Scroll untuk baca artikel
MotoGP

Sinyal Kebangkitan Honda dan Strategi ”Simpan Kartu” di Sepang

×

Sinyal Kebangkitan Honda dan Strategi ”Simpan Kartu” di Sepang

Sebarkan artikel ini

Rekayasa besar-besaran pada sasis dan mesin RC213V membawa Joan Mir mencetak rekor waktu fantastis di hari kedua tes resmi MotoGP Sepang 2026. Di tengah dominasi Ducati yang mulai terancam, sejumlah pebalap unggulan justru memilih fokus pada simulasi jarak jauh ketimbang mengejar catatan waktu tercepat.

Sinyal Kebangkitan Honda dan Strategi ”Simpan Kartu” di Sepang
Setelah beberapa musim terpuruk dalam krisis pengembangan, pabrikan raksasa asal Jepang, Honda, memberikan sinyal peringatan keras melalui performa Joan Mir. (Dok. Istimewa)

SEPANG, NUSALY — Peta persaingan MotoGP musim 2026 mulai menunjukkan anomali yang menarik pada hari kedua tes resmi di Sirkuit Sepang, Malaysia, Rabu (4/2/2026). Setelah beberapa musim terpuruk dalam krisis pengembangan, pabrikan raksasa asal Jepang, Honda, memberikan sinyal peringatan keras melalui performa Joan Mir. Pebalap asal Spanyol tersebut menjadi sosok pertama yang meruntuhkan tembok catatan waktu 1 menit 56 detik di Sepang pada tahun ini.

Menggunakan kompon ban lunak (soft tire), Mir membukukan waktu 1 menit 56,874 detik. Catatan ini bukan sekadar angka di atas timesheet, melainkan representasi dari keberhasilan revisi radikal yang dilakukan Honda Racing Corporation (HRC). RC213V versi 2026 menunjukkan peningkatan signifikan pada kecepatan puncak (top speed) di lintasan lurus, sebuah titik lemah yang selama ini menghambat daya saing pabrikan berlogo sayap mengepak tersebut.

Kepercayaan diri Mir terlihat dari stabilitas sasis saat memasuki tikungan, menunjukkan bahwa keseimbangan antara tenaga mesin dan kelincahan motor mulai menemukan titik temu. Namun, tantangan sesungguhnya tetap berada pada konsistensi race pace saat menghadapi temperatur aspal Sepang yang ekstrem.

Eksperimen Aerodinamika dan Motor ”Hibrida”

Di belakang Honda, tim satelit Ducati, Pertamina Enduro VR46 Racing Team, menunjukkan konsistensi yang mengancam. Franco Morbidelli, yang menempati posisi kedua, tampil impresif dengan paket motor “hibrida”. Morbidelli mengombinasikan sasis versi 2024 dengan pembaruan mesin spek 2025. Hasilnya, pebalap asal Italia tersebut merasakan peningkatan stabilitas pada fase pengereman dan akselerasi keluar tikungan dibanding spek GP24 murni.

Rekan setimnya, Fabio Di Giannantonio, juga mengambil pendekatan teknis yang unik dengan menguji kombinasi aerodinamika lintas musim. Ia memadukan fairing samping spek 2026 dengan fairing depan (cupolino) spek 2025, ditambah aero scoop tambahan pada bagian spatbor depan. Eksperimen ini bertujuan untuk mencari downforce maksimal tanpa mengorbankan kelincahan motor saat melakukan transisi cepat di tikungan S-chicane Sepang.

Baca juga  Kembalinya Marc Marquez dan Sinyal Kebangkitan Mesin V4 Yamaha di Sepang

Dilema Ban dan Kalkulasi Jarak Balap

Di saat Mir dan duo VR46 mengejar waktu tercepat (time attack), sejumlah pebalap papan atas justru tampak “menyimpan kartu”. Juara dunia bertahan Pecco Bagnaia tertahan di posisi kedelapan, sementara Marc Marquez berada di posisi ke-15 dengan catatan waktu 1 menit 58,386 detik. Fokus Marquez tampaknya sepenuhnya terarah pada pengujian komponen fundamental dan adaptasi ergonomi, tanpa melakukan upaya maksimal untuk mencetak waktu satu putaran terbaik.

Kondisi ini tidak lepas dari regulasi alokasi ban yang semakin ketat tahun ini. Terdapat celah performa yang lebar antara kompon lunak dan keras. Banyak pebalap terpaksa melakukan penghematan jatah ban lunak demi simulasi balapan jarak jauh (long run) pada sore hari. Strategi ini sangat krusial; melakukan putaran dengan ban keras di pagi hari yang dingin memberikan data penting mengenai daya tahan ban yang akan digunakan pada saat balapan sesungguhnya.

Risiko di Tikungan ”Genting”

Intensitas pengujian di hari kedua juga memakan korban. Alex Marquez, runner-up dunia musim 2025, mengalami insiden lowside di Tikungan 5 (Genting). Titik ini terbukti menjadi jebakan bagi banyak pebalap karena karakteristik tikungan kiri yang memerlukan kemiringan maksimal di tengah perubahan elevasi. Meskipun tidak mengalami cedera serius, insiden ini sempat menghambat program pengujian paket GP26 miliknya.

Hasil hari kedua ini menegaskan bahwa kebangkitan Honda bukan sekadar isu di garasi. Jika HRC mampu menjaga stabilitas performa hingga hari terakhir tes pada Kamis esok, musim 2026 diprediksi tidak akan lagi menjadi dominasi satu pabrikan tunggal. Publik kini menanti, apakah catatan waktu 1 menit 56 detik milik Mir akan bertahan, ataukah para raksasa Eropa baru akan mengeluarkan taringnya pada sesi pamungkas.

Baca juga  Kejutan di Practice MotoGP Austria 2025: Marc Marquez Tercepat, Dua Honda Lolos Q2

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.