, serta Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki.
Kehadiran para pejabat teras ini bukan sekadar protokoler, melainkan bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap pelestarian aset budaya lokal. Dalam sambutannya, Edward Candra menegaskan bahwa Midang Morge Siwe bukan lagi sekadar tradisi tahunan biasa, melainkan pilar penting warisan budaya yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” ujar Edward di hadapan ribuan warga yang antusias.
Lebih jauh, Edward mendorong agar tradisi ini tidak berhenti pada aspek seremonial, melainkan mulai dipandang sebagai aset ekonomi melalui sektor pariwisata.
“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah provinsi siap memberikan dukungan bagi pengembangan Midang menjadi atraksi wisata berskala global.
Senada dengan hal tersebut, Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menyebut Midang sebagai jantung kebanggaan masyarakat Kayuagung. Ia menyoroti bagaimana antusiasme masyarakat, baik warga lokal maupun perantau yang mudik, menjadikan kegiatan ini sebagai mesin penggerak ekonomi.
“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif. Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda,” ungkap Muchendi.
Namun, di tengah kemeriahan tersebut, Muchendi juga memberikan pesan penting mengenai stabilitas daerah. “Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan. Mudah-mudahan semarak Lebaran ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama,” pungkasnya.

Formasi Simbolis dan Makna Sungai
Pelaksanaan Midang selalu dimulai dengan langkah spiritual yang khidmat melalui pembacaan doa oleh tokoh agama setempat. Setelah doa dipanjatkan, barisan diatur dalam formasi yang sangat rapi dan simbolis. Garda terdepan dipimpin oleh pembawa tanda kelurahan dan pembawa bendera Merah Putih, sebuah perlambang bahwa adat Morge Siwe tetap berdiri tegak di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di belakang bendera, barisan anak-anak dengan busana adat melangkah kecil, melambangkan harapan akan regenerasi budaya. Disusul oleh barisan bujang dan gadis yang mengenakan busana pengantin lengkap, hingga ditutup oleh iringan musik tanjidor yang meledak-ledak suaranya, memberikan energi bagi setiap peserta untuk terus melangkah menyusuri pinggiran Sungai Komering.
Rute yang dipilih menuju Pantai Love bukan tanpa alasan filosofis. Sungai Komering adalah urat nadi kehidupan nenek moyang masyarakat Kayuagung. Dengan menyusuri sungai, mereka seolah sedang melakukan napak tilas sejarah, menghubungkan peradaban modern dengan sumber kehidupan masa lalu.
Perlawanan Terhadap Kepunahan: Sebuah Jati Diri Abadi
Keistimewaan Midang Kayuagung semakin terlihat ketika dibandingkan dengan tradisi serupa di daerah lain. Di Dusun Betung Abab (Pali), istilah midang hanya berarti silaturahmi biasa ke rumah tetangga (sanjo). Sementara di Lombok, midang memiliki arti prosesi meminang di mana laki-laki menunjukkan ketertarikannya pada perempuan. Perbedaan makna yang tajam ini menegaskan bahwa Midang Bebuke di Kayuagung adalah fenomena budaya yang unik, berdiri sendiri, dan memiliki kedalaman struktur adat yang jauh lebih kompleks.
Bagi masyarakat Kayuagung, melestarikan Midang adalah sebuah kewajiban emosional dan eksistensial. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya—mulai dari seni, solidaritas, hingga religi—telah menjadi darah daging yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian dari berbagai akademisi, termasuk dari Universitas Sriwijaya, menegaskan bahwa Midang Bebuke adalah mekanisme pertahanan budaya (cultural defense mechanism) yang memastikan identitas Morge Siwe tetap relevan di tengah kepungan budaya asing.
Kini, Midang bukan hanya milik masyarakat Kayuagung secara eksklusif. Ia telah menjadi ruang bersama, tempat orang datang dari berbagai daerah untuk melihat, merasakan, dan memahami bahwa tradisi bisa tetap hidup dan bertenaga di tengah arus perubahan zaman yang serba digital. Lebih dari sekadar perayaan, Midang adalah cara masyarakat Kayuagung merawat ingatan kolektif mereka.
Pada akhirnya, setiap jengkal langkah muda-mudi di atas aspal Kota Kayuagung setiap tahunnya adalah sebuah pernyataan keberanian. Bagi banyak orang, Midang adalah alasan utama untuk selalu pulang ke kampung halaman. Di tepian Sungai Komering, sejarah tidak hanya diingat melalui buku, tetapi dihidupkan melalui doa, kemilau busana kebesaran, dan kebersamaan yang tak terputus. Melalui Midang, marwah Morge Siwe akan tetap terjaga, abadi di tengah lintasan waktu yang kian cepat bergulir. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





